OUR NETWORK

Debat Pilgubsu dan Program Unggulan Djarot-Sihar

Artinya debat Pilgubsu menjadi salah satu indikator utama dalam memantapkan pilihannya.

Esensi paling penting dari debat kandidat, baik calon presiden maupun calon kepala daerah adalah rakyat bisa secara langsung melihat calon pemimpinnya menyampaikan visi misi, program dan solusi menyelesaikan persoalan-persoalan krusial.

Pada konteks pilkada, pelaksanaan debat kandidat merupakan tahapan yang dilaksanakan oleh KPU daerah yang wajib diikuti masing-masing pasangan calon (paslon) yang ikut serta dalam kontestasi pilkada serentak tahun 2018.

Pada momentum debat pula, para pemilih pemula, pemilih rasional dan swing voters (masa mengambang) bisa merujuk informasi terkait posisi para calon dalam menanggapi berbagai isu dan persoalan yang menjadi perhatian masyarakat Sumut saat ini. Hal ini disebabkan visi misi dan program paslon berdampak langsung pada pemilih.

Selama ini secara empiris, banyak pemilih yang menjatuhkan pilihan di detik-detik terakhir setelah menyaksikan debat atau ada pula pemilih yang mengubah pilihannya karena program yang disampaikan paslon yang didukungnya tidak fokus dan terlalu utopis. Artinya debat Pilgubsu menjadi salah satu indikator utama dalam memantapkan pilihannya.

Pada hari selasa tanggal 19 juni 2018 nanti, Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) memasuki babak ketiga setelah digelar debat yang pertama (5/5/2018) dan debat kedua (12/5/2018). Kali ini KPU Sumatera Utara mengambil tema “Penegakan Hukum dan Hak Azasi manusia (HAM)” sebagai permasalahan yang harus diselesaikan oleh gubernur dan wakil gubernur terpilih Sumut 5 tahun mendatang.

Dua kandidat Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah yang merupakan paslon bernomor urut satu (1) beradu gagasan dengan paslon nomor urut dua (2) Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus dalam debat terbuka.

Debat ini bisa dikatakan menjadi momentum bagi kedua paslon tersebut untuk merebut empati dan simpati pemilih rasional yang belum menentukan pilihan. Mengingat angka golput dua pilkada terakhir di Sumut yaitu 43% pada Pilgubsu 2008 dan 51,50 % pada Pilgubsu 2013 orang tidak menggunakan hak pilihnya. Artinya secara jumlah dan persentase pemilih rasional sangat menentukan hasil akhir pemilihan di 27 juni 2018 mendatang.

Djarot-Sihar Unggul di Dua Debat Sebelumnya 

Pada analisis saya setidaknya ada empat (4) poin yang perlu menjadi catatan penting dari apa yang disampaikan oleh pasangan Djarot-Sihar dalam di dua debat kemarin;

Pertama, pasangan Djarot-Sihar menyoroti ketimpangan pembangunan di wilayah Pantai Barat dan Pantai Timur Sumut khususnya Kepulauan Nias dengan rujukan Produk Domestik Bruto (PDRB) perkapita daerah-daerah sangat jauh dengan Pantai Timur Sumut.

Di mana PDRB perkapita wilayah di Pantai Barat seperti Kabupaten Nias Selatan yaitu Rp.11.763.472, Kabupaten Nias Rp.16.173.863, Kabupaten Tapanuli Tengah Rp. 16.900.836,  Kabupaten Nias Utara Rp.15.138.638, Kabupaten Nias Barat Rp.12.597.770 dan Kota Gunung Sitoli Rp.20.889.648.

Bandingkan PDRB perkapita daerah-daerah beberapa kabupaten dan kota yang berada di pesisir Pantai Timur seperti Kabupaten Langkat Rp. 25.003.534, Kabupaten Deli Serdang Rp. 29.837.900, Kabupaten Serdang Bedagai Rp   27.264.694, Kabupaten Batubara Rp.52.167.541 dan Kota Medan Rp. 59.236.740.

Kedua, Djarot-Sihar juga memaparkan permasalahan kesehatan terkait stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya masih tinggi di Sumut.

Di mana menurut hasil survei Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 di Sumatera Utara sebesar 16,5 persen bayi di bawah lima tahun (Balita) mengalami tubuh sangat pendek. Kondisi ini disebabkan kemiskinan, kesalahan pola asuh, lingkungan yang buruk dan pengetahuan masyarakat terkait gizi anak dan ibu hamil masih rendah.

Ketiga, Kepulauan Nias masih tertinggal dalam segala indikator karena angka kemiskinan yang tinggi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS tahun 2017) angka kemiskinan  di Sumut masih tinggi  yaitu 9,28 % dari jumlah penduduk Sumut yaitu 1.326.000 orang.

Secara khusus berdasarkan data, angka kemiskinan tertinggi berada di Kepulauan Nias yaitu Kabupaten Nias Utara dengan 29,06 %, Kabupaten Nias Barat dengan angka 27,23% dan  Kota Gunung Sitoli dengan angka 21,66 %.

Hal ini tentu berbanding terbalik dengan sumber kekayaan alam Kepulauan Nias begitu melimpah dengan luasan hutan, pertanian, perkebunan, perikanan  terutama pariwisata yang memiliki potensi yang besar karena keindahannya.

Keempat, pasangan Djarot-Sihar menegaskan bahwa kearifan lokal di Sumut merupakan potensi yang harus tumbuh dikembangkan. Hal ini ditegaskan oleh Djarot saat Edy menanyakan perihal Lubuk Larangan di Tapanuli Selatan.

Di mana orang tidak boleh sembarangan mengambil ikan atau menghabiskannya justru harus dilestarikan, karena potensi ke depannya bisa dijadikan menjadi objek wisata. Lebih lanjut, pada sesi lainnya potensi kearifan lokal yang bisa dijadikan objek wisata adalah hutan kemenyan di Kabupaten Humbahas.

Kelima, pasangan Djarot-Sihar fokus dalam Reformasi Birokrasi yaitu menyederhanakan proses pengurusan perizinan dan dokumen kependudukan dengan mengurangi persyaratanyang tidak krusial namun memberatkan, menggabungkan proses pengurusan beberapa izin dengan penerbitan secara simultan dengan membangun Mal Pelayanan Publik.

Program Unggulan Djarot-Sihar

Harapan masyarakat akan pemimpin mampu membawa keluar Sumut dari ragam persoalan sedang tinggi-tingginya. Harapan ini tentu tidak lepas dari visi misi dan program pada kandidat yang bertarung di Pilgubsu tahun ini. Secara gamblang dan tegas pada debat kemarin, pasangan Djarot-Sihar memaparkan program apa yang akan dikerjakan bila terpilih 5 tahun mendatang.

Pasangan Djarot-Sihar memaparkan setidaknya 7 program yang akan mereka kerjakan di periode 2018-2023, diberi amanat oleh rakyat Sumut untuk menjawab  persoalan di atas. Terutama masalah  penting terkait keadilan dan pemerataan di Sumatera Utara antara lain; Kartu Sumut Pintar (KSP),  Kartu Sumut Sehat (KSS) dan Kartu Sumut Keluarga Sejahtera (KSKS).

Pun program perbaikan infrastruktur jalan hanya dalam waktu dua tahun, pembangunan sarana dan prasarana olah raga melalui Sumut Sport Center (SSC), revitalisasi pasar-pasar tradisional dan pengembangan sektor pariwisata yang dikhususkan di Kepulauan Nias.

Tidak hanya itu, hal paling substansi yang disampaikan oleh Djarot-Sihar dalam dua debat sebelumnya adalah capaian pemerataan pembangunan di Pantai Timur dan Pantai Barat dengan solusi affirmative action untuk wilayah kabupaten kota yang masih tertinggal di Sumut.

Affirmative Action dimaksudkan di sini adalah memberi kesempatan lebih bagi wilayah-wilayah kabupaten/kota yang masih tertinggal secara infrastruktur, gini ratio, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan indikator-indikator lainnya untuk mencapai keadilan yang sesungguhnya.

Sebab, hanya dengan program-program yang berpihak kepada masyarakat, ke depannya kita bisa memastikan keadilan dan kesejahteraan  seluruh  rakyat Sumatera Utara bisa terwujud sesuai dengan amanah konstitusi bangsa Indonesia.

Penulis Buku Berselancar Bersama Jokowi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.