Rabu, Desember 2, 2020

Demi Tuhan, Saya Pemuda

Pakai Kaos Converse Dituduh PKI, Gambar Marx Dikira Suka Mabuk

Di sebuah warung kopi, di pojokan Jogja, seorang kawan yang usianya jauh si atas saya bercerita tentang kisah temannya ketika masa kuliah era 90-an....

Indonesia Sedang Cedera Malas

Tahun ini, 2017 kita melihat cukup banyak fenomena tentang kemalasan, malas baca buku, malas menggunakan cara yang baik untuk memenangkan jagoannya, malas jalan kaki...

Gejala Ansietas Remaja Meningkat Semasa PJJ

Berkabung lagi, ketika sebenarnya satu nyawa saja sudah terlalu banyak untuk dikorbankan menghadapi pembelajaran jarak jauh. Pertengahan Oktober lalu, siswi SMA di pedesaan Gowa,...

Memahami Subyek Yang Radikal

Sungguh dalam tulisan ini saya tidak ingin berpusing-pusing membangun perspektif dengan berlandaskan tumpukan teori yang jlimet. Karena dalam bayangan saya hal tersebut akan sama...
Damanhury Jab
The Founder Indikator NTT News and Indikator Alor News. Serta Redaktur Indikator Indonesia

Hari Sumpah Pemuda baru saja berlalu, di setiap pojok podium tampak terdengar bergaung teriakan penuh kepalsuan. Mengajak wajah-wajah polos kembali mengikuti muslihat sang pragmatis palsu.

Inilah bangsa yang sejak dalam rahim sering mendidik dengan kepalsuan-kepalsuan kaum elitnya hingga lahir ke dunia, menjadi kanak-kanak dalam buaian mainan-mainan palsu, tumbuh menjadi remaja akhirnya mengalami cinta-cintaan palsu dan merangkai barisan-barisan puisi palsu, hingga beranjak menjadi pemuda-pemuda karbitan hasil produk palsu.

Pemuda dalam genggaman waktu semakin menghilang dari gejolak semangat idealismenya. Berganti wajah menjadi sang korban provokator dan korban nasi bungkus yang akhirnya menjadi pagar bahu dan betis dalam beberapa momentum besar dalam tatanan kebangsaan.

Akhir-akhir ini, Tuhan dan perintahNya kembali dicomot sebagai objek pemecah belah demi kepentingan mencari siapa yang benar dan yang salah. Kenapa tidak? Hari ini Indonesia tengah berada diambang situasi yang sungguh sangat dilema.

Pertarungan kubu-kubu kecil yang mengakui Muhammad sebagai Rasul utusan Tuhannya tengah berseteru, lantaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid dibakar oleh oknum-oknum yang mengaku merasa tidak sepakat terhadap gerakan yang mengancam ideologi bangsa dan kebhinekaan ini.

Dalam beberapa hari terakhir pasca kejadian ini dapat kita jumpai diskusi-diskusi di ruang akademik dan kemasyarakatan, tidak sedikit yang mengecam tindakan yang tidak terpuji yang telah dilakukan oleh oknum tadi. Merekalah barisan pembela kalimat “Tauhid” katanya.

Disamping itu,  tidak pula sedikit masyarakat yang mencaci ormas yang dianggap mengancam eksistensi ideologi bangsa yang plural ini, yang sudah berani mengibarkan benderanya di bumi pertiwi. Sementara itu, upaya penyelesaiannya pun kini semakin kehilangan arah dan cara.

Masing-masing kubu yang mengaku bertuhankan Allas SWT dan Mengakui Muhammad SAW sebagai rasulnya, malah berselisih dan berpecah belah. Sengketa kekhilafan oknum semakin meluas, hingga tanpa disadari mereka telah berani menginjak-injak kitabnya dalam keadaan sadar dan terselimuti oleh ego primordialnya.

Lantas, apa yang bisa diharapkan jika fanatisme agama menjadi momok bagi kerukunan penganut dalam satu agama itu sendiri. Perseteruan harus diselesaikan dengan bijak. Pemuda harus kembali memposisikan dirinya sebagai penengah bukan sebagai pelaku.

Dengan semangat Sumpah Pemuda, mari bersama kita ikat kembali jalinan ukhuwah kita yang kian renggang. Kita pupuk kembali tenggang rasa kita. Kita lawan berbagai macam paham yang coba memecah belahkan negeri kita.

Indonesia adalah warisan dari pendahulu, penerus yang baik mestilah selalu menjaga kemurnian amanah mereka. Berlandaskan Bhineka Tunggal Ika, kita bawa nama besar bangsa kita hingga tiba ke puncak yang agung. Anda pemuda, mereka pemuda dan demi Tuhan saya juga pemuda. Salam perdamaian.

Damanhury Jab
The Founder Indikator NTT News and Indikator Alor News. Serta Redaktur Indikator Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.