in

Dari Makuta Cynthia Bella, Princess Cake Syahrini Sampai Kanaya Amy Qanita: Bandung Is Here To Stay

Di Bandung, setelah Makuta dari Laudya Cynthia Bella, kemudian ada Princess Cake dari Syahrini dan juga Kanaya dari Amy Qanita. Sederet olahan makanan lainnya milik pesohor di berbagai kota bisa kita temukan informasinya dengan segera. Sekilas tentang kuda beban makanan tersebut, biasanya terdiri dari custard yaitu adonan gula, kuning telur, susu, mentega, dan krim yang diaduk secara hati-hati, lembaran pastry, yaitu adonan tipis yang bisa dibuat berlapis-lapis dan renyah, dan berbagai cita rasa tambahan dari coklat, keju sampai serbuk teh hijau.

Bolehlah berkata bahwa adonan pastry, kue, dan custard dengan berbagai rasa itu bukanlah teristimewa. Custard biasa dipakai untuk isian kue soes atau bagian kue pai, pastry adalah bagian kue amandel. Beberapa toko kue yang telah lebih dulu mengada sudah memasarkan kue-kue itu. Tetapi kemudian menyatukannya dan mengemasnya, dan menjadi ikon oleh-oleh kekinian dari Bandung, itu menjadi kelebihan olahan terbaru ini di luar nama pesohor pemiliknya.

Seorang teman berandai-andai kenapa bukan dia yang menjadi pesohor sehingga bisa membuat warga mengantri dari jam satu pagi untuk mendapatkan Makuta. Sampai pada titik ini, saya kira, makanan sudah berubah fungsi. Ini bukan soal pembagian jatah makanan ketika paceklik. Ini soal kepuasan, Bung! Kepuasan membuat kita memajang foto tersebut di berbagai media sosial, mempublikasikan ratapan penungguan antrian dan juga kemudian memasang gambar makanan itu. Komentar pun beragam.

Orang boleh nyinyir pada fenomena ini. Tapi demikianlah keadaannya. Betapapun, populernya olahan makanan ini bukanlah terbentuk simsalabim dalam waktu semalam. Para pesohor dan sederetan manajemen dan pemberitaan sudah bergerak berputar memasarkan nama sang pesohor yang biasanya berangkat dari dunia sinetron atau model, yang jejaringnya merembes kemana-mana. Merambah olahan makanan pun bukanlah hal yang baru, dulu ada istilah warung tenda artis. Fenomena ini tidaklah berlangsung lama. Tampaknya dengan senapan lama, olahan makanan ini amunisi baru yang dilontarkan.

Baca Juga :   Ajak Rakyat Memilih, Bukan Memaksa Rakyat Memilih

Yang menarik juga adalah berkembangnya mata rantai jasa titipan. Biasanya berbentuk layanan online yang mana orang yang ingin mendapatkan makanan tersebut memesan dengan perhitungan ongkos kirim dan upah bagi penyedia jasa layanan titipan tersebut. Atau yang lebih kentara, langsung memasang banner di pinggir jalan bahwa ia menerima jasa penitipan pembelian olahan makanan itu, atau dengan mobil yang pintu belakangnya terbuka mempertontonkan kotak kemasannya dan si mas yang menjaganya asik dengan smartphonenya menunggu dagangan.

Adalah pemilihan yang juga cerdas untuk membuka gerai di Bandung, sudah terkenal bahwa di akhir pekan, Bandung akan menjadi lautan kendaraan berpelat B karena akses cepat Bandung-Jakarta melalui tol Cipularang. Wisatawan yang datang ke Bandung pun merasa belum lengkap ketika belum menenteng satu plastik berisi makanan ini. Setelah molen, brownies, dan sederetan keripik berbagai tingkat rasa pedas dari Mak Icih, cireng isi, tahu bulat dan seblak, maka makuta dan kawan-kawannya is here to stay.

Seperti juga pesohor pemiliknya, makanan yang ditawarkan pun cantik, berhias. Renyah, ringan. Tidak bersibuk dengan ide makanan yang rendah kalori maka makuta dan kawan-kawannya bisa bergerak lebih bebas dalam rasa dan tampil lebih merona. Dari bagian dalam sampai kulit adalah satu kesatuan yang menyenangkan semua indra ketika digigit. Enak dipandang, membuat sejenak melupakan persoalan hidup. Dikemas dalam jajaran warna pastel, makanan itu seolah berambisi mengepak semua yang diinginkan dan disajikan secepatnya dan sebanyak-banyaknya.

Ada yang menarik dari ketiganya, semuanya menawarkan rasa manis dan legit. Michael Moss dalam bukunya “Sugar, Salt, and Fat” menuliskan bahwa ada penerima sinyal rasa manis pada keseluruhan lidah, yang terhubung ke bagian otak yang dikenal dengan zona kesenangan. Artinya sebagai ‘imbalan’ sudah mengonsumsi gula, maka tubuh memberikan rasa senang. Barangkali ini memang hasil evolusi dari ketika manusia masih memungut dan mengumpulkan bahan makanan yang terserak berjatuhan dari pohon. Jika manis, maka bisa dijadikan sumber tenaga, dan jika pahit dianggap beracun.

Baca Juga :   El Hombre de Las Mil Caras, Parodi Politik di Film Spanyol

Saya tidak tahu apakah memang ketiga produsen olahan tersebut sudah mengkaji dan menyimpulkan bahwa rasa manis yang legit itu sudah berupa pilihan insting kita bersama sehingga yang diperlukan tinggal mengemas berbagai variasi dan tekstur olahan tersebut dan penyajiannya yang menarik mata. Dari sudut ilmu pangan, makanan memang tidak melulu urusan lidah, tetapi juga hidung dan yang sudah jelas-jelas jelalatan: mata.

Produk, termasuk makanan, adalah suatu yang mirip organisme hidup. Ada masa kelahiran, pengenalan, kematangan/kemapanan, dan akhirnya kematian. Jika kini manusia bisa memperpanjang masa hidupnya dengan temuan teknologi kedokteran baru dan transplantasi, demikian juga dengan produk (makanan), tiap varian rasa baru yang lahir adalah hasil dari riset terhadap pasar. Ada barangkali produk yang sudah mencapai tingkat immortal yang kekal yang bahkan justru tiap usaha mengubahnya sudah bisa dianggap bidah. Coca-Cola contohnya. Tetapi sebagian besar produk menaati siklus di atas.

Tak terkecuali tentunya Makuta dan kawan-kawannya ini. Varian rasa dan bahkan bentuk barangkali diperlukan untuk kelanggengannya, terkecuali memang makanan tersebut memang dibuat untuk taat pada asas kekiniannya. Melesat seperti meteor; memanfaatkan momentum, menghilang, dan nanti muncul entah apalagi, dari barisan pesohor lain di masa depan.

Written by Dinar Rahayu

Dinar Rahayu

Menulis novel dan cerita pendek, dan juga wirausaha. Domisili di Bandung dan senang melihat-lihat situasi kota Bandung.Kadang menulis cerita pendek di beberapa media cetak. Kumpulan Cerita Pendeknya: Lacrimosa (Omahsore, 2009)

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR