OUR NETWORK

Didi Kempot dan Sepenggal Perjalanan Hidupku

Pada saat resepsi pernikahan saya di Solok, Sumbar, tahun 2005, saya sempat menyanyikan lagu “Cucak Rowo”-nya Didi Kempot. Mungkin saat itu, yang ngerti makna liriknya hanya Bapak mertua saya

Sudah lewat tengah malam, tapi mata ini belum juga mengantuk. Akhirnya saya putuskan untuk menulis tentang Didi Kempot saja. Walaupun saya bukan Sobat Ambyar yang terdaftar secara resmi, akan tetapi, suara Didi Kempot dan lagu-lagunya adalah hal-hal yang mewarnai masa-masa kuliah saya di UGM dulu.

Saya masih ingat sekali, sewaktu menonton konser live Didi Kempot dulu di sekitaran Bunderan UGM, kalau tidak salah di penghujung tahun 2002, bersama dua orang teman “penunggu kampus Filsafat UGM”. Konser yang disponsori salah satu brand gudeg yang ternama di Yogya itu, berlangsung meriah, dan semakin membangkitkan rasa ambyar di hati, yang memang sering patah ini.

Boleh dikata, Didi Kempot adalah salah satu penyanyi yang pernah saya nonton konser live-nya. Penyanyi lain yang juga pernah saya nonton konsernya, adalah Zalmon, yang juga menyanyikan lagu-lagu patah hati, tapi dalam bahasa Minang. Hanya saja, mungkin popularitas Zalmon tidaklah seluas Didi Kempot, yang ternyata juga terkenal di berbagai negara luar negeri, seperti Suriname, Belanda, dan Jerman.

Setelah pindah dan bekerja ke Jakarta, saya tetap mendengarkan lagu-lagu patah hati Didi Kempot. Hidup di Jakarta yang memang tidak mudah, dan terkadang membuat ambyar perasaan, sepertinya cocok sekali dengan lagu-lagu itu.

Pada saat resepsi pernikahan saya di Solok, Sumbar, tahun 2005, saya sempat menyanyikan lagu “Cucak Rowo”-nya Didi Kempot. Mungkin saat itu, yang ngerti makna liriknya hanya Bapak mertua saya, dan keluarga, yang ikut ke Solok, menghadiri resepsi pernikahan kami. Beliau saat itu tertawa lebar, mungkin karena lirik lagu Cuca Rowo yang “lucu” itu.

“Sewu Kuto”, “Tanjung Mas Ninggal Janji”, “Stasiun Balapan”, adalah lagu-lagu penuh kenangan yang selalu saya dengar ketika duduk di dalam bus, baik dalam kota Yogya, maupun antar kota di Pulau Jawa. Para pengamen, adalah orang-orang yang membawakan lagu-lagu itu dengan suara dan gaya mereka, yang selalu bisa menghibur dan memeriahkan suasana di dalam bus.

Dari tahun ke tahun, saya tak pernah melupakan lagu-lagu Didi Kempot, walaupun sudah tidak hidup di Pulau Jawa lagi dan lagu lagu Beliau sudah tidak lagi menghiasi layar televisi. Lagu “Layang Kangen”, adalah lagu yang selalu saya dengar, ketika harus kerja di Batam, terpisah dari anak dan istri saya, yang tinggal di Yogyakarta.

Baru akhir-akhir ini, karena jarang nonton televisi, saya diceritai istri, bahwa sekarang anak-anak muda dan remaja, banyak sekali yang menggemari lagu-lagu Didi Kempot. Hal yang membuat saya penasaran, dan kemudian ikut menonton konser Beliau di salah satu stasiun televisi, bersama istri tercinta. Ternyata, memang lagu-lagu Didi Kempot dinyanyikan secara bersama-sama dan penuh penghayatan oleh kaum muda yang menonton konser beliau. Banyak yang menangis, dan rata-rata hapal lirik lagunya di luar kepala.

Saya jadi tak habis pikir waktu itu, apa yang membuat anak-anak muda ini suka lagu-lagu Didi Kempot? Apakah karena hidup yang semakin ambyar, sehingga banyak yang patah hati, atau bagaimana? Lama saya tak bersua jawabannya. Baru ketika menonton wawancara beliau dalam acara talkshow  pada salah satu stasiun televisi, terungkaplah, bahwa Didi Kempot juga awalnya heran melihat fenomena ini.

Didi Kempot saat itu menyatakan bahwa, popularitas Beliau yang luas, seperti sekarang ini, adalah berkat jasa para mahasiswa dan kaum intelektual, yang menggemari  lagu-lagu Beliau. Mereka pula lah memberikan julukan “Godfather of Broken Heart”, pada Beliau.

Terakhir, konser tunggal beliau yang penuh kenangan, adalah” Konser Amal dari Rumah”, yang diselenggarakan Kompas TV, atas inisiatif Didi Kempot, untuk orang-orang yang terdampak virus Corona, atau Covid 19. Hal yang bagi saya merupakan sesuatu yang luar biasa, dan jarang sekali penyanyi yang bisa seperti ini. Dana yang terkumpul, sekitar7,6 Milyar rupiah, adalah mungkin suatu hal yang sangat sulit disamai penyanyi lainnya, saat ini.

Akhir-akhir ini, karena lebih banyak di rumah, akibat WFH (Work from Home), saya terus terang lumayan banyak menghabiskan waktu menonton konser dan wawancara Didi Kempot lewat Youtube. A

da salah satu video yang cukup menarik, yaitu wawancara Didi Kempot dengan  seorang Penyiar TV Garuda Suriname, yang bernama Tante Ann. Dalam video itu, si penyiar berbicara dalam tiga bahasa, bahasa Jawa, Belanda, dan sedikit Indonesia. Setelah memutari kota Solo, dan mengunjungi wilayah Keprabon, yang merupakan tempat ngamen Didi Kempot dulu, barulah beliau berhasil menemui dan mewawancarai Didi Kempot di sebuah hotel.

Dalam wawancara itu, terungkaplah masa lalu Didi Kempot, yaitu bagaimana Beliau, yang awalnya hidup sebagai pengamen jalanan di berbagai kota, dari Surakarta, Yogyakarta, sampai Jakarta.

Akan tetapi, karena filsafat hidup beliau, yaitu “rekoso iki mesti ono wates e” (penderitaan itu pasti ada batasnya), beliau tetap berkarya menulis dan menciptakan lagu, berdasarkan pengalaman hidupnya yang memang tidak mudah dan penuh kisah patah hati. Didi kempot juga menceritakan, bagaimana album pertama beliau, dibeli oleh para turis keturunan Jawa dari Suriname.

Mereka pulalah yang memberi tahu Didi Kempot, bahwa lagunya yang berjudul “Cidro”, popular sekali di Suriname. Hal yang membuat Didi Kempot bisa menggelar konser di Suriname, yang dihadiri banyak orang, khususnya orang-orang Suriname, keturunan Jawa.

Beliau juga mengungkapkan secara filosofis rasa kagumnya terhadap orang-orang Jawa di Suriname, dengan kalimat “pancen wong Jowo ki neng ndi wae ditresnani wong akeh mergo gelem nyambut gawe, ora wedi rekoso” (Pasti orang Jawa di manapun berada, dicintai banyak orang, karena mau kerja, dan tidak takut menderita).  Beliau juga berpesan, di akhir wawancara terhadap kaum muda keturunan Jawa di Suriname, yaitu supaya jangan melupakan asal-usul mereka, budaya, dan prinsip-prinsip moral Jawa, seperti semangat juang, tak takut menderita, atau “wani rekoso”.

Filsafat hidup Didi Kempot inilah yang saya jadikan pengangan, khususnya dalam menjalani hidup yang tidak mudah, akibat pandemi Corona ini, terutama pandangan bahwa “rekoso iki ono wates e”. Akhir kata, terimakasih Pakdhe Didi Kempot, atas semuanya, suaramu, lirik-lirik lagumu, kesederhanaanmu, prinsip-prinsip filsafatmu, tak akan saya lupakan. Selamat jalan Pakdhe Didi Kempot, semoga Tuhan menganugerahkan surganya untukmu, amin.

Alumni Filsafat Universitas Gadjah Mada, gelar Sarjana Filsafat diraihnya pada tahun 2005. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan studi pada program pascasarjana di kampus yang sama. Ia sempat menjadi pengajar di Sekolah Dasar dan Menengah internasional di Jakarta, pada tahun 2005-2011. Sekarang ia adalah dosen tetap di Universitas Universal, Batam, dan dosen tidak tetap di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.