Minggu, April 11, 2021

Demitologisasi SO 1 Maret

Demagog Proteksionisme di Pilpres 2019

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 — 3 November 2018, lebih dari 1.000 pelaku bisnis dan tokoh politik internasional menghadiri acara The 16th Asia Pasific...

Menulislah agar Anda Tahu Kejujuran Anda

Sepertinya baru kemarin merasakan yang namanya bangku sekolah, rasanya baru kemarin merasa masih meminta uang saku, rasanya baru kemarin selalu merasakan hangatnya kasur di...

Kebiri Kimia, HAM, dan Kebijakan Alternatif

Belum lama ini, Presiden Jokowi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2020 tentang tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik,...

Redam Konflik Melalui Komunikasi Berbasis Local Wisdom

Disiplin ilmu sosial adalah mengenal manusia sebagai makhluk sosial. Sebab, manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia selalu memerlukan bantuan orang lain untuk membantu memenuhi...
Anicetus Windarto
Peneliti di Litbang Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari pasukan RI terhadap Belanda setelah Agresi Militer 19 Desember 1948. Sebab sebelumnya ternyata sudah ada serangan yang cukup dahsyat, bahkan nyaris mematikan, misalnya pada 9 Januari 1949.

Syukurlah, serangan berupa pemboman atas Hotel Merdeka atau Hotel Garuda di Yogyakarta dapat dibatalkan (Colin Wild dan Peter Carey (ed.), Gelora Api Revolusi, Jakarta: Gramedia, 1986). Hal itu adalah berkat jasa Prof. Kahin yang dapat melobi pasukan RI karena kebetulan ditangkap dan sedang ditahan di hotel itu oleh Belanda.

Hanya sayangnya, kesaksian seperti itu tidak mudah ditemukan dalam buku sejarah nasional Indonesia masa kini. Bukan karena tidak dicatat, melainkan lantaran SO 1 Maret terlalu ditampilkan sebagai sejarah yang dominan. Itulah mengapa dalam sejarah Revolusi 1945 – 1949 di Indonesia seolah-olah tiada yang lebih penting dan menentukan daripada SO 1 Maret. Akibatnya, SO 1 Maret sekadar menjadi mitos yang diwariskan tanpa ada yang dapat mempertanyakan, bahkan menggugatnya.

Mitos dalam sejarah biasanya cenderung bernuansa “hitam-putih”. Itu artinya, hanya ada satu kebenaran yang tunggal dan seragam. Maka, jika SO 1 Maret dijadikan mitos dalam sejarah, sulit untuk dibantah bahwa seakan-akan tiada sejarah serevolusioner SO 1 Maret.

Hal itu dapat disaksikan pada bagaimana SO 1 Maret direkonstruksi sebagai sejarah yang terlalu memusatkan pada kisah dan tokoh dalam perjuangan bersenjata belaka. Padahal ada jenis perjuangan lain, seperti diplomasi, yang juga turut memainkan peran cukup penting. Dan yang tak kalah penting juga adalah kesadaran nasionalisme dari rakyat yang rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan.

Karena itu, angkat senjata, diplomasi dan nasionalisme adalah “bahan bakar” yang tak bisa dilepaskan dalam perjuangan selama Revolusi di Indonesia. Sebab ketiganya tidaklah berdiri sendiri-sendiri, tetapi saling terkait satu sama lain. Keterkaitan itulah yang membuat SO 1 Maret tidak perlu lagi untuk dimitoskan, apalagi dikultuskan dengan menampilkan tokoh dan peran tertentu dalam sejarah. Dengan kata lain, diperlukan upaya-upaya demitologi yang mampu meletakkan SO 1 Maret sebagai sejarah yang tidak melulu bernuansa angkat senjata.

Pertama, terkait dengan kesaksian Prof. Kahin di atas, agaknya perlu untuk dikaji ulang mengenai historiografi di Indonesia, terutama semasa Revolusi 1945-1949. Apalagi beragam kesaksian yang kerap diabaikan lantaran ada sejumlah peristiwa yang terlalu dipandang lebih penting dan menentukan secara sosial dan politik.

Dalam SO 1 Maret, pandangan seperti itu dibangun melalui tokoh dan peran yang amat sentralistik dengan konsekuensi menghilangkan beberapa bagian yang sebenarnya tak kalah penting dan mendesak. Misalnya, saat terjadi serangan pada 9 Januari 1949 pasukan yang berada di garis depan pertempuran adalah KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Soelawesi).

Kedua, diplomasi dari para tokoh terdidik dan terpelajar Indonesia sesungguhnya memainkan peran yang cukup besar dan berpengaruh. Buktinya, Prof. Kahin yang sejak semula selalu dicurigai sebagai “agen ganda” (double agent), baik oleh pasukan RI maupun pasukan Belanda, namun berkat jasa baik dari para diplomat ulung Indonesia, beliau masih dapat tinggal di Indonesia.

Meski berkewarganegaraan Amerika, Prof. Kahin yang selalu dituduh sebagai orang Belanda, bahkan agen rahasia dari pemerintah Amerika, tampak dengan mudah bergaul dan bersahabat dengan para pemimpin Indonesia, termasuk para pasukan di medan perang. Itulah mengapa ketika berhadapan dengan ribuan orang yang adalah para pejuang lokal di Kebumen, beliau dengan pengetahuan bahasa Indonesia yang serba terbatas berpidato untuk menjelaskan bahwa dirinya adalah orang Amerika melalui bendera-bendera Amerika yang terpasang di jip-nya.

Ketiga, keterlibatan rakyat, khususnya para pemuda, dalam Revolusi 1945-1949 merupakan kunci dari perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, “nasionalisme dari bawah” ini patut dicatat dan dihargai dalam sejarah sebagai sumbangan berharga yang mampu membawa Indonesia keluar dari “Zaman Edan” atau “Zaman Kacau Balau” (Dursetut).

Hal itu dimungkinkan berkat semangat revolusioner yang diperoleh semasa pendudukan balatentara Jepang lewat penanaman semangat Bushido demi membela tanah air seperti dalam pendidikan dan pelatihan di asrama Peta atau “Pembela Tanah Air (Benedict Anderson, Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1945, Serpong, Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2018).

Melalui ketiga hal di atas, Revolusi di Indonesia menjadi saat dan tempat yang tepat untuk menunjukkan bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI 17-8-1945 bukanlah sebuah kebetulan belaka. Jadi, bukan semata-mata karena SO 1 Maret, kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia diakui oleh seluruh dunia. Tetapi, juga lantaran diplomasi dan nasionalisme kerakyatan yang menentukan RI dapat berdiri dan bertahan hingga kini.

Anicetus Windarto
Peneliti di Litbang Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.