Senin, November 30, 2020

Di Tengah Pusaran Berita Politik

Pemikiran Filsuf Islam dan Aplikasi Kini

Ibnu Thufail tergolong filosof dalam masa skolastik Islam. Pemikiran kefilsafatannya cukup luas termasuk metafisika. Dalam pencapaian ma’rifatullah Ibnu Thufail menempatkan sejajar antara akal dan syari’at. Pemikiran...

Secercah Harapan Petani Garam Rawaurip

Ditengah hiruk pikuk persiapan pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali pada bulan Oktober nanti, petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon tengah berupaya...

Calon Presiden Fiktif, Sebuah Lelucon atau Keresahan

Kontestasi politik terbesar negara ini tinggal menghitung bulan. Pasangan-pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden sudah berebut suara dan dukungan masyarakat dengan mengunjungi titik-titik strategis...

Indonesia, Kopi dan Pemuda

“Kopiku tinggal sedikit, tapi harapku untuk memiliki mu masih terjaga” Begitulah sebuah kutipan yang banyak berseliweran di media sosial. Bagi para pemuja bucin kutipan tersebut...
Umi Nurchayati
Kolumnis dan Aktivis Sosial. Tinggal di Yogyakarta, dapat dihubungi melalui Twitter atau email uminurchayatiii@gmail.com

Apa yang kita dapatkan dari mendengar pemberitaan politik, apalagi nonton para pejabatnya yang ketika diundang jadi debat kusir, tanpa kejelasan dan muter-muter serta saling menyalahkan.

Melihatnya itu kok rasanya para elite politik itu tak dewasa sama sekali, semua keukeuh dengan kebenaran yang diyakini tanpa mau membuka diri. Saya jadi berpikir apa sih tujuan tayangan-tayangan ini.

Sebagai media mereka sama sekali tak berniat mendidik rakyat. Padahal media sebagai bagian dari pilar demokrasi harusnya beritanya berimbang dan independen, semua diberitakan.

Bukan hanya berita senang-senangnya saja tapi juga berita yang mungkin memprihatinkan dari keadaan yang ada sekarang, tapi sayangnya berita memprihatinkan yang tampil adalah berita kejahatan moral yang diumbar.

Tentu tidak salah memberitakan kejahatan dan fenomena moral karena hal itu timbul dari interaksi antar manusia sebagai makhluk sosial. Namun penyampaian berita kejahatan moral seperti ini saya rasa harus dilakukan dengan hati-hati, mewartakannya tidak seperti ketika mewartakan berita bencana alam atau kerusakan lingkungan.

Hal ini karena dikhawatirkan berita kejahatan moral justru dapat menginsprirasi seseorang ketika dalam keadaan yang tidak terkendali. Jadi disamping mewartakan pemberitaannya juga harus dibarengi dengan unsur untuk menghindari dan unsur edukasi tentang dampak yang ditimbulkan.

Sehingga jangan hanya memberitakan seadanya saja bahkan ada yang sampai melebih-lebihkan, tetapi juga harus dibarengi unsur yang berupa kalimat-kalimat edukasi. Karena pada dasarnya pekerjaan jurnalistik tak lepas dari nilai moral, sehingga terdapat unsur etika dalam junalistsik yang disebut Kode Etik Jurnalistik, dimana  digunakan sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme.

Apa saja yang dilakukan jurnalis mulai dari mencari berita, meliput berita, dan menyebarluaskan berita dituntut tanggung jawabnya untuk masyarakat luas.

Seperti itu selayaknya dipertimbangkan bila ingin menyajikan suatu berita, mengingat media juga mempunyai tanggung jawab pendidikan untuk masyarakat luas. Tapi sayangnya sekarang media juga bimbang untuk bersifat independen, ya bagaimana lagi pemiliknya minta berita-berita yang ini saja yang diberitakan, sedang yang seperti itu tidak dibolehkan. Reporter, jurnalis, fotografi, produser, dan penyiar berita bisa apa, mereka hanya buruh yang harus menuruti pemiliknya.

Kembali lagi pada pemberitaan politik belakangan ini, mengingat media mainstream yang nyatanya lebih banyak menayangkan tayangan politik yang berujung debat kusir, maka pantaslah pemberitaan lain yang nyata berimbas pada kerugian rakyat menjadi sangat sedikit sekali porsinya, seperti pemberitaan kasus monopoli pasar, unjuk rasa buruh, kerusakan lingkungan akibat industrialisasi dll.

Jadi masihkah kita akan terus menerus menyimak berita politik yang mengadu domba dan tanpa akhir itu atau lebih baik kita menonton tutorial make-up untuk belajar rias dan membuka bisnis rias atau tayangan budidaya tanaman jahe untuk pembuatan obat.

Pilihan ada di tangan kita sebagai penonton, maka ingatlah ketika kita sibuk meributkan dan bersifat fanatik pada suatau parpol, kubu atau lainnya justru para elite dibelakang partai politik sedang duduk-duduk manis ngopi dan ngeteh bareng dibelakang dan tertawa terbahak-bahak melihat polah kita. Kitapun mulai bertanya apakah kita harus memilih mematikan  TV di rumah jika tak memiliki manfaat dan hanya membuat telinga semakin panas.

Umi Nurchayati
Kolumnis dan Aktivis Sosial. Tinggal di Yogyakarta, dapat dihubungi melalui Twitter atau email uminurchayatiii@gmail.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Konservatisme Agama di Indonesia: Fenomena Religio-Sosial, Kultural, dan Politik (2)

Ricklefs dalam trilogi bukunya yang sangat monumental (Mystic Synthesis in Java; Polarizing Javanese Society dan Islamisation and Its Opponents in Java) tentang enam abad Islamisasi di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.