Jumat, Februari 26, 2021

Daya Hidup Ritual Kematian

"Landmark", Pariwisata Kota Gaya Modern

Sejarah arsitektur dunia berkembang cukup pesat. Orang-orang di zaman mesir kuno sudah mulai berpikir untuk mendesain bangunan yang bukan hanya menitikberatkan pada fungsi, tetapi...

Demokrasi Lokal dan Logika Neoliberal

Tak ayal, tema seputar demokrasi lokal kian laku dalam perbincangan di meja publik belakangan ini. Tema tersebut menjadi sajian yang laris sebab beriringan dengan...

Dari Makuta Cynthia Bella, Princess Cake Syahrini Sampai Kanaya Amy Qanita: Bandung Is Here To Stay

Di Bandung, setelah Makuta dari Laudya Cynthia Bella, kemudian ada Princess Cake dari Syahrini dan juga Kanaya dari Amy Qanita. Sederet olahan makanan lainnya...

Jargon Ideologis di Balik Komentar #CrazyRichSurabayans

Film drama komedi Crazy Rich Asian memicu maraknya diskusi di media sosial soal orang-orang super kaya di Indonesia. Tengok saja ratusan tweet di media sosial...
Jantan Putra Bangsa
Nusantarawan yang menekuni dunia Media Digital dan Kebudayaan Indonesia

Gotong royong sebuah istilah yang sangat magis. Selalu disebut dan didengungkan oleh bangsa ini yang entah mengerti atau tidak apa maknanya.

Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, gotong royong selalu identik dengan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Gotong royong menempati istilah paling populer baik dalam soal-soal yang keluar saat ujian maupun dari mulut guru yang mengampu pelajaran PMP. Gotong royong juga melekat dengan istilah kerja bakti dan tolong menolong. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gotong royong memiliki arti bekerja bersama-sama. Begitulah kira-kira gotong royong.

Istilah gotong royong adalah istilah endemik dari bangsa Indonesia. Asli, otentik dan tidak dimiliki oleh bangsa lain. Bahkan, Bung Karno pun menyamakan istilah gotong royong dengan Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila tidak lain adalah gotong royong.

Mari kita berjalan-jalan mengarungi negeri ini. Abaikan sejenak isu-isu politik, SARA dan hoax yang menjamur belakangan ini. Menyusur jalanan kampung-kampung, desa-desa di sekitar tempat tinggalmu. Adakah musibah kematian tetanggamu? Atau mungkin temanmu atau bahkan keluargamu pada hari ini? Jika ada, coba kalian amati peristiwa apa saja yang terjadi di sekitar kematian itu.

Saat terjadi kematian, tanpa ada perintah dari siapa pun, orang-orang akan berkerumun. Menyediakan waktu, tenaga dan mungkin uang untuk keluarga yang terkena musibah. Ikut serta menata isi rumah, menata kursi, mendirikan tenda, memasak dan lain sebagainya.

Dalam hitungan menit, di sekitar rumah yang berduka berubah. Orang-orang mulai berdatangan memberikan ucapan belasungkawa, anak-anak muda menata kendaraan yang parkir, menyediakan halaman-halaman rumah mereka untuk dipakai berkumpul, gang-gang kampung ditutup untuk ditempati para tamu. Semua ini terjadi begitu saja tanpa adanya perintah dan rapat-rapat pembentukan panitia kematian dan tidak ada honor untuk pekerjaan-pekerjaan ini. Semua tulus dan ikhlas.

Ritual kematian pun berjalan. Dimulai dengan memandikan jenazah, membungkus jenazah, menggotong jenazah menuju pemakamanan dan menguburnya. Usai itu, hiruk-pikuk masih terjadi di rumah keluarga yang terkena musibah. Merapikan kembali kursi-kursi, mencopot tenda, dan perlahan kendaraan-kendaraan yang terparkir meninggalkan rumah, serta jalanan di gang kampung kembali dibuka untuk umum. Namun, rumah keluarga yang terkena musibah masih hiruk pikuk dengan datangnya tamu-tamu. Dan Sekali lagi setelah acara selesai, tidak ada rapat pembubaran panitia.

Begitulah kira-kira ritual saat terjadi kematian. Gotong royong masih dapat kita lihat. Hal ini adalah daya hidup bangsa Indonesia yang sudah jarang ditemui dalam ritual-ritual yang lain. Daya hidup inilah yang harus kita transformasikan ke dalam ritual yang lain. Kita bawa memasuki sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan begitu, kita tidak akan saling mencaci, mengklaim diri paling benar dan menciptakan permusuhan diantara saudara kita sendiri.

Seandainya daya hidup ritual kematian dapat kita bawa ke ruang lain, seperti misalnya di sekolah, saat ada seorang teman yang tidak bisa membayar biaya sekolah, kita membantunya. Kita bawa ke rumah sakit, saat ada orang yang sakit dan tidak mampu membayar biaya rumah sakit, kita membantunya. Kita bawa ke jalanan, saat ada gelandangan yang tidak punya rumah tinggal dan tidak dapat makan, kita membantunya.

Mari kita sama-sama membayangkan jika gotong royong dapat kita bawa ke segala sendi kehidupan. Tentu bangsa ini akan menjadi bangsa besar, makmur dan sejahtera rakyatnya, berwibawa pemimpinnya.

Jantan Putra Bangsa
Nusantarawan yang menekuni dunia Media Digital dan Kebudayaan Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.