Senin, April 12, 2021

Dimensi Lain Agama

Anak Di Bawah Umur Bekerja, Apa Hukumnya?

Di zaman yang canggih ini, semua informasi dapat kita cari dengan hanya genggaman tangan saja. Semakin banyaknya pengguna teknologi, kini pemasaran pun ikut serta. Maraknya...

Sampah Plastik Wajib Lapor 24 Jam

Seperti di masyarakat kita, tamu wajib lapor 1 kali 24 jam, upaya tersebut sangat efektif untuk melacak keberadaan tamu yang akan singgah. Begitu juga...

Isu Komunis Berhembus di Tengah Perjuangan Warga

Isu komunisme sering digunakan berbagai persoalan, baik itu politik praktis maupun konflik agraria hingga perburuhan. Isu tersebut bagai hantu yang menakut-nakuti mayoritas masyarakat. Terkadang...

Masa Tenang dan Kampanye Terselubung

Masa tenang pemilu merupakan masa larangan kampanye, masa tenang pra-pemilu, atau masa tenang pemilu adalah larangan kampanye politik sebelum pemilihan presiden atau pemilihan umum...
Fadhel Yafiehttp://fadelisme.wordpress.com
Pemikir bebas, penulis lepas.

Salah satu peran agama adalah mengajarkan kedamaian. Pesan-pesan keagamaan seharusnya membuat penganutnya menjadi sejuk, tenang, dan positif dalam memandang hidup.

Agama juga mengabarkan keberadaan Tuhan, satu-satunya entitas yang Maha Melihat dan Maha Mendengar. Konsekuensinya, kita dapat menjadikan-Nya tempat untuk berkeluh kesah ketika tidak ada manusia yang dapat dijadikan sandaran. Itulah hakikat sebuah doa, komunikasi langsung manusia dengan Dia yang Maha Mendengar.

Saya kira, kita semua sepakat dengan agama seperti itu. Agama yang membawa kenyamanan dalam hidup. Tetapi, ada dimensi lain dalam agama yang justru menjadikan penganutnya resah.

Mengganggu kenyamanan, gelisah, dan mempertanyakan berbagai aspek dalam kehidupan. Para ahli menamakan dimensi dalam beragama ini sebagai “religious quest”, yakni kemampuan seseorang melibatkan keterbukaan, dialog responsif dengan pertanyaan eksistensial (Batson & Schoenrade, 1991).

Religious quest merupakan sebuah keyakinan bahwa agama adalah sebuah misi atau perjalanan. Orang-orang yang mengamini dimensi ini, akan cenderung kritis terhadap agamanya sendiri. Misal: Apakah agama saya benar? Apakah Tuhan itu ada? Apakah agama lain pasti masuk neraka? Dan lain sebagainya. Kegelisahan religius dianggap sebagai ujian untuk memperkuat keimanan.

Di tengah masyarakat yang belum terlalu sejahtera, dimensi agama yang banyak disukai adalah yang model pertama. Hidup ini sudah berat, mosok ber-agama malah bikin tambah berat? Agama harus datang sebagai solusi untuk memberikan kenyamanan bagi penganutnya. Inilah agama pada umumnya. Tidak perlu ribet-ribet berpikir njlimet untuk memahami agama.

Keraguan harus dibuang sejauh mungkin. Jauh dari ajaran agama akan membuat kehidupan makin berat! Kurang lebih begitulah pemahamannya. Persis seperti respon sebagian kalangan ketika orang Islam dikalahkan Mongol di abad ke-13 dan ditakhlukkan Eropa pada akhir abad ke-18. Selain banyak masalah, kekalahan peradaban akan membuat masyarakat cenderung menyukai dimensi agama model pertama.

Perlu diakui, Indonesia adalah negara yang belum sejahtera. Dalam studi yang dilakukan The Legatum Prosperity Index tentang kesejahteraan negara-negara tahun 2017Indonesia menempati peringkat ke-59 dari 149 negara. Di luar angka kesejahteraan, masih banyak masalah sehari-hari yang menimpa orang Indonesia. Oleh karena itu, tidak heran jika kebanyakan tokoh agama adalah mereka yang memberikan pesan keagamaan yang nyaman.

Tidak ada yang salah dari dimensi agama yang membuat nyaman. Menjadi berbahaya adalah ketika kita terjebak dalam kenyamanan itu, sehingga membuat sesuatu yang mengusik dianggap sebagai musuh. Dalam taraf yang ekstrem, filsafat dan sains bisa diharamkan. Kalau sudah di taraf ini, kita sudah terlena dengan kenyamanan itu. Kita di-ninabobok-an oleh agama.

Ketika masyarakat sudah mencapai angka kesejahteraan yang tinggi atau hidup dengan cukup nyaman, dimensi agama yang lebih disukai adalah religious quest. Di mana agama memberikan tantangan-tantangan untuk menjawab pertanyaan eksistensial. Mereka tidak lagi mencari agama untuk kenyamanan, sebab kehidupan sudah cukup memberikan kenyamanan.

Perlu dicatat, religious quest tidak terikat pada agama formal apapun. Ia adalah sebuah kegelisahan yang timbul dari pencarian akan makna spiritual. Bahkan, Batson, Denton dan Vollmecke (2008) dalam Journal for the Scientific Study of Religion mengatakan bahwa religious quest mirip dengan agnotisisme (baca: pandangan yang mengatakan bahwa Tuhan tidak dapat diketahui melalui agama atau apapun).

Masih mengacu pada studi The Legatum Prosperity Indexnegara-negara dengan angka kesejahteraan yang tinggi tidak lagi terjebak pada formalisme agama yang menawarkan kenyamanan. Malahan, orang-orang di negara-negara sejahtera mulai menjauhi agama. Atau kalau pun masih beragama, hanya identitasnya saja. Islam KTP lah bahasanya di sini.

Peringkat pertama adalah Norwegia, 71,5% warganya menganut agama Kristen, tetapi rata-rata hanya 3% yang secara rutin datang ke gereja tiap minggu. Peringkat kedua adalah Selandia Baru, 48% warganya menganut agama Kristen, tetapi yang secara rutin datang ke gereja seminggu sekali tidak sampai 15%. Bahkan, 41,9% warga Selandia Baru mengaku tidak beragama.

Peringkat ketiga adalah Finlandia, 71% warganya menganut agama Kristen, tetapi hanya 2% yang mengaku rutin beribadah ke gereja setiap minggu. Terdapat kurang lebih 22% warga Finlandia yang mengaku tidak beragama.

Terlalu sederhana memang jika hanya menggunakan angka-angka statistik kesejahteraan. Pasti terdapat banyak sekali faktor yang mempengaruhi corak keberagamaan seseorang. Tapi, untuk tujuan rata-rata, saya kira angka kesejahteraan dapat memberikan gambaran yang cukup baik.

Mengapa hanya sedikit warga yang beribadah secara rutin di negara-negara sejahtera? Mengapa makin banyak orang yang tidak beragama di sana? Hal ini disebabkan oleh konservatisme agama yang tidak dapat mengikuti zaman. Belum lagi ayat-ayat agama yang banyak bertentangan dengan realita. Orang-orang yang tinggal di negara sejahtera memiliki tingkat keterbukaan pikiran yang tinggi. Jika sesuatu dianggap tidak masuk akal, maka hal itu akan ditinggalkan.

Di negara berkembang seperti di Indonesia, kalau ada realita yang bertentangan dengan ayat agama, maka realitanya yang ditolak. Inilah terkadang yang membuat negara-negara berkembang sulit maju. Banyak dari mereka yang menolak realitas. Tentunya, tidak semua orang Indonesia yang seperti itu. Masih ada beberapa orang yang berpikiran cukup terbuka, meski tidak banyak.

Jika agama tidak mau ditinggalkan, tokoh-tokoh agama harus mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Ia harus menawarkan narasi-narasi segar yang mampu mendorong manusia menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial khas religious quest. Tidak melulu menawarkan kenyamanan yang tidak relevan dengan zaman. Ia harus membuat para penganutnya semakin melihat realitas dengan lebih jernih.

Referensi:

Batson, D., & Schoenrade, P. A. (1991). Measuring religion as quest. Reliability concerns. Journal for the scientific study of religion, 430-447.

Batson, D., Denton, D. M., & Vollmecke , J. T. (2008). Quest religion, antifundamentalism, and limited versus universal compassion. Journal for the scientific study of religion, 47(1), 135-145.

http://www.prosperity.com/rankings?pinned=&filter=

https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Norway

https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_New_Zealand

https://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_Finland

Fadhel Yafiehttp://fadelisme.wordpress.com
Pemikir bebas, penulis lepas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.