Rabu, April 14, 2021

Dejavu Pilpres 14/19 (Mudah ditebak)

Mengapa SpaceX Penting Dibicarakan?

Keberhasilan SpaceX mengantar dua astronot NASA mengorbit di Internasional Space Station (ISS) menjadi penanda kemenangan Elon Musk pada perang dagang luar angkasa. Namun itu...

Bom Surabaya dan Upaya Pemerintah Melawan Terorisme

Kejadian teror yang menimpa warga Surabaya khususnya bagi umat kristen di Gereja Kristen Indonesia, Gereja Santa Maria, dan Gereja Pantekosta membuat seluruh masyarakat berduka...

Globalisasi: Payung Baru bagi Terorisme

‘Terorisme’, seakan telah menjadi sebuah kata yang kerap mengahantui siapa saja. Berbagai tindakannyapun sangat sulit untuk diprediksi. Meski demikian, tak banyak yang mengerti apa...

Menembus Batas Realitas

Di sela kesibukan kerja yang hampir dirasa tiada pernah habis, saya memikirkan kembali pertanyaan yang bergelayut di dalam pikiran selama ini. Barangkali pertanyaan yang...
Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Duel ulang pertarungan pilpres antara Jokowi vs Prabowo menjadi sajian kontestasi politik yang bisa dikatakan membosankan. Ini tidak lain karena tidak adanya pilihan lain, atau opsi baru yang memberikan harapan dan tawaran yang lebih segar dibandingkan dua kandidat tersebut.

Sebenarnya kebosanan masyarakat sebagai pemilih bisa sedikit tertanggulangi jika kedua kandidat ini memberikan ide atau tawaran baru yang berbeda dengan tawaran yang diberikan pada masa pemilihan sebelumnya, namun faktanya apa yang ditawarkan yang digaukan kedua kubu kepada masyarakat seakan tak ada beda dan kembali hanya bernostalgia dengan janji lama yang telah usang diatmbah dengan kritik dan lagi-lagi terhadap hal yang sama dengan yang dahulu ditawarkan.

Drama politik yang sekan terus berlanjut dan berulang. Kedua kandidat sekan tidak belajar dari keadaan dan situasi pemilihan yang sebelumnya. Karakter keduanya sama persis dengan yang sudah-sudah.

Tak ada perubahan sebagai bentuk koreksi dari apa yang pernah dulu menjadi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bahkan saat ini ditambah dengan adanya politisasi golongan yang terlihat begitu nyata yang dimanfaatkan oleh kedua kubu.

Politik identitas yang sebenarnya menurut penulis tidak efektif untuk diterapkan atau digunakan sebagai strategi untuk memenangkan pemilu di Indonesia. Mengingat masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman kultur dan plural.

Memainkan politik identitas sebagai strategi pemenangana hanya akan membuat terjadinya polarisasi dalam masyarakat, dan bahkan akan merusak tatanan golongan yang digunakan identitasnya sebagai alat atau kedok untuk memenangkan pemilihan umum.

Duel ulang dengan tanpa ada perubahan baik dari kandidat dan modal politik membuat pilpres ini sekan muadah ditebak. Awal hingga akan berakhir sama seperti sebelumnya.  Mengapa? Setidaknya dua indikator dapat dijadikan sebagai alasan untuk menguatkan pendapat ini yaitu, peta politik yang tidak berubah dan orang Indonesia yang susah move on.

Pemetaan politik di Indonesia dalam rentang 5 tahun terakhir tidak jauh berubah.  Ini menjadi fakta bagaimana perkembangan perubahan kekuatan politik di Indonesia yang tidak dengan mudah dan cepat berubah hanya dalam satu periode pemerintahan.

Tolak ukurnya adalah bagaimana pemilu 2004 dan 2009 yang dalam rentang tersebut tidak kontrasnya perubahan kekuatan politik, dibuktikan dengan petahana saat itu kembali memenangkan pemilihan umum (SBY) dengan partai pengusung yang tidak jauh berbeda dengan pemilu 2004.

Perubahan pemetaan kekuatan politik baru terlihat secara nyata setelah 10 tahun berlalu, dimana partai oposisi dan koalisinya berhasil memenangkan kontestasi.  Ini menjelaskan bagaimana tren perkembangan kekuatan politik di indonesia yang membutuhkan waktu dua periode pemilihan untuk berubah.

Selain indikator tren 5 tahunan dan 10 tahuna peta kekuatan politik, indikator lain yaitu orang Indonesia yang susah move on terhadap pilihannya.  Orang Indonesia beperan? Faktanya kebanyakan demikian.

Ternyata tidak hanya dalam soal asmara orang Indonesia mudah terbawa perasaan.  Bagaiamana fakta membuktikan status galau baper asmara netizen Indonesia seakan berbanding lurus dengan status dukungan dan mengelukan calon pemimpin pilihan mereka.

Bahkan saking bapernya mereka saling menghujat saling membenci.  Hal ini sebagai gambaran diduniamaya, dalam fakta nyata bagaimana kemenangan incumbent pada pilpres 2009. Hal tersebut menjadi sandaran bagaimana orang Indonesia yang tidak mudah berubah penilaiannya terhadap sosok kandidat pemimpin yang akan mereka pilih.  Pun dengan pemilu 2019 ini dengan survei yang ada mengindikasikan hal yang sama akan terjadi seperti pemilu 2009 yang lalu.

Namun demikian semua hal tersebut diatas adalah sebuah analisis berdasarkan beberapa fakta sebelumnya atau catatan sejarah pilpres. Adapun pilpres 2019 ini walaupun seperti suah dikatakan pada awal tulisan ini tidak ada perbedaan kandidat dan tawarannya dengan pemilu sebelumnya bisasaja akan ada catatan sejarah baru yang bertolak belakang dengan perkiraan hasil analisis tersebut.

Melihat kegigihan masing-masing tim pemenangan dan tim kampanye pasangan calon yang begitu gigih, pendekatan yang efektiflah yang akan berhasil meluluhkan hati pemilih dan tentu akan dengan elegan memenangkan paslon yang mereka perjuangkan.

Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.