in

Dari Obrolan Warung Kopi Sampai Purwakarta Kini


Sekali waktu, berjalanlah di sepanjang Taman Air Mancur Sribaduga. Akan Anda jumpai banyak hal yang menyegarkan mata: pepohonan yang mengitari seluruh taman, air mancur yang meliuk-liuk di pusaran Situ Buleud, patung badak yang dihiasi air di pertigaan mulut taman, serta para pedagang dengan aneka kuliner di sana.

Sabtu lalu, ketika langit mulai gelap, bersama seorang kawan, saya nongkrong di warung kecil tepat di hotel Grand Situ Buleud. Masing-masing kami memesan segelas kopi dan dua bungkus rokok kretek. Seperti kebiasaan kami, kopi dan rokok adalah kombinasi sempurna untuk menemani obrolan ngaler-ngidul.

“Coba ente lihat sekitar, semua sudah berubah, Purwakarta kini harus kembali kita kenali,” ujarnya.

“Mengapa harus begitu? Apa yang asing dari Purwakarta hingga kudu kembali dikenali?” tanya saya.

“Ente buka mata saja,” lanjutnya. “Purwakarta sudah gak kayak dulu lagi.”

Tentu saja saya tidak begitu paham maksudnya. Kalimat “sudah tidak kayak dulu lagi” itu, selain mirip lirik lagu alay, juga tidak begitu padat. Kalimat yang ambigu, multi tafsir, equivocal serta sulit menelurkan deskripsi tunggal darinya. Sembari menghangatkan tubuh dengan segelas kopi yang masih panas, saya coba menerka-nerka substansinya. Apalagi dia tidak menguraikan secara details, malah terlihat cuek. Menjengkelkan!

Ingatan saya kemudian terlempar pada sepuluh tahun lalu. Pada kurun waktu dimana saya masih duduk di bangku SMA. Sepulang sekolah, apalagi hari sabtu, saya biasanya langsung nangkring di Situ Buleud sebelum bergeser ke Alun-alun ketika hari mulai gelap. Karena akan ada pertunjukkan sepeda motor dengan free style, berputar-putar seperti gangsing dan tidak sedikit yang membawa minuman keras.

Baca Juga :   Media Massa sebagai Kendali Antiterorisme

Dahulu, Alun-alun Purwakarta hanyalah lapangan yang beralaskan paping block, dikelilingi pepohonan tinggi dan kering, berdebu dan hanya digunakan secara resmi untuk upacara-upacara bendera. Tidak cocok untuk dijadikan tempat bermain keluarga yang butuh suasana tenang, aman dan oksigen yang cukup. Tetapi sekarang semuanya berubah. Nyaris seluruh wajah kota Purwakarta disulap menjadi destinasi wisata yang menarik orang-orang untuk bertumpah ruah di sana.

“Oh, aku tahu maksudmu. Sekarang secara fisik Purwakarta sudah banyak berubah, bukan? Dulu kota Purwakarta kumuh, sampah dimana-mana, tidak ada taman, tidak ada tempat bermain, tidak ada ruang edukasi publik, tapi sekarang sudah berubah. Begitukah?” tanya saya menegaskan maksudnya.

“Ana gak ngira pikiran ente sedangkal itu,” jawabnya, “orang awam juga tahu pembangunan Purwakarta berubah.”

“Tapi, bukankah itu berefek pada pandangan orang tentang Purwakarta saat ini, dimana sekarang Jawa Barat punya kabupaten dengan Air Mancur terbesar se-Indonesia dan munculnya taman-taman, hingga kita sebagai orang sunda kembali percaya diri?”

Dia tidak menjawab, hanya diam dengan memasang wajah dingin. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada dua pasang muda-mudi yang berjalan bergandengan tangan. Sambil mengepulkan asap rokok, dia nampak tidak peduli dengan pertanyaan saya terakhir.

Sial! Dalam hati saya merasa dongkol. Apa maksudnya dia bilang pikiran saya dangkal? Bukankah jelas pembangunan fisik di Purwakarta itu berubah? Bukankah dia menikmati hasil perubahan itu dengan hampir setiap malam minggu ikut berdesak-desakan di sepanjang jalan wiskul?

Tetapi saya berusaha untuk tidak mengatakan kedongkolan itu. Saya mencoba ber-husnudzon, siapa tahu ada maksud lebih dalam dari sekadar perubahan fisik. Dalam pendekatan filsafat, kenyataan lain di luar fisik terkenal dengan realitas “metafisik”. “Meta” artinya dibalik, melampaui atau beyond; sementara fisik adalah segala hal yang terindrai, memiliki tiga dimensi: berat, massa dan volume. Dan jika bukan perubahan fisik, tentu saja yang dia maksudkan adalah perubahan metafisik, termasuk di dalamnya kualitas SDM warga Purwakarta dan tingkat moralitasnya.

Baca Juga :   Menanti Komitmen Jokowi untuk KPK

“Sudah, aku tahu maksudmu, yaitu perubahan di luar fisik termasuk kualitas SDM, pendidikan, moral dan mental berjuang warga Purwakata sekarang berubah lebih baik, kan?” tanya saya sedikit mendesak.

“Bukan juga, ente masih mikir kemana-kemana,” jawabnga dingin.

“Kemana-mana gimana maksudnya?”

“Gini loh,” katanya, “tiga tahu lalu ana duduk disini bukan sama ente, tapi sama harim ana. Sekarang sudah berubah, sekarang ana jomblo, malah duduk sama ente.”

“Sial!”


Written by HendraJanuar

Pendiri Komunitas Warung Filsafat (WaFat) Jakarta, penyuka semur jengkol dan ikan teri kering, dan suami dari perempuan yang belum ditakdirkan bertemu.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR