OUR NETWORK

Deklarasi NU-Muhammadiyah untuk Penguatan NKRI

Deklarasi yang berhasil dilaksanakan di gedung PBNU kemarin perlu dikembangkan lagi di tingkat struktur bawah. Misalnya dalam bidang akademik, selain dilakukan upaya dialog kebangsaan antara akademisi NU dan Muhammadiyah, juga perlu dilakukan dialog kependidikan yang mengarah pada penguatan karakter, keislaman dan keindonesiaan.

Deklarasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang berlangsung (23/3/2018) di gedung PBNU Jakarta menjadi momen penting bagi umat Islam Indonesia untuk menyatukan pandangan dalam menghadapi berbagai isu kebangsaan yang akhir-akhir ini sedang bergejolak tidak menentu.

Dalam situasi yang serba tidak menentu tersebut, bermunculan berita-berita yang kontradiktif, bahkan tidak menutup kemungkinan berbagai berita tersebut ada indikasi sengaja diciptakan secara spontan untuk kepentingan politik dari berbagai pihak tertentu.

Di tengah-tengah situasi yang serba tidak menentu ini, justru diperparah lagi oleh hadirnya sebagian dari aktor pendakwah yang nampak kurang bijaksana dalam menyampaikan pesan dakwah agamanya. Melalui media internet, aksi dakwah yang terkadang memicu ketegangan diantara sesama anak bangsa dengan ekspresi semisal menyerang lawan dengan nada sarkatis justru menambah sinyal kegaduhan tersebut.

Apa yang sering digembar-gemborkan dalam banyak ragam majelis pengajian dari sebagian pendakwah untuk menyatukan umat Islam selama ini tidak cukup efektif untuk benar-benar diikuti oleh masyarakat.

Hal itu karena pesan yang disampaikan sering kontradiktif dengan realitas yang sebenarnya. Sebut saja drama tuduhan seorang ustadz yang sangat menggelikan dan sangat tidak etis untuk diucapkan seorang ustad pada seorang kyai al ‘allamah dan juga Syuriah PBNU yang sudah viral di medsos saat ini.

Semangat militansi untuk menyatukan umat Islam yang mereka gembar-gemborkan tersebut justru membuat kecemasan tersendiri bagi sebagian Muslim di Indonesia. Bagi yang merasa cemas dengan pekik takbir yang sering muncul di jalanan yang diteriakkan justru tidak sesuai dengan spirit persatuan itu sendiri.

Tidak sesuai karena di dalam teriakan tersebut tidak segan-segan terkadang keluar hujatan dan cacian yang tidak disadari akan merugikan orang lain sebagai mana satu contoh kasus teriakan ustadz yang sedang ramai di medsos saat ini.

Bisa dicermati betapa gerakan militansi dari sebagian mereka memang tidak mencerminkan persatuan umat karena sering melahirkan konfrontasi dan respon penolakan dari sebagisn masyarakat lain yang merasa dirugikan. Hal ini sekali lagi yang saya katakan bahwa semangat untuk mempersatukan umat tidak mungkin akan terwujud jika pola dakwahnya tidak berubah. Menyerukan harmonisasi, kedamaian, dan persatuan umat harus didasari dengan ketulusan jiwa dan kebijaksanaan.

Pada sisi lain, sebenarnya apa yang diframing oleh sebagian dari pendakwah tersebut memang tidak bisa dipisahkan dari semangat militansi Islam yang berlebihan. Pada posisi ini, gerakan mereka ditujukan sebuah kepentingan yang terkadang bisa dilihat untuk mendegradasi semangat nasionalis dan kebangsaan dengan isu kebangkitan Islam yang oleh Dr. Haidar Nashir dalam disertasinya diistilahkan dengan semangat “Islam Syariat”.

Bagi masyarakat yang tidak memiliki latar belakang pemahaman keagamaan yang luas dan mendalam, serta tidak memiliki pemahaman terhadap pengalaman sejarah, berbagai isu kebangkitan Islam, baik yang bersifat tahriri dan ikhwani yang walaupun berbeda dalam bentuk gerakannya, namun keduanya memiliki kesamaan ideologi untuk mendirikan sistem negara Islam dengan model Khilafah atau model Darul Islam, maupun dalam bentuk Islam Syariat yang hanya terfokus pada penegakan syariat Islam, sebagian masyarakat akan terbawa pada framing tersebut. Pada sisi yang lain, interaksi gerakan mereka di Indonesia saat ini sulit untuk dibedakan karena sudah menyatu dalam bentuk “gerakan baru keislaman Indonesia”.

Wahdah Islamiyah sebagai ormas Islam yang menurut Din Wahid dikatakan dalam disertasinya sebagai Salafi Tanzhimi, merupakan “bentuk baru  dari gerakan Islam Indonesia” yang pada saat ini memiliki semangat gerakan Islam Syariat tersebut. Organisasi Islam yang kemunculannya pada saat itu dipicu oleh perselisihan dari sebagian aktornya yang kecewa dengan Muhammdiyah karena telah mengakui Pancasila sebagai ideologi tunggal negara, pada saat ini memiliki paran strategis dan mampu menggerakkan semangat kebangkitan Islam yang dibingkai dengan persatua Islam.

Pada sisi yang lain juga, gerakan baru kebangkitan Islam ini, terkadang memiliki daya tawar politik yang dengan isu Islam Syariatnya dianggap mampu menyedot suara umat Islam untuk kepentingan suara dalam pilkada atau pemilihan presiden, yang dari sini juga cukup membuat para politisi kebingungan dan nampak sekilas “maju-mundur” untuk mendekat atau menjauhinya.

Dalam posisi seperti ini, kehadiran NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia sangat menentukan arah umat Islam Indonesia untuk berlabuh. Kehadiran NU dan Muhammadiyah sebagai institusi keislaman yang tidak diragukan lagi peranannya sebagai penjaga keutuhan NKRI perlu lebih ditingkatkan kembali. Tidak hanya menjadi tempat berlabuh bagi umat Islam, NU dan Muhammadiyahjuga diharapkan mampu menjadi pengayom kelompok minoritas di Indonesia.

Deklarasi yang berhasil dilaksanakan di gedung PBNU kemarin perlu dikembangkan lagi di tingkat struktur bawah. Misalnya dalam bidang akademik, selain dilakukan upaya dialog kebangsaan antara akademisi NU dan Muhammadiyah, juga perlu dilakukan dialog kependidikan yang mengarah pada penguatan karakter, keislaman dan keindonesiaan.

Dalam bidang sosial, perlu dibentuk langkah bersama untuk membantu masyarakat mustadh’afin, berkolaborasi dalam pendistribusian zakat, infaq, dan shodaqoh dari hasil pemberdayaan lembaga Amil Zakat yang dimiliki oleh kedua ormas Islam ini. Hal yang sama juga perlu dilakukan ditingkat unsur banom-banom kepemudaan lain, seperti kerjasama antara GP Ansor dengan PP Muhammadiyah dan bentuk kerjasama lainnya dari kedua ormas NU dan Muhammadiyah.

Dengan penguatan jalinan persaudaraan antar kedua ormas ini, yang kemudian ditindak lanjuti dengan penguatan kerjasama ditingkat struktur di bawahnya masing-masing, harapan dari deklarasi yang diwakili oleh Ketua Umum PB NU Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. K.H. Haidar Nashir, MA akan benar-benar bisa terwujud.

Khususnya di dalam mewujudkan lima poin yang disepakati bersama, yaitu bersama-sama bersepakat untuk menjaga keutuhan NKRI, meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan pendidikan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, menjaga dan menciptakan iklim politik yang kondusif dan demokratis di tahun politik ini, dan menolak segalabentuk berita fitnah (hoax) yang akan mengoyak dan merugikan keutuhan persaudaraan bangsa Indonesia.

Sehingga, dengan penguatan persaudaraan antara NU dan Muhammadiyah akan mampu menatap masa depan Indonesia dengan penuh semangat optimisme dan sekaligus menolak bentuk sikap apatis dan pesimisme.

Sumber Bacaan:

Jurdi, Syarifuddin. (2012). Wahdah Islamiyah dan Gerakan Transnasional: Hegemoni, Kompromi dan Kontestasi Gerakan Islam Indonesia. Yogyakarta: LABSOS UIN Sunan Kalijaga

Nashir, Haidar. (2013). Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia. Bandung: Mizan

Wahid, Din, (2014). Nurturing Salafi Manhaj: A Study of Salafi Pesantrens in Contemporary Indonesia Disertasi Ph.D di Utrecht University, tidak dipublikasikan

Dosen UIN SMH Banten dan Mahasiswa S3 UIN SUKA Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…