Sabtu, Maret 6, 2021

Desa Sebagai Laboratorium Pembelajaran Sosial

Jokowi Akan Tembak Mati Teroris Medsos

Tidak ada kata terlambat apalagi takut untuk membasmi aksi teror di negeri Garuda ini sampai ke akar-akarnya. Peristiwa tragis ledakan bom yang merenggut puluhan...

Norma dan Etik Kepala Daerah Menjadi Tim Sukses

Banyak Kepala Daerah terlibat menjadi tim kampanye Capres-Cawapres, baik di kubu Jokowi-Ma’ruf Amien, maupun di kubu Prabowo-Sandi. Hal ini mengacu pada Undang-Undang No 7...

Pesta Demokrasi: Mengapa Demokrasi Harus Dirayakan?

KBBI mendefinisikan pesta sebagai “bersuka ria dan sebagainya.” Pesta adalah momen sekaligus tempat di mana orang bersenang-senang untuk waktu tertentu, dan baru memikirkan hal-hal...

Bouazizi, Revolusi dan Puisi

Pada 14 Januari 2019 lalu, ribuan rakyat Tunisia berkumpul di pusat ibu kota Tunis, tepatnya di Jl. Habib Bourguiba untuk merayakan peringatan ke-8 pasca...
muhammad ridha
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin; Alumni Program Magister Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Penulis dapat dihubungi via email ridha@uin-antasari.ac.id

Desa merupakan suatu wilayah pemerintahan dalam skala sangat kecil dalam suatu negara yang selalu menyajikan hal-hal menarik, baik dalam hal keindahan panorama alam sekitarnya, maupun tradisi kebudayaan dan pola hidup sosial masyarakatnya.

Desa seakan dianggap sebagai sumber keasrian, ketenangan, kenyamanan, dan tempat yang kondusif bagi keberlangsungan budaya dan kearifan lokal. Bahkan, desa juga berfungsi sebagai perekat kebersamaan dan kekeluargaan, sehingga wajar jika rutinitas tahunan pulang ke desa (pulang kampung) menjadi tradisi wajib bagi segenap masyarakat di Indonesia.

Desa juga tidak hanya sekedar menjadi tempat tujuan untuk menikmati keindahan alam dan menikmati khazanah budaya leluhur, namun juga selalu menjadi tempat tujuan dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat. Tidak hanya untuk para pengamat atau peneliti, namun juga untuk mahasiswa.

Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai nama lain dari pengabdian oleh mahasiswa kepada masyarakat merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tridharma perguruan tinggi yang diwajibkan untuk dilaksanakan hampir di semua perguruan tinggi di Indonesia, baik dalam rangka penelitian dan pembelajaran sosial maupun diseminasi ilmu pengetahuan dan teknologi guna peningkatan pemberdayaan masyarakat.

Program KKN biasanya dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu dimana sekelompok mahasiswa ditempatkan di desa-desa tertentu untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui pelaksanaan sejumlah program kerja berdasarkan target capaian yang telah ditentukan oleh perguruan tinggi masing-masing. Program kerja-program kerja tersebut dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat, meningkatkan aktivitas kegiatan kepemudaan, kegiatan-kegiatan sosial keagamaan dan sebagainya.

Mengapa harus desa?

Banyak hal yang dapat dipelajari di desa, seperti rasa kekeluargaan yang masih tertanam sangat kuat, sikap gotong royong, musyawarah dan sebagainya yang masih merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi kehidupan di desa.

Bahkan, banyak juga desa-desa yang memiliki komposisi penduduk sangat heterogen baik suku dan agama, namun tetap hidup berdampingan secara harmonis sebagai satu bangsa, Indonesia.

Dengan kata lain, desa juga merupakan miniatur keragaman suatu bangsa yang menyajikan keharmonisan dalam keragaman. Untuk itu, desa dapat dijadikan sebagai laboratorium pembelajaran sosial yang sangat baik dalam rangka melatih rasa sensitivitas, kepedulian dan tanggung jawab sosial mahasiswa terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

Mahasiswa sebagai salah satu kelompok elit dalam masyarakat memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya sekedar fokus belajar, namun juga mesti fokus memperhatikan pelbagai kondisi sosial keagamaan dan kemasyarakatan.

Sensitivitas dalam melihat dan menyikapi pelbagai kondisi yang muncul dimasyarakat tidak cukup hanya dilakukan melalui pengamatan jarak jauh. Perlu pengalaman langsung dilapangan untuk juga merasakan suasana dan melihat kondisi yang ada dimasyarakat. Hiruk pikuk kehidupan di kota selama menempuh studi yang banyak diliputi iklim-iklim yang bernuansa individualis tanpa disadari akan memberikan pengaruh terhadap degradasi sikap peduli dan tanggung jawab terhadap kondisi sosial, keagamaan dan kemasyarakatan.

Ikhtiar pendidikan untuk mewujudkan peserta didik yang mampu mengembangkan potensi kreatif keilmuan sekaligus memiliki tingkat kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi salah satunya dapat diupayakan melalui pelaksanaan program KKN di desa.

KKN sebagai sarana pengabdian mahasiswa kepada masyarakat merupakan program yang sangat baik dalam menyiapkan mahasiswa yang berwawasan luas sekaligus berkarakter, dimana mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk belajar membangun komunikasi, berinteraksi dan menikmati serta mengamati pelbagai aktivitas yang dilakukan masyarakat desa.

Hal tersebut secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa peduli dan tanggungjawab sosial yang baik. Hidup membaur dan berdampingan langsung dengan masyarakat akan memberikan pengalaman unik dalam diri mahasiswa terkait dengan lingkungan sosial, keagamaan dan kemasyarakatan.

Dalam merencanakan dan melaksanakan program kerja KKN, mahasiswa terlebih dahulu diharuskan untuk melakukan pengamatan (observation) sosial secara langsung dilapangan dalam rangka mendapatkan data-data yang valid dan reliabel terkait situasi dan kondisi masyarakat desa meliputi potensi desa, kondisi sosial keagamaan dan kemasyarakatan dan sebagainya. Keterlibatan secara langsung tersebut nantinya juga akan memunculkan sensitivitas yang tinggi dalam melihat realitas sosial, baik kepedulian maupun apresiasi.

Hal tersebut juga akan memberikan dampak yang sangat positif bagi perkembangan kemampuan kognitif mahasiswa. Tidak bisa dipungkiri bahwa pengembangaan wawasan dan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan bisa optimal jika hanya dilakukan di ruang-ruang kelas.

Mungkin saja ia akan mampu menjadi seseorang yang berwawasan pengetahuan yang luas, mampu mengembangkan teknologi-teknologi luar biasa, namun kering dari segi nilai atau karakter, karena ia terpisah dari realitas sosial masyarakat sekitarnya.

Hal tersebut juga sekaligus sebagai ikhtiar jaminan bahwa peningkatan wawasan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus memiliki dampak positif yang jelas bagi kemaslahatan masyarakat dan lingkungan sekitar secara khusus dan umat manusia dan dunia secara umum. Untuk itu, peningkatan dan pengembangan wawasan dan ilmu pengetahuan dan teknologi mesti dilakukan melalui kombinasi seimbang antara pembelajaran tekstual di kelas dan pembelajaran kontekstual di masyarakat.

Wallahu a’lamu bisshawab

 

muhammad ridha
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin; Alumni Program Magister Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Penulis dapat dihubungi via email ridha@uin-antasari.ac.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.