OUR NETWORK

Dilematis Revolusi Industri 4.0

Seiring berjalannya waktu, kebaruan itu menimbulkan istilah yang disebut dengan revolusi industri 4.0.

Yang abadi dalam kehidupan manusia adalah perubahan. Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang selalu mengubah dirinya untuk menyesuaikan dengan keadaan yang baru.

Selain beradaptasi dengan keadaan yang baru, tetapi juga manusia merupakan mahluk yang bisa menciptakan sesuatu yang baru, jadi kehidupan manusia selalu tidak pernah terpisahkan dari hal-hal yang baru.

Bahkan kini, karena seringnya manusia berkomunikasi dengan sesama, maka kebaruan seolah tidak bisa dibendung lagi, karena kebaruan terkadang hadir begitu saja tanpa direncanakan.

Sehingga pada akhirnya hal baru yang diciptakan oleh manusia membangun sebuah peradaban yang membuat manusia selalu aktif dalam berkomunikasi dan bertransaksi secara virtual.

Misalnya saja dahulu, jika kita ingin membeli sesuatu, lalu kita pasti membelinya di pusat perbelanjaan, tetapi pada saat ini jika ingin membeli sesuatu yang kita inginkan tidak perlu menuju ke pusat perbelanjaan, karena kita bisa membelinya melalui handphone yang kita miliki.

Seiring berjalannya waktu, kebaruan itu menimbulkan istilah yang disebut dengan revolusi industri 4.0. Istilah Revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Klaus Schwab, ekonom terkenal asal Jerman, pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF).

Schwab menjelaskan bahwa revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental. Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah.

Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat dari perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke -18. Kini manusia mau tidak mau, siap atau tidak siap, harus bisa menghadapi dan mempunyai keahlian untuk beradaptasi dengan revolusi industri 4.0 tersebut.

Tetapi nahasnya kini dilematis dalam sosialisasi revolusi industri 4.0 masih terjadi di negeri kita. Karena disatu sisi dengan adanya revolusi tersebut tentunya akan membuat Indonesia menjadi negara yang maju, namun disisi lainnya ternyata keadaan masyarakat masih belum siap dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Jangan Hanya Bermodal Retorika

Selain fokus melakukan sosialisasi mengenai pentingnya revolusi industri 4.0 untuk diterapkan di Indonesia, tetapi disisi lainnya juga pemerintah harus memperhatikan semua keadaan yang terjadi pada saat ini. Misalnya pemerintah harus mengetahui siapa saja masyarakat yang akan terlibat dalam revolusi tersebut.

Jika beberapa Desa di berbagai peloksok di Indonesia juga ikut dilibatkan, maka pemerintah juga harus memperhatikan apakah masyarakat yang berada pada Desa tersebut akan benar-benar mampu untuk mengikuti revolusi industri 4.0. Tetapi pada kenyataanya pelaksanaan tersebut tidak semudah yang dibayangkan, karena beberapa Desa di Indonesia masih mengalami persoalan yang semakin pelik.

Misalnya persoalan mengenai gizi buruk yang masih menghantui Indonesia, yang di mana menurut data statistik dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan Kementerian Kesehatan pada tahun 2016, status gizi pada indeks BB/U pada balita 0-59 bulan di Indonesia, menunjukkan persentase gizi buruk sebesar 3,4%, gizi kurang sebesar 14,4% dan gizi lebih sebesar 1,5%.

Sedangkan provinsi dengan gizi buruk dan kurang tertinggi pada usia tersebut adalah Nusa Tenggara Timur (28,2%) dan terendah Sulawesi Utara (7,2%). Kemudian, hasil pengukuran status gizi PSG 2016 dengan indeks BB/U pada balita 0-23 bulan di Indonesia, menunjukkan persentase gizi buruk sebesar 3,1%, gizi kurang sebesar 11,8% dan gizi lebih sebesar 1,5%. Sedangkan provinsi dengan gizi buruk dan kurang tertinggi tahun 2016 pada usia tersebut adalah Kalimantan Barat (24,5%) dan terendah Sulawesi Utara (5,7%).

Lalu, jika balita saja masih mengalami gizi buruk, apakah orang tua dari balita tersebut akan memikirkan mengenai revolusi industri 4.0? Dan apakah ketika balita tersebut sudah beranjak dewasa akan mengerti mengenai revolusi industri 4.0? Tentu tidak semudah itu prosesnya.

Tetapi nahasnya pemerintah pada saat ini sering kali menghiraukan persoalan tersebut, karena pemerintah selalu terpaku dengan retorika praktis tanpa memperdulikan persoalan pelik yang sampai saat ini masih dipelihara oleh Indonesia. Jadi tentunya jika ingin melakukan revolusi industri 4.0, jangan hanya bermodal retorika saja, tetapi juga harus mengutamakan kepedulian dan keseriusan untuk menangani masalah yang selama ini tidak kunjung terselesaikan dengan baik.

Bukan Obat Mujarab

Memang kini revolusi industri 4.0 seolah menjadi obat mujarab yang akan menyelesaikan segala penyakit yang ada di Indonesia. Tetapi pada kenyataanya Indonesia seolah terburu-buru dalam menanggapi revolusi tersebut, dan seolah negeri ini menjadi negeri yang takut tenggelam dari persaingan global.

Pada dasarnya memang untuk mengarungi persaingan global perlu kesiapan seluruh masyarakatnya untuk dilibatkan dalam revolusi industri 4.0. Tetapi masyarakat Indonesia masih belum siap dalam menghadapi revolusi tersebut, karena memang intelektual dari masyarakat kita masih belum mampu untuk mencerna intisari dari revolusi industri tersebut.

Menurut laporan Bank Dunia pada Juni tahun 2018, terdapat 55,4% orang Indonesia yang telah menyelesaikan pendidikan dianggap buta huruf secara fungsional karena bisa membaca namun tidak mengerti maknanya. Lalu, jika beberapa masyarakat masih buta huruf apakah bisa mengikuti revolusi industri 4.0?

Jadi sebenarnya jika revolusi industri menjadi obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit yang ada di Indonesia, maka hal tersebut merupakan langkah yang tidak tepat. Karena membenahi persoalan di Indonesia bukan dengan revolusi industri 4.0, tetapi dengan kebijakan politik yang humanis.

Maka dari itu, dilematis revolusi industri 4.0 akan terus menemukan jalan yang buntu, karena apalah artinya revolusi industri 4.0 jika permasalahan gizi buruk dan buta huruf masih menjadi permasalahan utama dari negara ini. Maka dari itu, sebelum mendeklarasikan revolusi industri 4.0, sebaiknya pemerintah harus memperhatikan terlebih dahulu, apakah seluruh masyarakat Indonesia sudah benar-benar siap atau belum siap sama sekali.

Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…