OUR NETWORK

Dimanakah Pancasila Saat Ini?

Pancasila seperti tersandar di sebuah Lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Begitulah secuil kutipan dari pidato Presiden Ketiga Republik Indonesia, Bapak Baharuddin Jusuf Habibie pada tanggal 1 Juni 2011 yang tercantum dalam Buku Pengantar Pendidikan Pancasila dari Ristekdikti. Tidak hanya kalimat tersebut yang mencuri perhatian tetapi beliau kemudian menambahkan,

“Pancasila seolah-olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang tak lagi relevan untuk disertakan dalam dialektika reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa. Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan.

Pancasila seperti tersandar di sebuah Lorong sunyi justru di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan demokrasi dan kebebasan berpolitik.

Pada kenyataannya kehilangan sosok Pancasila telah dirasakan sebagian besar Bangsa Indonesia, bukan hanya Eyang Habibie saja. Dan bahkan dalam buku tersebut tokoh besar lainnya seperti Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pun beranggapan sama.

Menurut Kacamata Mahasiswa

Melihat pernyataan para tokoh nasional mendorong saya untuk melakukan diskusi kecil dengan seorang teman yang notabennya adalah Ex-Presbem. Pertanyaannya adalah “Dimanakah Pancasila Saat ini?”,

Seketika dia tersenyum, kemudian menjelaskan dengan gaya seorang Ex-Presbemnya. Penjelasan yang dipaparkan panjang lebar tetapi terdapat beberapa point yang saya garis bawahi.

Dia mengatakan bahwa Pancasila saat ini tengah diambang batas. Dia menjelaskan pula mengenai adanya isu-isu yang beberapa bulan ini terjadi dan menyita perhatian publik adalah salah satu dampak dari hilangnya Pancasila dari setiap hati warga negara.

Melihat jawaban tersebut mengingatkan saya dengan sebuah kalimat,“Pancasila itu ada ketika kita menghidupinya”

Artinya adalah bukan Pancasila ada lantas mewarnai hidup kita, sedangkan kita pasif-pasif saja. Bukan seperti itu, dia hadir ke dalam hidup ruh warga negara Indonesia ketika mereka dengan aktif menghadirkannya.

Karena pendapat teman saya yang demikian pula, saya tertarik untuk melakukan survei ke beberapa teman mahasiswa yang tergolong dalam kelompok umur 20-25 tahun. Ada beberapa pertanyaan yang saya ajukan yang intinya mengukur tingkat pemahaman responden dan bagaimana mereka mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kesehariannya.

Setelah surevi dilakukan ternyata tingkat pemahaman responden cukup tinggi yaitu dikisaran angka 8 dari nilai maksimum yaitu 10. Ini membuktikan bahwa memang kalangan muda saat ini masih tahu dan paham akan nilai-nilai Pancasila.

Tetapi untuk pengaplikasiannya, responden mayoritas menjawab kurang dalam penerapannya. Padahal kalau dilihat kembali, usia dari responden tergolong muda yang pasti nantinya mereka lah yang akan menggantikan para pejabat negara yang tengah duduk di kursi pemerintahan.

Dari survei tersebut dapat disimpulkan bahwa sebenarnya setiap pribadi kita tahu bahwa Pancasila itu ada tetapi hanya sekadar “ada” saja. Kalau boleh diibaratkan, dia seperti Lagu Band Utopia “Antara Ada dan Tiada”. Ada sebagai dasar negara tetapi Tiada dipakai menyeluruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila yang Sebenarnya

Pancasila ada sejatinya bukan sekadar “suatu paragraf” yang tercantum di pembukaan UUD 1945, bukan hanya ada dalam setiap upacara bendera yang dibacakan oleh Pembina Upacara, dan bukan pula sekadar ada pada gambar perisai di dalam dada burung garuda. Pancasila lebih dari itu semua, Pancasila ada di dalam ruh Bangsa Indonesia.

Kita perlu melihat lebih jauh, kembali ke masa awal-awal sebelum kemerdekaan. Asal dari Pancasila mengandung makna filosofis sekali dalam penyusunannya.

Sebagai mana Bung Karno telah menjelaskan bahwa Pancasila itu digali dari masyarakat Indonesia itu sendiri seperti asal dari jumlah sila mengacu pada jumlah Pandawa Lima, Rukun Islam, serta Panca Indera.

Sehingga dengan adanya Pancasila yang lahir dan digali dari Bangsa Indonesia itu sendiri, The Founding Fathers berharap bahwa tantangan masa depan untuk Bangsa Indonesia bisa diselesaikan dengan hanya menengok kembali nilai-nilai Pancasila itu sediri. Singkatnya, Pancasila itu “cukup” buat kita –Bangsa Indonesia–

Dan apabila saya yang ditanya, ”Dimanakah Pancasila saat ini?” Saya akan menjawab bahwa Pancasila tidak pernah hilang dari kami –Bangsa Indonesia– Dia melekat, menemani, dan mengiringi perjalanan bangsa ini.

Pengesahan Pancasila oleh Ir. Soekarno hanya lah sebuah simbolis, tetapi hakikatnya Pancasila telah ada dari dulu –sebelum disahkan– hingga nanti ketika Negara Indonesia hanya tinggal nama, karena pada dasarnya semua manusia yang disebuat Warga Negara Indonesia pasti lah mereka yang di dalam hati nya terdapat Jiwa Pancasila.

Pesan lain dari Eyang Habibie, “Pengaitan Pancasila dengan sebuah rezim pemerintahan tertentu, menurut saya, merupakan kesalahan mendasar. Pancasila bukan milik sebuah era atau ornamen kekuasaan pemerintah pada masa tertentu. Pancasila juga bukan representasi sekelompok orang, golongan atau orde tertentu.

Pancasila adalah dasar negara yang akan menjadi pilar penyangga bangunan arsitektural yang bernama Indonesia. Sepanjang Indonesia masih ada, Pancasila akan menyertai perjalanannya.

Rezim pemerintahan akan berganti setiap waktu dan akan pergi menjadi masa lalu, akan tetapi dasar negara akan tetap ada dan tak akan menyertai kepergian sebuah era pemerintahan!”

Lantas jika Anda yang ditanya “Dimanakah Pancasila saat ini?” Apa jawaban Anda?

Moslem. Long-life learner. Mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. D3K PLN-PENS

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…