Jumat, Januari 22, 2021

Dedi-Deddy, Duet Penyabar Bakal Bikin Jabar Berkibar

Rivalitas Terbaru Tiongkok-AS Dalam Konflik Sungai Mekong

Konflik negara-negara di Asia Tenggara kian memanas di awal 2020 kemarin ketika kapal perang Tiongkok memasuki perairan Laut China Selatan. Tindakan Tiongkok ini juga...

Kartini Masa Kini dan Perempuan Koperasi

Dalam bukunya yang populer berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”, Kartini telah menuangkan ide dan gagasan guna membangkitkan semangat bagi kalangan perempuan. Semangat yang terus didoktrinasi...

Negara “Lem Aibon”

Pada suatu hari yang cerah, seorang anak lelaki kumuh masuk ke dalam angkutan kota. Penampilan tadi membuat penumpang lain menjadi was-was. Memakai topi yang...

Mengundang Generasi Millenial dalam Pesta Demokrasi Nasional

"Kita tidak bisa menjalani kehidupan anak-anak kita; bahkan tidak dapat memimpikan impian anak-anak kita" (Khalil Gibran) Tahun Mendatang di 2019 adalah tahun yang sibuk dan...
Avatar
Hamzah Zaelani Mar'ie
Penulis, Mantan Ketua Umum HMI Purwakarta

Peta koalisi pilgub Jawa Barat 2018 terlihat semakin dinamis setiap harinya. Partai politik yang semula sudah sempat terlihat menyatu dalam koalisi dengan jagoan masing-masing dengan mudahnya bubar barisan dalam waktu sekejap.

Koalisi Zaman Now misalnya, yang terdiri dari Demokrat, PKS dan PAN dengan pasangan Demiz-Syaikhu hanya dalam sekejap kandas ketika Gerindra memunculkan Mayjen (Purn) Sudradjat dan menggoda PKS serta PAN untuk turut serta bergabung dalam koalisi.

Selain itu, Golkar pasca Munaslub yang sebelumnya mendukung RK kemudian berbalik arah memberikan dukungan kepada Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi untuk maju dalam kontestasi pilgub Jawa Barat 2018 nanti.

Bahkan, RK yang sudah memiliki tiket pencalonan dalam Pilgub dapat dikatakan belum aman karena ketiga partai pengusung belum selesai dalam menentukan pasangan pada kontestasi nanti. Sinyal ancaman juga dikeluarkan oleh Partai walaupun beberapa waktu terakhir mereka menyatakan koalisi tetap solid dan komunikasi sudah membaik.

Dinamisnya peta politik ini tentu saja membuat para bakal calon khawatir akan berbagai macam kemungkinan sebelum mereka secara legal mendaftarkan diri dalam kontestasi pada januari nanti. Dibutuhkan kerja keras dan kesabaran dalam berkomunikasi oleh para bakal calon menghadapi berbagai dinamika yang terjadi, sehingga mereka dapat melewati rintangan dalam perjalanan menuju kontestasi nanti.

Berbicara soal kesabaran, kiranya terdapat dua sosok bakal calon yang sejak awal menemukan beragam rintangan dan dituntut bersabar dalam perjuangannya, keduanya ialah Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar. Tak hanya memiliki nama yang hampir sama, namun ternyata proses perjuangan yang harus mereka lalui pun hampir serupa.

Bahkan, tak menutup kemungkinan kesamaan itu kemudian yang akan menyatukan keduanya menjadi pasangan yang berjuang dalam pertarungan menjadi pimpinan di Provinsi Jawa Barat 2018 nanti.

Bersatunya kedua tokoh ini memang sudah ramai sejak tadi malam. Sembari berfoto bersama, keduanya mendeklarasikan diri untuk bersatu dalam kontestasi dan jika tak ada halangan akan mendaftarkan diri tanggal 9 Januari nanti. Hal yang membuat menarik dari bersatunya kedua tokoh ini ialah mereka tak ingin dipusingkan terkait siapa yang menjadi Gubernur dan Wakilnya.

Berlandaskan pada tekad untuk mengabdikan diri pada masyarakat Jawa Barat, urusan posisi dikesampingkan terlebih dahulu demi terciptanya koalisi yang solid tanpa tawar menawar kursi. Mereka berdua sepertinya sadar, bahwa dalam berkoalisi, bukan kursi yang menjadi kunci, melainkan bersabar dalam berkomunikasi.

Jawa Barat sebagai provinsi yang luas dan memiliki penduduk dengan jumlah besar memang selayaknya dipimpin oleh tokoh yang penyabar. Karena bagaimanapun, bukan hal mudah menciptakan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia tanpa keuletan dan kesabaran dari pemimpinnya.

Lantas, jika sejak awal sudah terlihat karakter penyabar yang dimiliki oleh Dedi Mulyadi dan Deddy Mizwar ini, apakah dengan bersatunya kedua tokoh ini mampu membawa Jawa Barat semakin berkibar? Tentu saja hanya waktu yang kemudian akan membuktikan itu semua.

Seperti biasanya tulisan ini saya buat sembari menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok di tangan. Namun, karena sudah siang dan perut mulai keroncongan, sambil bersiap hendak mencari makan muncul sebuah tanya dalam pikiran,

Jika duet keduanya terjadi, dengan karakter penyabar dan saling melengkapi yang menciptakan pasangan Nyunda-Nyakola-Nyantri, lantas faktor apa lagi yang hendak menghalangi masyarakat Jawa Barat untuk tidak memilih keduanya sebagai Pemimpin Jawa Barat di 2018 nanti?

Avatar
Hamzah Zaelani Mar'ie
Penulis, Mantan Ketua Umum HMI Purwakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.