Jumat, Februari 26, 2021

Dejavu Pilpres 14/19 (Mudah ditebak)

‘Saya Memilih Pemimpin Yang Sering di Fitnah’

Kejadian yang menimpa Presiden Joko Widodo dan Bupati Purwakarta Kang Dedi Mulyadi dengan tuduhan Musyrik, syirik dan keluar dari akidah. Bahkan tuduhan PKI maupun...

Melawan Stigma dan Diskriminasi Disabilitas Era Jokowi

Tak dapat dipungkiri bahwa banyak orang yang menganggap disabilitas adalah sebuah aib yang memalukan. Keluarga dan kerabat penyandang disabilitas pun sering tidak terbuka terhadap...

Mengenang Si Bung, Kolumnis yang Bukan Alang-Kepalang itu

Malam itu, 30 September 1995, dia masih sempat menonton film Pemberontakan PKI atau lebih populer dengan Gerakan tiga puluh September—G 30 S--PKI. Bagi Anda...

Pasca Hari Santri Nasional, Menuju Tahun Politik 2019

Tepat pada tanggal 22 Oktober 2018 lalu, para santri dan elemen yang terkait memperingati Hari Santri Nasional. Peringatan tersebut dimaknai sebagai momentum kilas balik...
Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Duel ulang pertarungan pilpres antara Jokowi vs Prabowo menjadi sajian kontestasi politik yang bisa dikatakan membosankan. Ini tidak lain karena tidak adanya pilihan lain, atau opsi baru yang memberikan harapan dan tawaran yang lebih segar dibandingkan dua kandidat tersebut.

Sebenarnya kebosanan masyarakat sebagai pemilih bisa sedikit tertanggulangi jika kedua kandidat ini memberikan ide atau tawaran baru yang berbeda dengan tawaran yang diberikan pada masa pemilihan sebelumnya, namun faktanya apa yang ditawarkan yang digaukan kedua kubu kepada masyarakat seakan tak ada beda dan kembali hanya bernostalgia dengan janji lama yang telah usang diatmbah dengan kritik dan lagi-lagi terhadap hal yang sama dengan yang dahulu ditawarkan.

Drama politik yang sekan terus berlanjut dan berulang. Kedua kandidat sekan tidak belajar dari keadaan dan situasi pemilihan yang sebelumnya. Karakter keduanya sama persis dengan yang sudah-sudah.

Tak ada perubahan sebagai bentuk koreksi dari apa yang pernah dulu menjadi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Bahkan saat ini ditambah dengan adanya politisasi golongan yang terlihat begitu nyata yang dimanfaatkan oleh kedua kubu.

Politik identitas yang sebenarnya menurut penulis tidak efektif untuk diterapkan atau digunakan sebagai strategi untuk memenangkan pemilu di Indonesia. Mengingat masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman kultur dan plural.

Memainkan politik identitas sebagai strategi pemenangana hanya akan membuat terjadinya polarisasi dalam masyarakat, dan bahkan akan merusak tatanan golongan yang digunakan identitasnya sebagai alat atau kedok untuk memenangkan pemilihan umum.

Duel ulang dengan tanpa ada perubahan baik dari kandidat dan modal politik membuat pilpres ini sekan muadah ditebak. Awal hingga akan berakhir sama seperti sebelumnya.  Mengapa? Setidaknya dua indikator dapat dijadikan sebagai alasan untuk menguatkan pendapat ini yaitu, peta politik yang tidak berubah dan orang Indonesia yang susah move on.

Pemetaan politik di Indonesia dalam rentang 5 tahun terakhir tidak jauh berubah.  Ini menjadi fakta bagaimana perkembangan perubahan kekuatan politik di Indonesia yang tidak dengan mudah dan cepat berubah hanya dalam satu periode pemerintahan.

Tolak ukurnya adalah bagaimana pemilu 2004 dan 2009 yang dalam rentang tersebut tidak kontrasnya perubahan kekuatan politik, dibuktikan dengan petahana saat itu kembali memenangkan pemilihan umum (SBY) dengan partai pengusung yang tidak jauh berbeda dengan pemilu 2004.

Perubahan pemetaan kekuatan politik baru terlihat secara nyata setelah 10 tahun berlalu, dimana partai oposisi dan koalisinya berhasil memenangkan kontestasi.  Ini menjelaskan bagaimana tren perkembangan kekuatan politik di indonesia yang membutuhkan waktu dua periode pemilihan untuk berubah.

Selain indikator tren 5 tahunan dan 10 tahuna peta kekuatan politik, indikator lain yaitu orang Indonesia yang susah move on terhadap pilihannya.  Orang Indonesia beperan? Faktanya kebanyakan demikian.

Ternyata tidak hanya dalam soal asmara orang Indonesia mudah terbawa perasaan.  Bagaiamana fakta membuktikan status galau baper asmara netizen Indonesia seakan berbanding lurus dengan status dukungan dan mengelukan calon pemimpin pilihan mereka.

Bahkan saking bapernya mereka saling menghujat saling membenci.  Hal ini sebagai gambaran diduniamaya, dalam fakta nyata bagaimana kemenangan incumbent pada pilpres 2009. Hal tersebut menjadi sandaran bagaimana orang Indonesia yang tidak mudah berubah penilaiannya terhadap sosok kandidat pemimpin yang akan mereka pilih.  Pun dengan pemilu 2019 ini dengan survei yang ada mengindikasikan hal yang sama akan terjadi seperti pemilu 2009 yang lalu.

Namun demikian semua hal tersebut diatas adalah sebuah analisis berdasarkan beberapa fakta sebelumnya atau catatan sejarah pilpres. Adapun pilpres 2019 ini walaupun seperti suah dikatakan pada awal tulisan ini tidak ada perbedaan kandidat dan tawarannya dengan pemilu sebelumnya bisasaja akan ada catatan sejarah baru yang bertolak belakang dengan perkiraan hasil analisis tersebut.

Melihat kegigihan masing-masing tim pemenangan dan tim kampanye pasangan calon yang begitu gigih, pendekatan yang efektiflah yang akan berhasil meluluhkan hati pemilih dan tentu akan dengan elegan memenangkan paslon yang mereka perjuangkan.

Alfian Fallahiyan
Penulis harian lepas, alumni pasca sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.