Rabu, Januari 20, 2021

Di Balik Pasang Surut Nilai Tukar Rupiah

Benarkah Najwa Bergabung Ke PSI Mengikuti Isyana Bagoes Oka?

Setelah dikabarkan berhenti tayang di sebuah stasiun televisi, simpang siur, banyak macam desas-desus, kemana Najwa mengabdikan diri. Ada isu ia akan menjadi Menteri Sosial...

Apakah Fans MU Punah?

Belakangan ini jagat maya seringkali dipenuhi dengan tagar-tagar yang bernuansa sepak bola. Nama Ernesto Valverde dan Ole Gunnar Solkjaer menjadi langganan pengisi trending di...

Kampanye Ramah Difabel

Pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 tinggal beberapa hari lagi. Artinya, kesempatan rakyat untuk mengenali dan menentukan calon yang akan dipilih juga semakin menipis. Kampanye...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...
Indah Wahyuningsih
Alumni SKSG UI

Setelah sempat mencapai titik terlemah terhadap dolar yaitu Rp. 15. 253/USD selama 5 tahun terakhir pada 11 Oktober 2018 kemarin, rupiah kemudian kembali perkasa dengan mencapai titik terkuat yaitu Rp. 14.251/USD selama 3 bulan terakhir pada 03 Desember 2018.

Melemah ataupun menguatnya nilai tukar sebenarnya adalah suatu fenomena ekonomi yang sangat alamiah di dalam sistem nilai tukar mengambang. Pergerakan nilai tukar mencerminkan dinamika perubahan permintaan dan penawaran terhadap mata uang asing (valuta asing).

Pasang surutnya nilai tukar rupiah disebabkan oleh sentimen dari luar negeri dan juga dari dalam negeri sendiri. Faktor eksternal cenderung dianggap sebagai faktor dominan, padahal faktor internal juga memberikan dampak yang tak kalah penting bagi nilai tukar rupiah.

Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok telah memberikan dampak besar tidak hanya bagi perekonomian Indonesia namun juga bagi perekonomian dunia. Ketegangan ini dimulai sejak Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan tarif bea masuk untuk barang-barang yang berasal dari Tiongkok hingga berujung pada upaya Tiongkok untuk memberlakukan tarif serupa terhadap produk-produk Amerika.

Indonesia sebagai salah satu pemasok bahan baku bagi Amerika dan Tiongkok menerima dampak perang dagang ini. Menurunnya kinerja ekspor Indonesia, dikarenakan Amerika dan Tiongkok mengurangi permintaan bahan baku. Hal ini disebabkan oleh upaya mengurangi komoditas yang dikirim dari Tiongkok ke Amerika ataupun sebaliknya.

Kondisi ini tentunya berpengaruh terhadap neraca perdagangan Indonesia ketika ekspor Indonesia menurun maka impor akan lebih besar dibanding ekspor sehingga terjadi defisit neraca perdagangan. Hal ini menyebabkan Indonesia harus membayar lebih banyak ke negara parter dagang dibanding pembayaran yang diperoleh dari negara partner dagang.

Dalam hal ini Indonesia membutuhkan lebih banyak mata uang negara partner dagang, yang menyebabkan nilai tukar mata uang Indonesia terhadap negara partner dagang melemah. Hal yang sama terjadi ketika defisit neraca perdagangan terjadi karena meningkatnya impor.

Sikap proteksionisme Amerika dan Tiongkok telah membuat gelisah para investor karena khawatir ketegangan ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global. The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika)mengantisipasi hal tersebut dengan rencana menaikan suku bunga acuan guna mempertahankan nilai tukar dolar.

Hal ini berdampak pada negara-negara emerging market yang merupakan negara berkembang tujuan investasi,termasuk Indonesia. Ketika suku bunga acuan Amerika naik, maka para investor akan berbondong-bondong menarik dananya dari negara emerging market. Arus modal keluar (capital outflow) kemudian bergerak menuju Amerika karena dianggap menjanjikan keuntungan yang besar. Hal ini mendorong menguatnya nilai tukar dolar terhadap mata uang lainnya.

Di sisi lain, Indonesia berusaha mengimbangi kebijakan suku bunga acuan The Fed dengan menaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Dengan harapan modal asing akan bertahan di pasar modal ataupun kembali ke tanah air. Upaya ini diharapkan bisa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Selain itu, harga minyak mentah dunia juga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pasang surutnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Indonesia sebagi negera net importir minyak sangat terdampak oleh naik turunnya harga minyak mentah dunia.

Kenaikan harga minyak mentah akan memicu kebutuhan Indonesia akan dolar AS semakin besar untuk membiayai impor minyak. Hal ini memicu rupiah melemah terhadap dolar karena potensi defisit neraca perdagangan migas yang semakin tinggi. Di sisi lain, turunnya harga minyak dunia membuat tekanan impor menurun sehingga suplai valuta asing terjaga dan berimplikasi pada menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Implementasi B20 harus dimaksimalkan agar melepaskan sedikit ketergantungan terhadap impor minyak. Hal ini bisa menyelamatkan cadangan devisa Indonesia sehingga menopang nilai tukar rupiah.

Menariknya, di tengah kondisi proteksionis perdagangan global, Indonesia secara resmi menandatangani perjanjian dagang kemitraan komprehensif (CEPA) dengan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA). Beberapa produk Indonesia yang mendapatkan tarif preferensi tersebut adalah minyak kelapa sawit, ikan, emas, alas kaki, kopi, mainan, tekstil, furnitur, peralatan listrik, mesin, sepeda, dan ban.

Perjanjian ini bisa menjadi sentimen positif terhadap neraca perdagangan Indonesia, sehingga diharapkan bisa meningkatkan kinerja ekspor Indonesia agar neraca perdagangan mengalami surplus.

Peningkatan ekspor juga harus diimbangi dengan menekan ketergantungan terhadap impor, terutama terhadap komoditas-komoditas yang tidak banyak memiliki nilai tambah terhadap perekonomian seperti barang konsumsi terutama konsumsi tersier. Selain itu impor terkait proyek pembangunan infrastruktur juga perlu dikaji kembali.

Sentimen global tidak bisa dihindari oleh karenanya fundamental ekonomi harus diperkuat guna menghadapi berbagai sentiment global ke depan. Daya saing dan produktivitas domestik harus ditingkatkan. Daya saing ekspor yang kuat bisa mendorong neraca transaksi berjalan menjadi surplus.

Diperlukan kerja sama dari semua pihak guna menjaga stabilitas rupiah, melalui kebijakan fiskal dan moneter, peran pelaku industri, investor dan juga masyarakat luas.

Secara sederhana masyarakat bisa membantu pemerintah dengan membeli produk lokal atau buatan dalam negeri. Upaya ini tak cuma membantu menyelamatkan rupiah tetapi juga mendorong ekonomi dalam negeri.

Selanjutnya, masyarakat bisa menunda membeli barang-barang elektronik maupun mengalihkan keinginan jalan-jalan ke luar negeri dengan berwisata di dalam negeri saja. Hal ini tentu akan mengurangi penggunaan dolar sekaligus menggenjot potensi wisata dan ekonomi daerah.

Indah Wahyuningsih
Alumni SKSG UI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.