OUR NETWORK

Diplomasi, Lobi, dan Perundingan Adalah Cara Sah Merdeka

Mengapa kita tak pernah belajar, perang tak selalu membawa kemenangan?

Di masa diktator Suharto, sang Menteri Luar Negeri andalannya Ali Alatas, satu tempo pernah mengeluarkan statement tentang Timor Timur (sekarang Timor Leste) bahwa Timor Timur “seperti kerikil di dalam sepatu.” Kebayang ya nggak enaknya. Kerikil itu sangat mengganggu langkah kaki, tidak enak, bahkan bisa melukai.

Dunia diplomasi internasional sontak geger. Kata-kata itu langsung digoreng banyak pihak di dunia yang mendukung kemerdekaan Timor Timur. Dalam tafsir mereka, secara diplomatis, setidaknya buat Alatas sendiri, dia sudah “lempar handuk.” Mungkin capek, frustasi karena sulit meyakinkan dunia yang terus menerus diramaikan para aktifis dan diplomat pendukung kemerdekaan yang terus bergerak bergelombang di banyak forum dunia, selain juga tak hentinya perlawanan di dalam negeri sendiri dalam segala bentuk.


Setelah Timor Timur merdeka dan menjadi negara Timor Leste, kata-kata Alatas itu masih digoreng sebagai judul berita: “Keluar Juga Kerikil Dalam Sepatu Itu.”

Karena Alatas adalah seorang menteri luar negeri, berarti juga juragannya para diplomat Indonesia, maka ucapannya itu barang tentu harus ditafsirkan secara diplomatis pula. Dan seperti saudara kandungnya, dunia politik, dunia diplomasi tidak bisa ditafsir sehitam putih harga dua potong tempe kemul. Sekalipun para aktivis gumbira menyambut pernyataan itu, bukan juga berarti Alatas ingin menyampaikan pesan menyerah dan pasrah di hadapan Suharto dan ABRI. Bisa cilaka dia.

Jalan diplomasi tidak selurus jalan tanpa tanjakan, turunan, dan tikungan. Ia juga tidak selalu merupakan dunia di mana dua tambah dua sama dengan empat. Dunia diplomasi sering lebih seperti upacara yang samar. Sebuah pesta undangan makan malam bagi para doplomat yang penuh warna abu-abu. Sesuatu yang justeru dimensi informalnya sering dianggap penting.

Diplomasi juga sering berarti Lobby. Lobby, yang secara etimologis berasal dari kata Latin laubia dan lobia, berarti sebuah ruang masuk yang luas di dalam sebuah bangunan publik. Ia bukan ruang utama. Tapi pembicaraan-pembicaraan di ruang lobby ini, sering memberi pengaruh penting pada keputusan-keputusan yang diambil di ruang utama.

Seperti itulah dunia diplomasi dan loby bekerja. Sering lebih mengutamakan cara dan agak “melupakan” isi. Bukan juga berarti isi tidak penting. Tapi biasanya soal tujuan utama atau isi itu dikejar belakangan, setelah jalan bernegosiasi berbasis respek dan saling menghormati dibuka oleh para diplomat dan peloby.

Pujangga Robert Frost menyimpulkan dengan bagus dan jenaka dunia diplomasi. “A diplomat is a man who always remembers a woman’s birthday but never remembers her age.” Seorang diplomat adalah seorang laki-laki yang ingat hari ulang tahun seorang perempuan, tapi tak ingat berapa umur perempuan itu.

Seorang mantan petinggi Parpol besar yang baik hati dan punya komitmen dan visi kebangsaan bagus, satu kali mengumpulkan sejumlah aktivis dan terang-terangan meminta dukungan untuk pencalonannya di sebuah posisi. Permintaannya sederhana dan tidak berpotensi mencederai siapapun. Dia bilang: “saya akan buat acara di kota ini. Kalian datang, ya? Tak perlu bicara apapun. Datang saja, dan orang melihat kalian datang. Itu sudah sangat membantu saya.”

Walau motif dan tingkat syahwatnya berbeda, tapi dari segi peristiwa 11-12 lah dengan kunjungan sang pencerah Fadli Zon dan Setnov dulu ketika menemui Trump, sebelum Trump terpilih jadi presiden. Duet yang sudah pisah kamar ini, kan, kaga ngomong apa-apa di acaranya Trump. Cuma manggut-manggut dan nyengir. Yang ribut muji-muji mereka berdua dengan mulut mecucu, kan, si Donald jambul betot itu. Sohibnya Fadli dan Setnov ini pula yang mendukung pencaplokan Israel atas Jerusalem.

Dunia diplomasi di mana lobby menjadi senjata ampuh yang tak mematikan, mengandalkan kepiawaian berkomunikasi, pengetahuan dan kecerdasan. Bukan otot dan senjata mematikan. Dalam medan laga perang, kemenangan ditentukan oleh kehancuran dan kematian. Dalam diplomasi, pemenang bisa tampil tanpa musuh merasa terlalu dikalahkan.


Contoh konkrit, penyelesaian masalah Aceh lewat MOU Helsinki. Win-win solution. Aceh tetap berada di dalam Indonesia, tapi lewat kekuatan-kekuatan politik lokalnya, partai-partai nasional yang bermesin politik ampuh berpengalaman, selalu keok dalam PILKADA di Bumi Rencong ini. DOM dicabut, kekerasan berkurang drastis. Itu hasil kerja diplomasi.

Saya mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina. Tak ada keraguan pada saya. Saya percaya laporan-laporan organisasi internasional seperti Amnesty International dan badan PBB tentang kejahatan tentara-tentara Israel dalam melakukan pembunuhan orang dan anak-anak Palestina.

Saya juga percaya ada begitu banyak orang keturunan Yahudi yang mendukung kemerdekaan atau penyelesaian masalah Palestina yang seadil-adilnya. Baik di dalam negara Israel itu sendiri, ataupun di negara-negara lain di dunia, termasuk yang berada di wilayah Palestina.

Saya tidak ingin masuk ke dalam kontroversi kunjungan pak Yahya Staquf ke Israel yang sudah digoreng dipanggang sana sini itu. Dengan pikiran dan hati baik saya mendoakan semoga beliau bisa berperan, seperti diplomat/peloby, membuka jalan dialog kembali, bagi penyelesaian masalah Palestina yang seadil-adilnya. Dan yang penting juga, lewat jalur diplomasi, bisa menghentikan kebiadaban tentara-tentara Israel. Senoga upayanya bisa menjadi Intifada.

Eid Mubarrak!

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…