Jumat, Oktober 30, 2020

Degradasi Moral Pelajar Masa Kini, Refleksi Masa Depan Bangsa?

Merekat Persatuan dalam Kebhinekaan

Jauh sebelum Indonesia merdeka, bangsa kita telah hidup rukun dan tenteram dalam kebersamaan yang bernuansa keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika, yang sekarang menjadi semboyan bangsa...

Johnny English: Kekonyolan yang di Eksploitasi

Rowan Atkinson sang maestro komedi kembali hadir dengan karakter usil dan konyol di layar bioskop tahun ini. Sejak awal kemunculannya di layar kaca sebagai...

Kekuatan Literatur

Habakuk  2:2 Lalu  TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan  ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanyaMenulis Adalah Salah Satu Perintah...

Pemilu dan Kecurangan Akal sehat

Dalam hitungan beberapa hari lagi kita akan melaksanakan pesta Demokrasi yaitu pemilu serentak. Dalam hal ini, kita telah banyak dipertontonkan sejumlah ketegangan yang tentu...
Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.

Di era globalisasi saat ini yang segala sesuatunya manusia selalu mengandalkan teknologi merubah pola hidup masyarakat secara global. Tentunya ini sangat merubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat, mulai dari sistem ekonomi, politik, kesehatan, hingga pendidikan.

Sehingga pelajar masa kini yang tumbuh dan berkembang di era globalisasi ini terpengaruh dengan adanya perubahan di lingkungannya yang membuat generasi masa kini berbeda dengan generasi sebelum-sebelumnya, mulai dari segi perilaku, moralitas, dan lingkungan yang memiliki pengaruh besar kepada generasi yang tumbuh pada masa kini.

Disamping banyak hal yang positif akibat era globalisasi ini, juga banyak hal negatif yang harus dihindari dan diseleksi karena tidak sesuai dengan kebudayaan yang ada di Indonesia.

Oleh karena itu, pendidikan sebagai media edukasi dan pemahaman kepada para generasi millenial perlu ditanamkan lebih dalam menyikapi perubahan-perubahan yang ada di lingkungan, karena apabila era globalisasi ini tidak disikapi dengan benar, maka akan mulai muncul masalah-masalah baru yang dapat merubah karakter generasi saat ini salah satunya seperti menurunnya moralitas generasi muda khususnya pelajar.

Berbicara mengenai moral, pasti lekat kaitannya dengan budaya dan adab yang sudah berkembang turun temurun di negara ini. Para leluhur kita menjaga budaya dan adab ini untuk menjadi indentitas bangsa ini, bahkan dunia pun sudah mengenal kita sebagai negara yang ramah dan santun.

Tetapi di era globalisasi ini, seakan-akan budaya dan adab itu semakin lama semakin luntur. Berkaca dari para generasi mudanya yang sudah tidak menjunjung tinggi budaya dan adab yang sering kali ditunjukkan dengan perbuatan-perbuatan negatif di kehidupan masyarakat.

Mengapa masyarakat kita sangat sensitif terkait permasalahan adab, budaya, dan moral? Karena moralitas di masyarakat sudah sebagai bentuk kesepakatan masyarakat mengenai apa yang layak dan apa yang tidak layak dilakukan, serta mempunyai sistem hukum sendiri.

Hampir semua lapisan masyarakat mempunyai suatu tatanan masing-masing, bahkan komunitas terkecil masyarakat kadang mempunyai moral/etika tersendiri dengan sistemnya sendiri. Tidak jarang hukuman bagi mereka yang melanggar moralitas, lebih kejam daripada hukuman yang dijatuhkan oleh institusi formal. Hukuman terberat dari seorang yang melanggar moralitas adalah beban psikologis yang terus menghantui, pengucilan dan pembatasan dari kehidupan yang ‘normal’.

Baru-baru ini sikap demoralisasi ditunjukkan oleh generasi-generasi muda bangsa kita, seorang pelajar SMP berinisial AA menantang berkelahi gurunya Nur Khalim (30). Kronologi sebelum kejadian tersebut ketika Nur Khalim menegur siswa berinisial AA yang merokok di dalam kelas, karena tidak terima ditegur oleh gurunya, AA menghampiri gurunya kemudian bersikap seperti siap berkelahi dengan gurunya.

Tentunya kejadian-kejadian seperti ini bukanlah hal yang patut dan baru di dunia pendidikan Indonesia, bahkan kejadian demoralisasi pelajar kepada gurunya hingga merenggut nyawa gurunya yang terjadi di Sampang, Madura.

Ketika itu, Ahmad Budi Cahyono, salah seorang guru kesenian SMA di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, Madura sedang melaksanakan proses belajar mengajar. Selama proses belajar mengajar dilakukan, salah satu siswa berinisial HI tidak fokus mendengarkan pelajaran dan terus mengganggu teman-temannya yang sedang mengerjakan tugas kesenian.

Melihat hal itu, gurunya  langsung menegur siswa berinisial HI. Bukannya malah menghentikan perbuatannya, justru siswa HI ini semakin menjadi-jadi untuk mengganggu teman-temannya, karena murka maka gurunya memberikan coretan di wajahnya sebagai bentuk hukuman. Tidak terima karena wajahnya dicoret terjadi perkelahian yang menyebabkan gurunya terpukul.

Melihat hal itu, guru dan siswa lain mencoba untuk melerai, kemudian guru kesenian tersebut di bawa ke ruangan kepala sekolah dan diizinkan untuk pulang lebih dahulu. Setiba di rumah, korban mengeluh kesakitan di bagian leher. Beberapa saat kemudian korban tidak sadarkan diri, kemudian di rujuk ke RSUD dr. Soetomo. Menurut analisis dokter, pukulan tadi menyebabkan kematian pada batang otak yang menyebabkan nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

Tentunya dari contoh demoralisasi ini tidak boleh dibiarkan lagi terjadi di Indonesia, jangan sampai ada korban kekerasan hingga korban nyawa lagi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pemerintah harus merespon cepat kejadian ini. Perlunya ada penguatan khusus terkait hukum perlindungan bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Selain itu, harus ada perubahan metode pendidikan yang lebih memerhatikan masalah adab, budaya, dan moralitas siswa sehingga kejadian ini tidak terulang kembali.

Tentunya ini bukanlah tugas sekolah atau guru semata, tetapi ini tugas kita semua untuk memberikan lingkungan positif di lingkungan pergaulannya, kemudian memberi pendidikan dalam hal adab dan moral kepada siswa-siswa. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan para pemudanya, apabila pemudanya memiliki sikap yang tidak bermoral, mau jadi seperti apa bangsa ini di masa depan?

Saifullah Putra
Saya Saifullah Putra, mahasiswa di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlanga. Seseorang yang tertarik dengan isu-isu kesehatan dan politik serta juga aktif mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan kerelawanan di masyarakat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.