Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Dari Obrolan Warung Kopi Sampai Purwakarta Kini

Kasus Ustad Abdul Somad dan Lagi-Lagi Masalah Toleransi

Toleransi selalu menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Di Indonesia yang merupakan negara dengan identitas masyarakat majemuk, perbedaan pandangan dalam masyarakat sering kali menimbulkan konflik...

Dilema Kemajuan Teknologi Bagi Generasi Milenial

Akhir-akhir ini generasi milenial dihebohkan oleh kartu pra kerja yang akan diluncurkan oleh pemerintah. Kartu pra kerja merupakan kartu yang diperuntukkan kepada lulusan SMA/SMK...

Pertemuan Dua Jendral Menjelang Pilgub Jabar

Politik di Jawa Barat yang memang semakin mencair, dengan menghadirkan banyak kejutan-kejutan yang terjadi di luar Prediksi.Tentu tidak ada yang menyangkan kalau Deddy Mizwar...

Dari Pura-Pura Penjara ke Pura-Pura Cagar Budaya

Di akhir bulan Juli ini jagat media dan obrolan-obrolan warung kopi kebanyakan diisi dengan persoalan Lapas Sukamiskin. Buah bibir itu dimulai semenjak tertangkap tangannya...
HendraJanuar
Pendiri Komunitas Warung Filsafat (WaFat) Jakarta, penyuka semur jengkol dan ikan teri kering, dan suami dari perempuan yang belum ditakdirkan bertemu.

Sekali waktu, berjalanlah di sepanjang Taman Air Mancur Sribaduga. Akan Anda jumpai banyak hal yang menyegarkan mata: pepohonan yang mengitari seluruh taman, air mancur yang meliuk-liuk di pusaran Situ Buleud, patung badak yang dihiasi air di pertigaan mulut taman, serta para pedagang dengan aneka kuliner di sana.

Sabtu lalu, ketika langit mulai gelap, bersama seorang kawan, saya nongkrong di warung kecil tepat di hotel Grand Situ Buleud. Masing-masing kami memesan segelas kopi dan dua bungkus rokok kretek. Seperti kebiasaan kami, kopi dan rokok adalah kombinasi sempurna untuk menemani obrolan ngaler-ngidul.

“Coba ente lihat sekitar, semua sudah berubah, Purwakarta kini harus kembali kita kenali,” ujarnya.

“Mengapa harus begitu? Apa yang asing dari Purwakarta hingga kudu kembali dikenali?” tanya saya.

“Ente buka mata saja,” lanjutnya. “Purwakarta sudah gak kayak dulu lagi.”

Tentu saja saya tidak begitu paham maksudnya. Kalimat “sudah tidak kayak dulu lagi” itu, selain mirip lirik lagu alay, juga tidak begitu padat. Kalimat yang ambigu, multi tafsir, equivocal serta sulit menelurkan deskripsi tunggal darinya. Sembari menghangatkan tubuh dengan segelas kopi yang masih panas, saya coba menerka-nerka substansinya. Apalagi dia tidak menguraikan secara details, malah terlihat cuek. Menjengkelkan!

Ingatan saya kemudian terlempar pada sepuluh tahun lalu. Pada kurun waktu dimana saya masih duduk di bangku SMA. Sepulang sekolah, apalagi hari sabtu, saya biasanya langsung nangkring di Situ Buleud sebelum bergeser ke Alun-alun ketika hari mulai gelap. Karena akan ada pertunjukkan sepeda motor dengan free style, berputar-putar seperti gangsing dan tidak sedikit yang membawa minuman keras.

Dahulu, Alun-alun Purwakarta hanyalah lapangan yang beralaskan paping block, dikelilingi pepohonan tinggi dan kering, berdebu dan hanya digunakan secara resmi untuk upacara-upacara bendera. Tidak cocok untuk dijadikan tempat bermain keluarga yang butuh suasana tenang, aman dan oksigen yang cukup. Tetapi sekarang semuanya berubah. Nyaris seluruh wajah kota Purwakarta disulap menjadi destinasi wisata yang menarik orang-orang untuk bertumpah ruah di sana.

“Oh, aku tahu maksudmu. Sekarang secara fisik Purwakarta sudah banyak berubah, bukan? Dulu kota Purwakarta kumuh, sampah dimana-mana, tidak ada taman, tidak ada tempat bermain, tidak ada ruang edukasi publik, tapi sekarang sudah berubah. Begitukah?” tanya saya menegaskan maksudnya.

“Ana gak ngira pikiran ente sedangkal itu,” jawabnya, “orang awam juga tahu pembangunan Purwakarta berubah.”

“Tapi, bukankah itu berefek pada pandangan orang tentang Purwakarta saat ini, dimana sekarang Jawa Barat punya kabupaten dengan Air Mancur terbesar se-Indonesia dan munculnya taman-taman, hingga kita sebagai orang sunda kembali percaya diri?”

Dia tidak menjawab, hanya diam dengan memasang wajah dingin. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada dua pasang muda-mudi yang berjalan bergandengan tangan. Sambil mengepulkan asap rokok, dia nampak tidak peduli dengan pertanyaan saya terakhir.

Sial! Dalam hati saya merasa dongkol. Apa maksudnya dia bilang pikiran saya dangkal? Bukankah jelas pembangunan fisik di Purwakarta itu berubah? Bukankah dia menikmati hasil perubahan itu dengan hampir setiap malam minggu ikut berdesak-desakan di sepanjang jalan wiskul?

Tetapi saya berusaha untuk tidak mengatakan kedongkolan itu. Saya mencoba ber-husnudzon, siapa tahu ada maksud lebih dalam dari sekadar perubahan fisik. Dalam pendekatan filsafat, kenyataan lain di luar fisik terkenal dengan realitas “metafisik”. “Meta” artinya dibalik, melampaui atau beyond; sementara fisik adalah segala hal yang terindrai, memiliki tiga dimensi: berat, massa dan volume. Dan jika bukan perubahan fisik, tentu saja yang dia maksudkan adalah perubahan metafisik, termasuk di dalamnya kualitas SDM warga Purwakarta dan tingkat moralitasnya.

“Sudah, aku tahu maksudmu, yaitu perubahan di luar fisik termasuk kualitas SDM, pendidikan, moral dan mental berjuang warga Purwakata sekarang berubah lebih baik, kan?” tanya saya sedikit mendesak.

“Bukan juga, ente masih mikir kemana-kemana,” jawabnga dingin.

“Kemana-mana gimana maksudnya?”

“Gini loh,” katanya, “tiga tahu lalu ana duduk disini bukan sama ente, tapi sama harim ana. Sekarang sudah berubah, sekarang ana jomblo, malah duduk sama ente.”

“Sial!”

HendraJanuar
Pendiri Komunitas Warung Filsafat (WaFat) Jakarta, penyuka semur jengkol dan ikan teri kering, dan suami dari perempuan yang belum ditakdirkan bertemu.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.