Sabtu, Februari 27, 2021

Dibalik Curhat Soal Ujian Nasional

Mengamati Musim Transfer “Pemain” untuk 2019

Sejumlah kader yang mayoritas merupakan calon anggota legislatif pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 diketahui banyak yang pindah haluan atau berlabuh ke partai lain. Isu...

Musik dan Nyanyian dalam Islam

Dalam al-Qur’an, tidak ada teks yang secara terang benderang menyinggung masalah musik. Fatwa-fatwa ulama juga menunjukkan pendapat yang berbeda-beda tentang musik, ada yang membolehkannya,...

Gaduh Soal Tubuh

Warta “itu” sebenarnya tak terlalu mengejutkan publik, warta terbongkarnya jaringan prostitusi daring yang melibatkan artis berinisial VA dan AS. VA seorang artis yang namanya...

Bantuan Setor Tunai Harapan Masyarakat di Tengah Pandemi

Masa Pandemi yang belum selesai hingga akhir tahun 2020 menjadi persoalan begitu rumit bagi masyarakat. Ditambah lagi perpanjangan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sekarang...
Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim

Sulitnya soal Matematika pada Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 tingkat SMA banyak dikeluhkan para peserta. Mereka curhat di IG @kemdikbudri, dan @pustektekkom_kemdikbud. Hingga Mendikbud, Muhadjir Effendy meminta maaf atas soal Matematika yang sulit. Lebih lanjut beliau menegaskan, soal yang dibuat sudah sesuai dengan kisi-kisi.

Soal UN tahun ini memang dirancang beda dengan tahun sebelumnya. Soal berisikan daya nalar tingkat tinggi (high order thinking skills/HOTS). Berjenis pilihan ganda dan esai. Yang membuat soal pihak pemerintah dengan porsi 20 % – 25 %, yang 75 % – 80 % dari guru. Melihat perbedaan yang signifikan dari tahun lalu menjadi wajar bila hasil perakitan soal masih terdapat kekurangan. Yang kemudian diprotes peserta UN.

Saya mengutip beberapa komentar siswa yang bisa dipandang sebagai kesimpulan. “Bagaimana tidak capek belajar kisi-kisi keluarnya melenceng”. “TAHUN DEPAN TOLONG DIBUAT LEBIH SUSAHHH”. “Pak, tolonglah, ngapain saya ngitung jumlah gram NaCl yang ada dalam 1 ton bola salju, Pak. Indonesia kan tropis, Pak. Hadeuhhh lieur.”

Semua itu menunjukkan betapa siswa SMA itu punya daya nalar kritis. Dari curhatan di medsos kita bisa tahu persepektif siswa mengenai soal Matematika. Yakni soal tidak sesuai kisi-kisi, sulit dikerjakan, dan soal tidak relevan dengan keseharian siswa. Ini membuktikan telah terjadi perbedaan persepsi siswa dengan persepsi birokrat, pembuat soal.

Seringkali pemerintah terlalu ngebet menerapkan suatu kebijakan, tanpa dibarengi kesiapan yang matang. Polemik soal UN jelas keteledoraan pemangku pendidikan dan penyelenggara negara. Mestinya dipikirkan cara merancang dan membuat soal yang sesuai dengan kisi-kisi, tetapi juga mencakup tingkat kemampuan peserta didik. Sehingga tidak merugikan peserta UN.

Sebagaimana kita tahu, dalam membuat soal ujian mesti mengacu kisi-kisi soal yang sudah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kisi-kisi UN yang ditetapkan BNSP sudah berdasarkan kriteria pencapaian standar kompetensi lulusan, standar isi, dan kurikulum yang berlaku. Bila ada soal yang tidak sesuai kisi-kisi, berarti ada yang salah dalam proses pembuatan soal.

Kesalahan dalam proses pembuatan soal jelas karena pihak pembuat soal tidak bisa menerjemahkan bahasa kisi-kisi. Ia kurang paham konteks yang diharapkan di kisi-kisi. Ia keliru menafsirkan tingkatan kognitif yang hendak diukur.

Ini lantaran kurangnya pelatihan pembuatan naskah ujian. Sedangkan waktu pengerjaan pembuatan soal relatif singkat. Hal itu yang membuatnya kurang menguasai materi dan kreativitas penulisan soal. Akibatnya soal yang dihasilkan tidak sinkron dengan kisi-kisi.

Soal Matematika yang sulit dikerjakan siswa adalah soal HOTS. Sekitar 10 % disediakan soal yang mendorong siswa agar dapat bernalar tingkat tinggi yakni kemampuan berpikir kritis, evaluatif, dan kreatif. Okelah, bila soal HOTS dimaksudkan untuk meningkatkan standar pendidikan. Sebab pendidikan kita masih berada di peringkat 62 dari 72 berdasarkan laporan PISA 2015.

Namun persoalannya, dalam keseharian guru masih memakai pembelajaran berpikir di level tingkat rendah (lower order thinking skill)/LOTS. Siswa hanya dilatih menjawab soal secara cepat dan tepat. Tak ayal, bila kemudian siswa kesulitan menjawab tipe soal HOTS.

Soal Matematika tidak terkait dengan kehidupan di sekitar siswa. Ini menandakan pihak pembuat soal kurang mampu mendekatkan soal Matematika dengan kehidupan sehari-hari. Matematika masih dipandang sebagai hal yang teoritis dan seabrek rumus-rumus. Padahal, ujian itu menilai kemampuan siswa mereproduksi pengetahuan Matematika, melainkan juga kemampuan siswa mengekstrapolasi pengetahuan Matematika dan menerapkannya dalam menghadapi situasi kehidupan.

Melihat terus munculnya keluhan soal UN yang sulit dari tahun ke tahun, berarti sudah waktunya memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia. UN dengan menyedot anggaran cukup besar yang diagendakan sebagai bagian upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, kualitasnya harus terus ditingkatkan.

Perbaikan

Peningkatan kualitas UN hendaknya diawali dengan perbaikan proses pembelajaran. Proses pembelajaran harus diarahkan menuju HOTS. Siswa tidak melulu fokus berlatih mengerjakan soal-soal UN dari tahun-tahun sebelumnya dan mengikuti uji coba (try out). Terlebih Matematika harus diarahkan pada pembelajaran yang sesuai dengan potensi siswa dan menyangkut permasalahan sehari-hari. Sehingga seperti yang dikatakan Ausebel (dalam Dahar, 1988:137), dapat tercapai pembelajaran bermakna.

Guru-guru dilatih hingga terampil membuat soal. Program pelatihan pembuatan soal harus dimasifkan, baik oleh komunitas guru seperti KKG/MGMP maupun dinas pendidikan setempat. Pelatihannya harus sampai tuntas. Tidak kejar tayang seperti yang selama ini terjadi dengan alasan keterbatasan anggaran. Padahal alokasi dana pendidikan 20 persen dari APBN dan APBD.

Soal UN harus disusun oleh guru-guru yang berpengalaman dan terlatih. Soal yang disusun oleh guru ditelaah oleh dosen-dosen dari perguruan tinggi. Dengan begitu, hasilnya berkualitas sesuai standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan.

Soal UN harus dibakukan terlebih dahulu. Ujian yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan pengukuran itu sendiri (Sax, 1974). Oleh karena itu, soal UN seharusnya diujicobakan terlebih dahulu pada sampel yang cukup besar. Kemudian berdasarkan data yang diperoleh, diadakan analisis untuk menentukan validitas maupun reliabilitas soal secara keseluruhan. Sehingga soal UN benar-benar bisa mengukur hasil belajar siswa.

Yang tak kalah penting, meminimalisasi bahkan meniadakan gangguan teknis maupun kebocoran soal mutlak dilakukan. komitmen UN lebih berintegritas harus dijunjung tinggi semua pihak. Dalam pelaksanaanya harus mengedepankan kejujuran.

Kita berharap curhat siswa tak sekedar dianggap hal biasa-biasa saja oleh guru maupun pemerintah. Perbaikan kualitas UN mutlak dilakukan. Bila ini dilakukan niscaya berdampak pada peningkatan mutu pendidikan. Semoga!

Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.