Rabu, Januari 27, 2021

Demokrasi yang Malas Berkontemplasi

Filosofi Paham Negara Integralistik Soepomo dan New Normal

Pandemi virus corona secara global telah menciptakan berbagai krisis, terutama krisis ekonomi. Di Indonesia, menanggapi krisis ekonomi tersebut pemerintah membuat kebijakan tataran normal baru...

Militer Mengisi Jabatan Sipil, Perlukah?

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengeluarkan wacana akan merestrukrisasi penempatan perwira menengah dan tinggi untuk mengisi jabatan institusi pemerintahan, dengan membuat 60 pos baru...

Sisi Kelam Aladdin dan Agrabah

Aladdin adalah seorang karakter utama dari kisah fiksi yang merupakan adaptasi karya sastra Arab Abad Pertengahan Seribu Satu Malam denga judul yang sama. Aladdin...

Sains, Pendidikan, dan Kekerasan Seksual

Sains dan teknologi dapat membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Kira-kira itulah esensi dari pesan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Indonesia Science Expo...
Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI

Memang bangsa ini terlalu bangga dengan sistem politik demokrasi yang selalu dianggap lebih baik daripada sistem politik yang lain. Nampaknya kita juga sudah dimabuk cinta yang sangat kepayang dengan kehadiran demokrasi yang dianggap sebagai katarsis dari berbagai permasalahan yang dialami oleh masyarakat.

Tanpa dipungkiri, demokrasi memang selalu membawa nama rakyat dalam praktik politiknya, sehingga hal ini yang menyebabkan demokrasi terlihat lebih baik daripada komunis, lebih baik daripada otoriter, lebih baik daripada liberal, dan lebih baik daripada sistem politik khilafah.

Tentunya beberapa negara yang menerapkan demokrasi, akan terus berlomba untuk mensejahterakan masyarakatnya dengan sebaik mungkin, dan alangkah lebih baik lagi jika di dalam sistem politik demokrasi yang diterapkan oleh beberapa negara, tidak menciptakan oligarki politik yang menjijikan itu. Sehingga demokrasi tidak selalu dianggap sebagai sistem politik yang utopis.

Tetapi nampaknya, kita jangan terlalu memberikan cinta yang benar-benar tulus dulu kepada demokrasi yang ada di negeri ini. Karena ketika era reformasi telah berjalan selama puluhan tahun, namun justru demokrasi tidak pernah menjadi momok yang menakutkan, tetapi hanya menjadi guyonan bagi beberapa kepala daerah yang pada akhirnya tidak menciptakan demokrasi yang baik, namun mereka hanya menciptakan oligarki yang menjijikan dan menganggap demokrasi sangat mudah dikalahkan oleh intrik politik yang bermuara kepada tindakan korupsi.

Misalnya saja kemarin, masyarakat kembali dihebohkan dengan korupsi berjamaah yang terjadi di Cianjur. Hal ini merupakan contoh bahwa demokrasi di Indonesia ternyata sama juga buruknya dengan komunis, liberal, totaliter, dan sebagainya. Oleh karena itu, jangan heran jika masyarakat di negeri kita tidak pernah merasakan kesejahteraan yang baik. Karena memang masyarakat tidak pernah mendapatkan nutrisi yang berguna dari demokrasi. Sehingga membanggakan demokrasi pada saat ini, seperti membanggakan lukisan yang dibuat diatas air, tentu tidak ada gunanya.

Jangan Terlalu Percaya Diri

Jika korupsi masih merajalela, jika kebebasan berpendapat masih sering kali di bungkam, maka jangan pernah sesekali untuk membanggakan demokrasi sebagai tuhan yang selalu benar. Terlebih lagi saat ini, demokrasi sering kali dimaknai sebagai sistem politik yang harus pro terhadap rezim, dan jika tidak pro terhadap rezim maka hal itu bukan demokrasi.

Padahal ketika masyarakat tidak pro terhadap rezim, maka hal tersebut adalah hal yang wajar. Bukan berarti karena rezimnya sering di kritik, maka hal itu merupakan faktor yang dapat merusak demokrasi.

Walaupun demokrasi mengalami berbagai masalah, tetapi menurut Bada Pusat Statistik (BPS), secara umum Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di tahun 2017 mengalami peningkatan menjadi 72,11, dibandingkan dengan IDI di tahun 2016 yang hanya sebesar 70,09. Tetapi yang mengenaskan dalam data tersebut ialah, hak-hak politik yang turun 3,48 poin (dari 70,11 menjadi 66,63), sehingga sangat tidak lengkap jika secara umum IDI mengalami peningkatan, tetapi hak-hak politik mengalami penurunan.

Oleh karena itu, jangan terlalu percaya diri untuk mengaku dan selalu mendeklarasikan bahwa demokrasi di Indonesia lebih baik daripada demokrasi di negara lain. Percuma saja, jika negara ini mengaku demokrasi tetapi masyarakat masih belum mengalami keadilan yang sesungguhnya.

Karena memang membangun demokrasi bukan hanya melakukan retorika dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi membangun demokrasi harus diawali dengan akal sehat yang tidak diatur oleh arogansi politik. Jadi sebenarnya, untuk menjadi demokrasi yang sesungguhnya, tidak perlu disampaikan melalui data, karena masyarakat tidak butuh data. Masyarakat hanya membutuhkan keadilan yang merata, dan menginginkan para pemimpin agar tidak menciptakan oligarki yang justru terus menerus menjadi parasit yang selalu menggerogoti demokrasi.

Sudah Seharusnya Berkontemplasi

Memang demokrasi pada saat ini seolah menjadi santapan empuk untuk lempar batu sembunyi tangan bagi para elite politik. Sehingga bukannya menyelesaikan demokrasi dengan sebaik mungkin, justru yang lebih bodoh lagi para elite politik tersebut saling menyalahkan satu sama lain.

Jadi seolah-olah fungsi dari elite politik yang duduk di kursi legislatif, yudikatif, maupun eksekutif seperti tidak menunjukan kinerja yang jelas, karena mereka tidak pernah memberikan panutan untuk saling bahu membahu dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi, tetapi justru mereka hanya menciptakan sensasi di media massa yang justru membuat masyarakat menjadi terpecah belah.

Hal ini dibuat semakin pelik, ketika masyarakat dihebohkan dengan aksi dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang kemarin sempat membuat pemerintah kalang kabut karena ulahnya membunuh puluhan pekerja dari PT. Istaka Karya.

Memang sangat benar hal ini merupakan kesalahan dari OPM sendiri yang tidak mengutamakan humanisme yang tidak sama sekali tertanam di dalam dirinya. Alih-alih menanamkan nilai-nilai pancasila ke dalam dirinya, tetapi justru yang mereka ciptakan adalah tindakan membabi buta yang sangat tidak mencerminkan manusia yang beradab. Sehingga menurut mereka mempelajari demokrasi dan nilai-nilai pancasila, seperti tidak ada gunanya sama sekali. Dan pada akhirnya pun pemikiran mereka hanya berkutat mengenai kekerasan saja.

Tetapi jangan hanya menyalahkan OPM saja, karena bisa jadi organisasi tersebut menginginkan keadilan yang yang selama ini mereka nantikan, tetapi justru keadilan itu tidak pernah dirasakan dengan baik. Sehingga cara mereka protes kepada pemerintah melalui kekerasan yang sangat membabi buta itu. Dengan beberapa permasalahan yang ada, lalu apakah negara ini akan tetap dikatakan demokrasi, jika korupsi masih merajalela? Apakah negara ini tetap dinamakan demokrasi, walaupun keadilan masih belum diraskan oleh semua masyarakat? Tidak perlu menjadi bohong untuk mengaku negara ini sebagai demokrasi.

Oleh karena itu menjadi negara demokrasi, bukan sebuah kebanggaan yang spesial, di dalam demokrasi memang pemerintah harus rajin untuk berkontemplasi agar dapat menciptakan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia, bukan justru memberikan kebanggaan terhadap data dan retorika yang palsu itu.

Ilham Akbar
Mahasiswa yang sangat mencintai Batagor dan hobi membaca buku. Director Film Today is Ended. Link Film: https://youtu.be/bKDMqolO4fI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.