Sabtu, Desember 5, 2020

Dialog Sang Penyemangat

Perusahaan Terbesar di Indonesia Menurut Foucault

“Jika ingin membuat manusia menjadi berguna, maka kontrol mereka”, ujar Michel Foucault, seorang sejarawan berkebangsaan Prancis yang kondang di tahun 1970-1980an. Ia menuliskan kalimat tersebut...

Siapapun Menterinya, Kualitas Guru Kuncinya

Penunjukan dan pelantikan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Indonesia Maju sontak menarik perhatian publik beberapa hari lalu. Pengusaha berusia 35...

Jokowi dan Wajah Masa Depan

“Yang online-online itu pak?” Itu pertanyaan balik Prabowo untuk menegaskan apa yang dimaksud dengan startup unicorn yang ditanyakan oleh Jokowi dalam debat presiden 2019. Memang...

Tragedi, Refleksi atas Kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610

“Ketika kita menemui tragedi nyata di dalam hidup, kita bisa bereaksi dalam dua cara; dengan kehilangan harapan dan jatuh ke dalam kebiasaan yang menghancurkan,...
Musthafa Muhammad Drehem
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan alur ritmiknya memerah telingaku.

Jiwaku menggebu haru bertalu. Setiap derap pergerakan dihentakkan menyentak rasa lengang sanubari menggetar senyap keterlenaanku. Dan aku mulai berdialog dan memohon dengan sang penyemangat “Wahai geloraku, jangan tenggelamkan rasa cintaku pada perjuangan ini hanya karena tak bertemu sang guru,yang selalu mengetuk pintu hatimu”.

Kemudian sang penyemangat membalas perkataanku dengan lantunan suci, “Sematkan dalam ingatanmu, pandangan optimis penuh harapan, Seperti menatap indahnya langit biru yang penuh cahaya, sangat menghangatkan hati”. Agar kusambut langkah perjuangan itu bersama kalam dan sabda yang tlah terpatri.

Kemudian sang penyemangat menyerukan dengan menggebu “Buktikan rasa peduli, simbol pemberani agar sinarnya terangi persada ini. Jadilah bunga yang harum di persada ini, menebar wangi, pesona alami. Bangkit dan melangkahlah dengan pasti, peradaban di negeri ini harus tegak berdiri.

Ketika itu aku memiliki banyak cobaan yang diberikan tuhan berupa banyak sekali permasalahan yang ada di negeri ini. Aku pun telah lama mencari suatu jawaban atas permasalahan ini.

Dimana sang penyemangat pun memberikan nasihat terhadap masalah yang ada, “Setiap orang pasti punya masalah dalam hidupnya.Tapi yakinlah bahwa tuhan tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan hambanya.

Mungkin masalah itu sudah Allah tentukan, untuk belajar tegar dalam menghadapi hidup.” Kemudian aku masih berkeluh kesah atas banyaknya cobaan yang diberikan Allah yang membuat jiwaku tidak mampu mengatasi banyaknya cobaan itu.

Tetapi sang penyemangat pun tetap tersenyum kepadaku dan memberiku suatu jawaban yang bijak, “Janganlah mengeluh dengan masalah yang dihadapi, karna mengeluh itu hanya akan membuat hambanya semakin terpuruk.

Belajarlah mencari solusinya dan tentukan mana yg baik untuk umat dan mana yg tidak baik untuk Umat, dan belajarlah memecahkan masalah dengan kalbu yg penuh ketenangan. karena apabila kalbu dalam batin yang tenang maka pikiran pun jernih, dan apabila pikiran jernih maka tutur kata pun akan baik dan sopan. Tuk itu jangan larilah dari masalah dan cari solusinya, pecahkan masalahnya dengan penuh kebijakan, itu akan menjadikan hidup lebih baik”. Akupun bergetar atas jawaban itu.

Dengan keyakinan penuh untuk mencari solusi yang bijak untuk negeriku agar berbagai cobaan menjadi sesuatu pembelajaran baru buatku. Sang Penyamangat pun berbisik kepadaku “Jangan pernah takut jika hari ini air mata yang ada, karena mungkin semua ini sebagian dari cara tuhan untuk membentuk pribadi hambanya, untuk jadi pribadi yang kuat di saat semua cobaan dan kesedihan itu datang menghampiri hambanya”.

Hidup itu misteri, terkadang apa yang diinginkan terkadang tidak sesuai dengan harapan dihari ini manusia bisa tertawa lepas, dengan sekejap tuhan bisa memberikan kita air mata. Dari bisikan sang penyemangat kepadaku aku mendapatkan Pembelajaran bahwa dari berbagai cobaan maka hadapi semua nya, buang semua rasa takut kita terhadap dunia dan buang semua nya jauh-jauh. Rasa takut hanya akan membuat jiwa semakin terjatuh.

Pesan dari sang penyemangat untuk jiwa-jiwa yang ingin membangun negeri di bumi persada ini bagaimana kita harus gantungkan semua impian, yakin kan kalbu, Mari wujudkan semua impian. Dan buktikan kepada dunia jiwa lah pemenang nya, bukan dunia yang akan pecundangi diri tetapi diri yang kan pecundangi dunia.

Ikhlaskan air mata yang mengalir hari ini, dan yakinlah air mata yang keluar di hari ini esok akan menjadi permata. Akan menjadi sesuatu yang indah seperti pelangi yang muncul setelah turun hujan, dan mentari yang terbit setalah malam meninggalkan ceritanya.

Musthafa Muhammad Drehem
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.