in

Dilematis Mawar dan Benalu


Ilham Akbar Habibie, sebuah nama yang membuat orang tidak ragu lagi bahwa yang bersangkutan memiliki ikatan darah dengan mantan presiden Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. Bang Ilham merupakan teknokrat muda yang terus berusaha mewujudkan mimpi-mimpi sang ayah, yaitu membuat pesawat terbang. Saya sudah sering melihat, mendengar, dan membaca hal-hal yang berkaitan dengan Vice Chairman PT. Regio Aviasi Industri ini. Baru-baru ini, dalam suatu talkshow yang membahas mengenai prospek industri penerbangan di Indonesia, Bang Ilham memberikan pernyataan yang menggelitik bagi saya – industri penerbangan nasional bisa maju jika kita bisa meningkatkan dan mempertahankan sumber daya manusia yang kita miliki – pernyataan yang terkesan normatif, tetapi karena keluar dari seseorang yang mengerti “luar-dalam” industri tersebut, tentu ini merupakan pernyataan dengan dasar empiris yang kuat. Beliau mengingatkan supaya kita tidak mengulangi peristiwa yang pernah menimpa PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI).

Krisis moneter yang menimpa Indonesia telah menyebabkan kondisi perekonomian berada dalam status darurat. Ishak Rafick, seorang wartawan senior, mengibaratkan Indonesia saat itu sebagai orang yang habis mengalami kecelakaan lalulintas dan patah tulang kaki, dipaksa ikut lomba lari maraton. Orang nekat itu mungkin saja sampai ke garis finis, tetapi dalam keadaan payah atau bahkan digotong. Krisis ini tentu saja berimbas ke segala sektor, khususnya sektor-sektor padat modal, tidak terkecuali PT. DI. Akhirnya, tidak ada modal bagi PT. DI untuk melanjutkan proyek yang telah dirintis. Alhasil, beberapa ahli pesawat terbang PT. DI ini pun eksodus ke luar negeri, ada yang bekerja di Boeing dan Airbus, perusahaan pesawat terbang kelas internasional. Ironis memang, di satu sisi para ahli ini merupakan aset berharga untuk meningkatkan martabat bangsa, tetapi bangsa ini masih terlalu ringkih untuk memeluk mereka, bahkan negara ini belum kuat benar menopang dirinya sendiri.

Baca Juga :   Nusron Wahid, Sebabkan Kegaduhan Golkar Jabar?

Untuk masalah di atas, kita bisa saja berkilah adanya kekuatan eksternal yang memaksa hal tersebut terjadi, yaitu krisis global yang juga menerpa Indonesia. Mari kita lihat contoh lain, saya masih menyimpan beberapa file surat kabar yang memuat berita mengenai Dahlan Iskan yang terjerat (baca: dijerat) berbagai kasus, sehingga membuatnya harus bolak-balik ke kejaksaan. Kasus pertamanya adalah terkait mobil listrik yang diduga merugikan negara senilai Rp 32 miliar. Kasus ini juga menyeret Dasep Ahmadi, seorang teknopreneur yang sudah dengan rela dan ikhlas bertungkus lumus ingin membanggakan Indonesia di mata internasional. Kasus lain yang menimpa Dahlan terkait pelepasan aset BUMD Jawa Timur. Walaupun Dahlan bisa lolos dari semua kasus tersebut, kesan yang muncul kemudian adalah kuatnya nafsu untuk memperkarakan Dahlan. Mengapa Dahlan? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, silahkan pembaca menggali literatur dan mensintesis sendiri.


Kasus Dahlan adalah perkara politik, mungkin ada diantara pembaca merasa itu merupakan konsekuensi bagi orang-orang yang menjatuhkan pilihan pada kancah perpolitikan. Mari kita lihat contoh yang jauh dari perkara politik, Ken Kawan Soetanto, orang Indonesia yang sukses berkiprah di luar negeri dalam bidang akademik. Beliau sudah mendapatkan paten untuk 31 penemuannya di bidang interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi. Beliau juga meraih gelar profesor dan empat gelar doktor dari empat universitas berbeda di Jepang. Ironisnya, Soetanto pernah merasa terbuang di Indonesia. Ketika terjadi pergolakan politik menentang komunisme pada tahun 1965, hak Soetanto untuk mendapatkan pendidikan terampas. Beliau hanya menyelesaikan pendidikannya sampai kelas 1 SMA, kemudian dia bekerja mereparasi elektronik guna mengumpulkan biaya untuk berangkat ke Jepang tahun pada tahun 1974.

Baca Juga :   'Medan Perang'

Orang-orang terbungkam (meminjam istilah Albert Camus) seperti dijelaskan di atas tidak hanya ditemui pada masa Indonesia merdeka. Kalau ditelisik dari sisi sejarah, khususnya pada masa perjuangan, terdapat beberapa nama yang hingga sekarang masih agak rawan untuk diteroka, dianggap berhaluan kiri dan subversif, sebut saja Tan Malaka, Syafruddin Prawiranegara, serta Eksil eropa timur. Untuk dua nama yang disebutkan di awal, membuktikan bagaimana propaganda telah mengaburkan catatan sejarah anak bangsa yang rela berkorban jiwa dan raga demi tanah air. Sementara untuk Eksil, Sejarawan Bonnie Triyana menyebut mereka sebagai “eksil-eksil yang dibui tanpa jeruji” mereka tidak bisa melakukan sesuatu sebebas manusia lainnya. Mereka menjadi tumbal preferensi individu yang memiliki kuasa.

Situasi kita hari ini, jauh dari cita-cita para pendiri bangsa. Begitu banyak orang-orang nihil kapasitas yang berlagak mampu, kemaruk kekuasaan. Situasi ini semakin diperparah dengan buruknya mental mereka, khususnya kesukaan terhadap korupsi, sebagaimana pernah disampaikan oleh T. Jacob, Guru Besar Antropologi Universitas Gajah Mada, bahwa kekacauan politik yang disertai dengan tiadanya kepastian hukum, berikut penegakannya yang tidak tegak-tegak juga, membuat para pencuri (kleptokrat) bergentayangan di segala lapisan lini kehidupan, menjadi suatu tragedi yang beliau sebut “Tragedi Negara Kesatuan Kleptokratis”. Contoh kasus teranyar yang relevan adalah banyaknya pimpinan daerah yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Intinya, wewenang yang dimiliki telah disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, menegasikan rakyat, yang telah dengan rela dan ikhlas memilih mereka. Tulisan ini tidaklah memiliki tendensi untuk membuka aib pemimpin korup, karena itu adalah pekerjaan yang sia-sia “menjelaskan sesuatu yang sesudah jelas”. Oknum-oknum tersebut merupakan benalu bagi bangsa ini, benalu yang sampai saat ini sangat sulit dibabat, baik secara normatif maupun secara  politis.

Baca Juga :   Moderatisme (Kebangsaan) : Satu-satunya Pilihan

Inilah keadaan dimana “orang baik dibungkam, sementara orang jahat dibiarkan, bahkan diberi kekuasaan”. Saya sangat yakin dan sangat percaya, masih banyak generasi kita yang mencintai bangsa ini. Bangsa yang besar, dengan segala potensi dan tantangannya, jika berada di tangan-tangan yang tepat, kelak akan berdiri sejajar dengan negara-negara yang selama ini diam-diam tidak menginginkan kita berkembang dan maju. Sudah saatnya kita membuktikan yang bekerja nyata harus lebih dihargai dibanding penggembira. Tetapi, optimisme ini masih saja diakhiri tanda tanya “Akankah orang-orang hebat yang ingin mengharumkan nama bangsa seharum mawar terus dibungkam oleh para benalu-benalu yang liar? Kita lihat saja”


Written by Mohd. Yunus

Calon peneliti yang meminati sejarah, politik, dan ekologi

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR