Senin, April 12, 2021

Desa Sebagai Laboratorium Pembelajaran Sosial

Menata Ulang Cara Kita Memaknai Masalah

Jika anda berkunjung ke Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno Hatta, Anda akan mendapati desain-desain unik di instalasi APAR (Alat Pemadam Api Ringan)-nya. Desain ini...

Perempuan Bercadar, Minangkabau, dan Kearifan Lokal

Tulisan ringan ini bermaksud sebagai urun rembuk diskursus publik, merespon aturan kontroversial yang dikeluarkan rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, perihal pelarangan mahasiswi...

Jangan Menghakimi ? Bolehkah Orang Kristen Melakukannya ? (1)

Jangan Menghakimi! Jurus Andalan Orang Kristen“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan...

Dilema Pekerja Lembaga Sosial

Segala keterbatasan memang sungguh menjadi suasana dilematis dalam menjalani hidup di situasi zaman yang serba modern saat ini. Manusia saat ini dipertontonkan dengan cepat...
muhammad ridha
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin; Alumni Program Magister Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Penulis dapat dihubungi via email ridha@uin-antasari.ac.id

Desa merupakan suatu wilayah pemerintahan dalam skala sangat kecil dalam suatu negara yang selalu menyajikan hal-hal menarik, baik dalam hal keindahan panorama alam sekitarnya, maupun tradisi kebudayaan dan pola hidup sosial masyarakatnya.

Desa seakan dianggap sebagai sumber keasrian, ketenangan, kenyamanan, dan tempat yang kondusif bagi keberlangsungan budaya dan kearifan lokal. Bahkan, desa juga berfungsi sebagai perekat kebersamaan dan kekeluargaan, sehingga wajar jika rutinitas tahunan pulang ke desa (pulang kampung) menjadi tradisi wajib bagi segenap masyarakat di Indonesia.

Desa juga tidak hanya sekedar menjadi tempat tujuan untuk menikmati keindahan alam dan menikmati khazanah budaya leluhur, namun juga selalu menjadi tempat tujuan dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Tidak hanya untuk para pengamat atau peneliti, namun juga untuk mahasiswa.

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai nama lain dari pengabdian oleh mahasiswa kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tridharma perguruan tinggi yang diwajibkan untuk dilaksanakan hampir di semua perguruan tinggi di Indonesia, baik dalam rangka penelitian dan pembelajaran sosial maupun diseminasi ilmu pengetahuan dan teknologi guna peningkatan pemberdayaan masyarakat.

Program KKN biasanya dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu dimana sekelompok mahasiswa ditempatkan di desa-desa tertentu untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan sejumlah program kerja berdasarkan target capaian yang telah ditentukan oleh perguruan tinggi masing-masing. Program kerja-program kerja tersebut dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat, meningkatkan aktivitas kegiatan kepemudaan, kegiatan-kegiatan sosial keagamaan dan sebagainya.

Mengapa harus desa?

Banyak hal yang dapat dipelajari di desa, seperti rasa kekeluargaan yang masih tertanam sangat kuat, sikap gotong royong, musyawarah dan sebagainya yang masih merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi kehidupan di desa.

Bahkan, banyak juga desa-desa yang memiliki komposisi penduduk sangat heterogen baik suku dan agama, namun tetap hidup berdampingan secara harmonis sebagai satu bangsa, Indonesia.

Dengan kata lain, desa juga merupakan miniatur keragaman suatu bangsa yang menyajikan keharmonisan dalam keragaman. Untuk itu, desa dapat dijadikan sebagai laboratorium pembelajaran sosial yang sangat baik dalam rangka melatih rasa sensitivitas, kepedulian dan tanggung jawab sosial mahasiswa terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

Mahasiswa sebagai salah satu kelompok elit dalam masyarakat memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya sekedar fokus belajar, namun juga mesti fokus memperhatikan pelbagai kondisi sosial keagamaan dan kemasyarakatan.

Sensitivitas dalam melihat dan menyikapi pelbagai kondisi yang muncul dimasyarakat tidak cukup hanya dilakukan melalui pengamatan jarak jauh. Perlu pengalaman langsung dilapangan untuk juga merasakan suasana dan melihat kondisi yang ada dimasyarakat. Hiruk pikuk kehidupan di kota selama menempuh studi yang banyak diliputi iklim-iklim yang bernuansa individualis tanpa disadari akan memberikan pengaruh terhadap degradasi sikap peduli dan tanggung jawab terhadap kondisi sosial, keagamaan dan kemasyarakatan.

Ikhtiar pendidikan untuk mewujudkan peserta didik yang mampu mengembangkan potensi kreatif keilmuan sekaligus memiliki tingkat kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi salah satunya dapat diupayakan melalui pelaksanaan program KKN di desa.

KKN sebagai sarana pengabdian mahasiswa kepada masyarakat merupakan program yang sangat baik dalam menyiapkan mahasiswa yang berwawasan luas sekaligus berkarakter, dimana mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk belajar membangun komunikasi, berinteraksi dan menikmati serta mengamati pelbagai aktivitas yang dilakukan masyarakat desa.

Hal tersebut secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa peduli dan tanggungjawab sosial yang baik. Hidup membaur dan berdampingan langsung dengan masyarakat akan memberikan pengalaman unik dalam diri mahasiswa terkait dengan lingkungan sosial, keagamaan dan kemasyarakatan.

Dalam merencanakan dan melaksanakan program kerja KKN, mahasiswa terlebih dahulu diharuskan untuk melakukan pengamatan (observation) sosial secara langsung dilapangan dalam rangka mendapatkan data-data yang valid dan reliabel terkait situasi dan kondisi masyarakat desa meliputi potensi desa, kondisi sosial keagamaan dan kemasyarakatan dan sebagainya. Keterlibatan secara langsung tersebut nantinya juga akan memunculkan sensitivitas yang tinggi dalam melihat realitas sosial, baik kepedulian maupun apresiasi.

Hal tersebut juga akan memberikan dampak yang sangat positif bagi perkembangan kemampuan kognitif mahasiswa. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengembangaan wawasan dan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan bisa optimal jika hanya dilakukan di ruang-ruang kelas.

Mungkin saja ia akan mampu menjadi seseorang yang berwawasan pengetahuan yang luas, mampu mengembangkan teknologi-teknologi luar biasa, namun kering dari segi nilai atau karakter, karena ia terpisah dari realitas sosial masyarakat sekitarnya.

Hal tersebut juga sekaligus sebagai ikhtiar jaminan bahwa peningkatan wawasan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus memiliki dampak positif yang jelas bagi kemaslahatan masyarakat dan lingkungan sekitar secara khusus dan umat manusia dan dunia secara umum. Untuk itu, peningkatan dan pengembangan wawasan dan ilmu pengetahuan dan teknologi mesti dilakukan melalui kombinasi seimbang antara pembelajaran tekstual di kelas dan pembelajaran kontekstual di masyarakat.

Wallahu a’lamu bisshawab

 

muhammad ridha
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin; Alumni Program Magister Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Penulis dapat dihubungi via email ridha@uin-antasari.ac.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.