Minggu, Januari 24, 2021

Demagog Proteksionisme di Pilpres 2019

Ramadhan dan Kontra Terorisme

Apapun alasannya, aksi Teror yang dilakukan beberapa hari ini di sejumlah tempat di tanah air, mulai dari bom di Gereja Surabaya sampai penyerangan di...

Yang Tetap Menjaga Nyala

“Kasih, api cinta itu turun dari langit dalam berbagai bentuk dan rupa, namun pengaruh mereka di dunia adalah satu.” – Khalil Gibran Peradaban manusia dibangun...

Kongres PMKRI dan Arah Baru Gerakan

Perhimpunan Mahasiswa Republik Indonesia (PMKRI) tahun ini melaksanakan kongres ke-XXXI dan MPA ke-XXX di Ambon. Kegiatan rutin yang dilakukan setiap dua tahun sekali memberikan...

Karya Rudi Santoso Lolos di Tingkat Asia Tenggara

Di negeri tempat aku berteduhBerita baik adalah berita burukBerita buruk adalah berita buruk itu sendiriPerbedaan ras, agama, bahasa, dan budayaTelah menumbuhkan konflik dimana-manaMengatasnamakan harga...
Aurelia Vizal
Siswi SMA yang aktif menulis dan menjadi pembicara isu-isu sosial dan politik. Kini sedang sibuk menyusun prioritas.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 1 — 3 November 2018, lebih dari 1.000 pelaku bisnis dan tokoh politik internasional menghadiri acara The 16th Asia Pasific Conference of German Business (APK). Perhelatan APK ini diharapkan bisa mengenalkan potensi bisnis di Indonesia.

Dalam acara tersebut, ada pembahasan mengenai “Connecting Asia and Europe: Belt and Road and Beyond” pada Jumat, 2 November dengan panelis Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, CEO dan President Siemens AG Joe Kaeser, Deputy Chairman dan CEO HSBC Asia Peter Wong dan Anggota Parlemen Eropa Reinhard Buetikofer. Sri Mulyani Indrawati juga turut menyampaikan fokus dan prioritas Indonesia dalam pembangunan infrastruktur untuk menciptakan konektivitas antar-wilayah.

Selain itu, topik yang dibahas sangat beragam, mulai dari inovasi, infrastruktur, kecerdasan buatan, urbanisasi, hingga stabilitas politik dibahas dalam perhelatan acara tersebut, di salah satu hotel di kawasan Sudirman Central Business District atau SCBD Jakarta.

Suatu hal menarik yang mengundang perhatian di media adalah pernyataan Menteri Ekonomi dan Energi Jerman, Peter Altmaier yang mengungkapkan, “Mari membentuk aliansi global yang mendukung ekonomi pasar, inilah yang dibutuhkan dunia, bukan proteksionisme.”

Sangat berlawanan dengan pandangan publik yang hingga kini begitu anti terhadap kegiatan ekspor-impor, hingga dianggap sebagai salah satu bentuk kolonialisme modern. Saat rakyat yang tidak tahu sistem kerja pasar, mudah saja memberikan pidato menyentuh sanubari dan membangkitkan rasa kamerad, bahwasanya kegiatan impor hanya akan memperluas cengkraman ‘Aseng dan Asing’ dalam perekonomian Indonesia.

Strategi kampanye Prabowo yaitu fear mongering dan mengedepankan proteksionisme membuat saya déjà vu terhadap pemilu Amerika Serikat pada 2016 lalu. Seperti seruan-seruan macam; Indonesia bisa ‘berdikari’, swasembada pangan, Indonesia tanpa impor, anti Aseng Asing, dan lain-lain.

Dari pemilu 2014 lalu, menurut survei dari Deutsche Bank, banyak investor asing berniat menjual aset mereka jika Prabowo Subianto memenangkan kursi presiden. Sebaliknya, menurut riset institusi Morgan Stanley yang berbasis di Manhattan, partisipan pasar luar negeri mengharapkan kemenangan Joko Widodo karena beliau dianggap lebih reform-minded dibandingkan rivalnya.

Hal ini dibuktikan dengan indeks saham acuan Indonesia naik lebih dari tiga persen saat ia mengumumkan keikutsertaannya dalam pemilu 2014. Tidak sampai disitu, eits..bagaimana pun di sini saya tidak mau mendukung kedua belah pihak. Tidak mau kalah, Joko Widodo dalam Pemilu 2014 sampai pada unggahan Instagramnya kemarin juga turut menyemarakan pesta swasembada, agar terdengar nasionalis. Beberapa kali juga beliau menyinggung kebijakan-kebijakan proteksionisme, seperti kuota impor dalam pidatonya.

Lalu, apakah proteksionisme itu sendiri akan menyejahterakan rakyat?

Sederhananya seperti ini, Tejo ingin membeli seperangkat alat sholat yang diproduksi di Madinah, Arab Saudi sebagai mahar untuk meminang Surti. Tapi, Pak Kades memaksa Tejo untuk membeli seperangkat alat shalat lokal buatan tangan asli Purworejo.

Tejo harusnya melakukan transaksi dengan Abdullah, atau mencari pedagang alat shalat lain yang ia kira sesuai dengan seleranya atau kebutuhannya di pasar internasional. Pak Kades memaksanya untuk melakukan kegiatan jual-beli dengan Bowo, Bowo kini memonopoli semua usaha alat shalat atas kerjasama dengan Pak Kades. Ia mematok harga sangat tinggi, sehingga terjadi kelangkaan pernikahan di daerah itu.

Disini, Tejo adalah kita; warga negara yang seharusnya memiliki kehendak bebas dalam menentukan produk yang ingin kita beli, Pak Kades adalah pemerintah, sedangkan Bowo adalah pebisnis dalam negeri yang bisa seenaknya menetapkan harga atas komoditas tertentu karena ia memonopoli ranah bisnis tersebut.

Kalian yang merasa terproteksi, dengan kebijakan ini hanya merasakan ilusi sekuritas yang semata-mata justru melanggengkan kekuasaan kroni-kroni pemerintah di perekonomian dalam negeri. Seperti kebijakan Soeharto pada Orde Baru yang malah meningkatkan angka korupsi, dan KKN secara keseluruhan. Hingga beliau masuk ke urutan pertama dalam The World’s All-Time Most Corrupt Leaders menurut majalah Forbes, dengan sumber laporan dari Transparency International, Global Corruption Report 2004.

Presiden Trump pernah berkata bahwa kebijakan proteksionismenya akan membantu mereka untuk save jobs di AS. Hal ini justru mengakibatkan deadweight loss, atau unrecovered loss of social welfare.

Penurunan keunggulan komparatif akan menekan angka produktivitas, oleh karena itu juga turut menekan angka upah riil. It’s worthwhile for people to sell what they are more efficient at producing and to buy what others are comparatively better at producing.

Dengan ini, produktivitas meningkat dan semua pelaku ekonomi dapat diuntungkan. Perdagangan bukanlah permainan zero sum, di mana kemenangan harus diimbangi dengan kerugian. Perdagangan internasional akan menambah kompetisi, menggenjot inovasi, meningkatkan efisiensi dan pertumbuhan ekonomi dari waktu ke waktu.

Usaha pemerintah proteksionis di negaranya sering kali akrab terdengar di telinga kita, seperti tarif dan kuota impor. Kuota biasanya digunakan untuk melindungi industri baru dan menjaga biaya masuk pasar rendah untuk produsen domestik (biasanya pemberlakuan kuota ini bertahan lama setelah industri tersebut tumbuh). Jika negara A memberlakukan kuota impor, negara B yang merupakan partner dagangnya akan memberlakukan itu juga. Hasil akhirnya adalah peluang ekspor yang sedikit untuk produsen dan harga yang lebih tinggi untuk konsumen.

Labour wages terpengaruh oleh produktivitas. Pekerja dengan produktivitas yang lebih tinggi menghasilkan lebih banyak output dengan input yang sama. Karena perusahaan dapat menjual surplus dari output tambahan ini untuk mendapatkan upah yang lebih tinggi, perusahaan bersedia membayar pekerja yang produktif dengan upah yang lebih tinggi.

“workers’ wages are equal to the marginal revenue product of their labor.”

Proteksionisme juga tidak memberi proteksi terhadap semua sektor bisnis secara keseluruhan. Melainkan hanya satu sektor. Contoh, pada 2002 George W. Bush memberlakukan tarif atas baja impor, dan masalahnya, kebijakan tersebut turut menaikkan harga baja domestik.

Negara membayar semua itu dengan membayar dengan biaya yang lebih tinggi untuk semua produk yang berbahan baja. Kebijakan Presiden Bush berakibat pada PDB Amerika Serikat, investasi kapital, dan pengangguran, dimana 200.000 lapangan kerja hilang sebagai gantinya. Setelah tarif Bush diberlakukan, produsen suku cadang otomatis meninggalkan AS sehingga mereka dapat membuat baja yang lebih murah dan kemudian mengirimnya kembali ke AS — memotong pekerjaan untuk pekerja Amerika sekaligus menghindari tarif.

Jadi, jika kalian dengar pemerintah berkoar-koar tentang tarif yang akan menyelamatkan ‘wong cilik’ dari kemelaratan itu hanyalah demagog. Proteksionisme juga dapat mengakibatkan distorsi pasar dan menurunnya efisiensi alokatif.

The philosophy of protectionism is a philosophy of war.” –Ludwig von Mises

Aurelia Vizal
Siswi SMA yang aktif menulis dan menjadi pembicara isu-isu sosial dan politik. Kini sedang sibuk menyusun prioritas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Upaya Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan

Kasus KDRT khususnya terhadap perempuan masih banyak terdengar di wilayah Indonesia. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (6/03/20) juga meluncurkan catatan tahunan (CATAHU) yang...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.