Minggu, Februari 28, 2021

Dari Obrolan Warung Kopi Sampai Purwakarta Kini

Kilas Balik Pop Indonesia tahun 80-an

Kelompok musik Koes Bersaudara yang dulu dikenal dengan gaya rock and roll harus pindah haluan akibat pelarangan musik ngak ngik ngok oleh Presiden Soekarno....

Benarkan PNS Tidak Produktif?

Pengawai Negeri Sipil atau PNS dalam kacamata masyarakat luas memiliki stigma tak bagus lantaran kurang produktif, kurang kompeten dan malas bekerja meskipun berbagai upaya...

Pesan Manis untuk Kawan Introvert yang Sering Insecure

Istilah insecure belakangan ini sering digunakan oleh banyak orang, terutama kaum muda yang merasa dirinya adalah pribadi introvert. Memiliki kemampuan bersosialisai rendah, pemalu, pendiam...

Catatan Tabu Gojek Liga 1 Paruh Musim 2018

Akhirnya Gojek Liga 1 2018 sudah sampai pada putaran paruh musim, dengan Persib Bandung keluar sebagai juara paruh musim kompetisi kali ini, mengeser Madura...
HendraJanuar
Pendiri Komunitas Warung Filsafat (WaFat) Jakarta, penyuka semur jengkol dan ikan teri kering, dan suami dari perempuan yang belum ditakdirkan bertemu.

Sekali waktu, berjalanlah di sepanjang Taman Air Mancur Sribaduga. Akan Anda jumpai banyak hal yang menyegarkan mata: pepohonan yang mengitari seluruh taman, air mancur yang meliuk-liuk di pusaran Situ Buleud, patung badak yang dihiasi air di pertigaan mulut taman, serta para pedagang dengan aneka kuliner di sana.

Sabtu lalu, ketika langit mulai gelap, bersama seorang kawan, saya nongkrong di warung kecil tepat di hotel Grand Situ Buleud. Masing-masing kami memesan segelas kopi dan dua bungkus rokok kretek. Seperti kebiasaan kami, kopi dan rokok adalah kombinasi sempurna untuk menemani obrolan ngaler-ngidul.

“Coba ente lihat sekitar, semua sudah berubah, Purwakarta kini harus kembali kita kenali,” ujarnya.

“Mengapa harus begitu? Apa yang asing dari Purwakarta hingga kudu kembali dikenali?” tanya saya.

“Ente buka mata saja,” lanjutnya. “Purwakarta sudah gak kayak dulu lagi.”

Tentu saja saya tidak begitu paham maksudnya. Kalimat “sudah tidak kayak dulu lagi” itu, selain mirip lirik lagu alay, juga tidak begitu padat. Kalimat yang ambigu, multi tafsir, equivocal serta sulit menelurkan deskripsi tunggal darinya. Sembari menghangatkan tubuh dengan segelas kopi yang masih panas, saya coba menerka-nerka substansinya. Apalagi dia tidak menguraikan secara details, malah terlihat cuek. Menjengkelkan!

Ingatan saya kemudian terlempar pada sepuluh tahun lalu. Pada kurun waktu dimana saya masih duduk di bangku SMA. Sepulang sekolah, apalagi hari sabtu, saya biasanya langsung nangkring di Situ Buleud sebelum bergeser ke Alun-alun ketika hari mulai gelap. Karena akan ada pertunjukkan sepeda motor dengan free style, berputar-putar seperti gangsing dan tidak sedikit yang membawa minuman keras.

Dahulu, Alun-alun Purwakarta hanyalah lapangan yang beralaskan paping block, dikelilingi pepohonan tinggi dan kering, berdebu dan hanya digunakan secara resmi untuk upacara-upacara bendera. Tidak cocok untuk dijadikan tempat bermain keluarga yang butuh suasana tenang, aman dan oksigen yang cukup. Tetapi sekarang semuanya berubah. Nyaris seluruh wajah kota Purwakarta disulap menjadi destinasi wisata yang menarik orang-orang untuk bertumpah ruah di sana.

“Oh, aku tahu maksudmu. Sekarang secara fisik Purwakarta sudah banyak berubah, bukan? Dulu kota Purwakarta kumuh, sampah dimana-mana, tidak ada taman, tidak ada tempat bermain, tidak ada ruang edukasi publik, tapi sekarang sudah berubah. Begitukah?” tanya saya menegaskan maksudnya.

“Ana gak ngira pikiran ente sedangkal itu,” jawabnya, “orang awam juga tahu pembangunan Purwakarta berubah.”

“Tapi, bukankah itu berefek pada pandangan orang tentang Purwakarta saat ini, dimana sekarang Jawa Barat punya kabupaten dengan Air Mancur terbesar se-Indonesia dan munculnya taman-taman, hingga kita sebagai orang sunda kembali percaya diri?”

Dia tidak menjawab, hanya diam dengan memasang wajah dingin. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada dua pasang muda-mudi yang berjalan bergandengan tangan. Sambil mengepulkan asap rokok, dia nampak tidak peduli dengan pertanyaan saya terakhir.

Sial! Dalam hati saya merasa dongkol. Apa maksudnya dia bilang pikiran saya dangkal? Bukankah jelas pembangunan fisik di Purwakarta itu berubah? Bukankah dia menikmati hasil perubahan itu dengan hampir setiap malam minggu ikut berdesak-desakan di sepanjang jalan wiskul?

Tetapi saya berusaha untuk tidak mengatakan kedongkolan itu. Saya mencoba ber-husnudzon, siapa tahu ada maksud lebih dalam dari sekadar perubahan fisik. Dalam pendekatan filsafat, kenyataan lain di luar fisik terkenal dengan realitas “metafisik”. “Meta” artinya dibalik, melampaui atau beyond; sementara fisik adalah segala hal yang terindrai, memiliki tiga dimensi: berat, massa dan volume. Dan jika bukan perubahan fisik, tentu saja yang dia maksudkan adalah perubahan metafisik, termasuk di dalamnya kualitas SDM warga Purwakarta dan tingkat moralitasnya.

“Sudah, aku tahu maksudmu, yaitu perubahan di luar fisik termasuk kualitas SDM, pendidikan, moral dan mental berjuang warga Purwakata sekarang berubah lebih baik, kan?” tanya saya sedikit mendesak.

“Bukan juga, ente masih mikir kemana-kemana,” jawabnga dingin.

“Kemana-mana gimana maksudnya?”

“Gini loh,” katanya, “tiga tahu lalu ana duduk disini bukan sama ente, tapi sama harim ana. Sekarang sudah berubah, sekarang ana jomblo, malah duduk sama ente.”

“Sial!”

HendraJanuar
Pendiri Komunitas Warung Filsafat (WaFat) Jakarta, penyuka semur jengkol dan ikan teri kering, dan suami dari perempuan yang belum ditakdirkan bertemu.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.