OUR NETWORK

Dekonstruksi dan Kekeliruan Wacana tentang Papua

Dekontruksi berupaya keluar dari kemapanan yang diciptakan oleh rezim-rezim, dan teks-teks yang dikendalikan oleh narasi kekuasaan.

Dekonstruksi adalah kehendak menemukan kecurigaan-kecurigaan, menuju kemungkinan interpretasi, dan kontradiksi yang disembunyikan dalam teks. Dalam bukunya yang menulis pemikiran Derida, dikatakan esensi dari dekonstruksi adalah menemukan makna-makna yang dipinggirkan, diabaikan, atau disembunyikan (Haryatmoko, 2015).

Dekonstruksi berupaya keluar dari kemapanan yang diciptakan oleh rezim-rezim, dan teks-teks yang dikendalikan oleh narasi kekuasaan. Dekonstruksi hendak melawan ketertiban yang ada dengan mempertentangkan makna yang ada dari sisi yang lain, dengan interpretasi yang radikal supaya makna yang ada memunculkan penafsiran baru.

Upaya itu dipandang represif dan subversif, sebab dekonstruksi dimaksudkan untuk memunculkan antitesis baru terhadap makna yang ada sebelumnya, makna yang menetap pada suatu kemapanan yang dipelihara oleh narasi kepentingan dan klaim kekuasaan. Dekonstruksi digerakan oleh kecemasan terhadap makna yang ada, untuk merefleksikan ulang, agar makna itu diselidiki dan dipertanyakan secara tegas.

Dan mempertanyakan ulang teks-teks yang ditulis, berhubungan dengan kebenaran-kebenaran yang disembunyikan oleh negara melalui sejarah. Dan kecurigaan itu memperkuat fungsi dekonstruksi dalam membongkar kepalsuan lama dengan menyusun kembali makna-makna baru atas hasil interpretasi kaum-kaum yang ditindas. Melihat lebih dekat tentang Papua, apakah sedang berlangsung penindasan teks?

Bagaimana menghadapi realitas yang penuh manipulasi yang membuat orang Papua terus-menerus ditindas oleh teks-teks dengan cara-cara dehumanisasi, dan menyudutkan sisi kemanusiaan, melalui kecurigaan ada semacam kesengajaan kekuasaan mengaburkan kosmologi (asal-usul) dari kekayaan berpikir masyarakat Papua.

Banyak sekali kemungkinan dan kontradiksi yang akan terungkap, ketika melihat Papua dari perspektif Dekonstruksi Derrida. Makna-makna historis yang sengaja disembunyikan agar jalan pikiran orang Papua semakin ditertibkan dengan cara-cara represif kekuasaan. Mengkonstruksi Ulang Wacana Media tentang Papua Pemikiran dekonstruksi begitu kuat dan dekat dengan kecemasan yang ada di Papua, karena banyak wacana yang dimanipulasi melalui simbol dan teks soal HAM, politik, dan sejarah.

Lewat teks, ada kecurigaan bahwa kekuasaan dapat dengan leluasa menyembunyikan jejak masa lalu, dengan mengendalikan teks itu dan mengaburkan makna-makan tentang fakta yang sebenarnya. Alasan bahwa mengapa dekonstruksi menjadi metodologi berpikir kritis demi membongkar pertentangan dan kesengajaan rezim untuk menutup-nutupi kebenaran, dan menyelidiki secara logis dan tuntas dimana kontradiksi itu disembunyikan.

Dengan begitu, dekonstruksi akan mengarahkan kita pada temuan interpretasi dan hasil dari itu akan menentukan langkah selanjutnya yaitu membangun ulang makna yang dikendalikan tadi.

Bagaimana menghadapi realitas media yang tidak pernah tuntas mengabarkan hak-hak kemanusiaan dan keadilan di Papua? Teks-teks yang dibangun media cenderung lebih pada doktrinasi. Sementara dekonstruksi dimaksud melihat segala wacana dan narasi dalam bentuk “kesementaraan” tidak ada klaim murni terhadap perspektif yang dihidupkan dalam suatu teks, artinya ada hak bagi segala interpretasi baru untuk muncul ke permukaan.

Teks atau narasi yang menyudutkan kemanusiaan orang Papua, tanpa menerangkan dimana letak kontradiksi sebenarnya adalah bentuk-bentuk eksploitasi atau penindasan yang sedang dilakukan negara.

Teks yang melalui media cenderung satu arah dan menyudutkan, yaitu membangun tesis-tesis yang memihak pada negara, namun ketidakadilan itu meluas karena teks yang ada tidak memperlihatkan sisi yang lain (sisi yang sebenarnya) sehingga kebohongan-kebohongan terus-menerus berkembang melalui doktrinasi. Sebagai manusia, ada kehendak yang kuat dari orang Papua agar ingin mencari dan menemukan dignitas (jati diri, karakter) mereka yang sesungguhnya.

Namun, teks-teks yang ada seolah-olah mencegah supaya orang Papua tidak pernah tiba pada apa yang sedang mereka cari. Dekonstruksi adalah bagian dari subversi untuk mengganggu narasi-narasi yang selama ini sengaja dipelihara dengan teks-teks media yang tidak membuka kemungkinan terhadap interpretasi baru.

Dekonstruksi dimaksudkan agar Papua perlu memiliki analisis akademis yang secara subversif mempertanyakan segala makna yang disembunyikan, sekaligus mencurigai wacana negara dengan kehendak menemukan sejarah dan budaya yang otentik menurut perspektif Papua. Haryatmoko (2015), memandang dekonstruksi Derrida tidak bermaksud memporak-porandakan makna, namun menyelidiki dimana kebanaran dan kepastian dari makna tersebut.

Dengan maksud itu, dekonstruksi berupaya mengidentifikasi dan menemukan kontradiksi dalam teks dengan membuka kemungkinan interpretasi yang radikal, termasuk menemukan inkonsistensi-inkonsistensi yang bersembunyi di belakang wacana. Artinya dekonstruksi membenci ketertiban yang sengaja diputuskan secara final, namun sebaliknya, kontradiksi itu harus mampu menelanjangi fenomena dalam teks itu.

Aliran post strukturalis lain seperti Michele Foucault juga mempertentangkan hal tersebut, dengan menduga ada perselingkuhan antara pengetahuan dan kekuasaan. Aliran ini mengarah pada suatu agenda yang subversif, dan dari sisi lain, kekuasaan menentang dominasi dan mencegah mereka yang ingin mengganggu kemapanan kekuasaan.

Pemikiran akan kebenaran yang dibangun cenderung ditentukan oleh ideologi kekuasaan Analisis Wacana sebagai Metode Berpikir Kritis Mengapa dekonstruksi perlu dipikirkan untuk dipakai, dapat dikatakan sebagai jalan pembebasan orang Papua dari segala bentuk penindasan teks?

Haryatmoko memandang bahwa dekonstruksi mirip seperti analisis wacana kritis (critical disscourse analysis), menggerakan kekuatan daya berpikir kritis, untuk melawan kekeliruan-kekeliruan sejarah yang sudah dibangun dan “dipaksakan” untuk disatukan dalam bahasa (teks).

Teks-teks sejarah yang memanipulasi kebenaran, adalah bentuk dari dominasi ideologi, yang tidak siap membuka atau menghadirkan dialektika terhadap teks-teks itu, sehingga seolah-olah hanya ada satu makna yang mendoktrin sejarah tanpa melihat sudut pandangan orang-orang yang punya sejarah itu, yang ditindas oleh teks-teks kekuasaan.

Dekonstruksi yang dimaksud bukan sekadar kenikmatan membongkar apa yang disembunyikan dalam teks, dengan konsekuensi agar segala hal itu dibangun ulang melalui gramatika kata-kata.

Dekonstruksi Derrida adalah bentuk kecurigaan dengan mengajukan pertanyaan terhadap segala kemungkinan baru dari teks dengan anggapan bahwa kita tidak akan menemukan esensi murni.

Apabila semua kehidupan dan sistem manusia merupakan wacana, teks, maka makna harus ditemukan di dalamnya (Donnell, 2009).

Sumber:

Haryatmoko, “Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post-Strukturalis”, Kanisius, Yogyakarta, 2015

Kevin O’Donnell, “Posmodernisme”, Penerbit Kanisius, Yoyakarta, 2009

Write for rights

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…