Jumat, Oktober 30, 2020

Dari Demokrasi di Tempat Kerja Sampai Demokrasi Ekonomi dan Politik

Poskolonialisme Negara pada Masyarakat Dani

Isu pakaian koteka di pengadilan Negeri Jakarta Pusat kali ini viral karena ditolak. Hal ini menarik perhatian kita semua bagaimana negara memandang suatu kebudayaan....

E-Sport VS Guru Kolot

Memasukkan E-Sport ke dalam kurikulum merupakan sedikit dari wacana kemendikbud yang saya apresiasi. Sayang, banyak orang yang tidak paham justru gagal melihat gambar besarnya. Melihat...

Belajar dari ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad

Sebagai mahasiswa kadang beberapa orang bertanya kepada saya: Nanti, setelah lulus kuliah, kira-kira kamu mau kerja apa? Saya suka jawab, kalau impian saya sangat...

Ali Shariati: Tokoh Sosiologi Islam Revolusioner (2)

Konsep Qabil dan HabilQabil dan Habil dalam sebuah riwayat atau dalam mitologi drama kosmik adalah seorang anak Adam, yang mempunyai saudara kembar. Qabil maupun...
Aef Nandi Setiawan
Penyuka Arsenal dan kopi pahit

Bersama sepuluh orang tukang becak, pada September tahun 2017, saya mendirikan usaha cleaning service dan renovasi rumah. Kami bagi tugas sesuai dengan kebisaan masing-masing. Tukang becak menjadi pekerja lapangan, saya kebagian pemasaran. Sekarang pertengahan 2018, bisnis kami masih berjalan, sekalipun masih terhuyung-huyung. Tapi kami tetap optimis dan punya banyak ambisi di masa depan.

Kami dipertemukan dalam kepentingan yang sama. Tukang becak butuh penghasilan tambahan, karena membecak sudah tak lagi bisa diandalkan. Saya butuh tempat kerja yang nyaman sebagai persiapan pasca kampus. Saya masih mahasiswa aktif, dan bermimpi bisa bekerja di perusahan yang dirintis sejak di bangku kuliah. Biar tak perlu lamar kerja sana sini.

Selain ambisi bisnis, saya punya ambisi untuk mengembangkan model usaha yang dikelola secara demokratis. Dan itu yang hari ini sedang kami lakukan, menerapkan demokrasi di tempat kerja. Di mana semua orang setara, tanpa ada relasi buruh dan majikan. Semua orang adalah pemilik sekaligus pekerja. Kami menentukan soal besaran upah, soal aturan kerja dan lain sebagainya secara musyawarah.

Dalam mindset bisnis konvensional, apa yang kami upayakan mungkin terdengar masih asing, aneh dan mengada-ada. Utopis.  Tapi itu bisa dimaklumi karena bagi orang kebanyakan, demokrasi itu hanya di ruang politik.

Di tempat kerja tak ada demokrasi, semua mengikuti apa kata bos. Tugas karyawan adalah kerja dan terima upah, tanpa mau tahu neraca keuangan sedang menanjak atau menukik. Peran bos adalah membayar upah dan berpikir bagaimana caranya dapat untung besar, meskipun caranya bikin karyawan nggrundel.

Demokrasi di Tempat Kerja

Demokrasi di tempat kerja bukan gagasan baru. Ia sama tuanya dengan demokrasi dalam politik. Saat demokrasi politik melengserkan feodalisme dari para raja atau lembaga agama, demokrasi ekonomi menyingkirkan feodalisme dari tangan pemilik modal (capitalist).

Jika dalam berpolitik manusia berhak atas kesetaraan dan  kebebasan, seharusnya hak yang sama juga ada dalam ruang ekonomi. Bentuknya adalah perusahaan yang dikelola dengan cara demokratis.

Di Eropa, cikal bakal usaha yang dikelola secara demokratis muncul pada abad ke 19 sebagai kritik atas praktik bisnis yang eksploitatif milik para kapitalis. Salah satu diantaranya adalah Rochdale Cooperatives.

Toko kelontong yang didirikan oleh sekelompok pekerja di Inggris. Lalu  di Jerman berdiri lembaga kredit yang digagas oleh seorang walikota muda, Raiffeisen. Lembaga itu dimiliki dan dikelola secara demokratis.

Melompat ke abad ke 21 di negara bagian Basque, Spanyol. Dengan bantuan seorang pastor, lima orang pemuda merintis bisnis alat rumah tangga. Mereka membuat kompor parafin yang dipasarkan di untuk masyarakat sekitar.

Bisnis mereka terus tumbuh dan kini merentang dari sektor manufaktor, retail, pendidikan dan kesehatan. Perusahaan itu dikelola secara demokratis oleh hampir 80.000 orang yang berperan sebagai pekerja sekaligus pemilik. Perusahaan itu adalah Mondragon Cooperatives yang kisahnya telah menjadi klasik.

Demokrasi di tempat kerja adalah upaya mengikis feodalisme untuk mewujdukan relasi kerja yang setara. Feodalisme di tempat kerja muncul karena kekuasan (power) ditentukan dari jumlah kepemilikan modal. Siapa yang menanam modal paling banyak, ia yang berhak menentukan sistem kerja, kebijakan upah dan kebijakan lainnya. Sementara  yang tak punya modal tak memiliki kekuasaan untuk bersuara atau menyampaikan aspirasi. Sehingga munculah relasi buruh dan majikan di tempat kerja.

Menghilangkan relasi buruh dan majikan adalah ciri dari perusahaan demokratis, dimana posisi semua orang adalah setara. Caranya adalah dengan mendistribusikan kekuasaan (power) pada semua orang dalam bentuk kepemilikan atas perusahaan (alat produksi).

Adanya kepemilikan bersama dimaksudkan agar demokrasi berjalan dengan baik, karena mustahil ada demokrasi tanpa adanya kepemilikan. Dalam perusahan yang demokratis, status seseorang tidak ditentukan dari besaran modal yang ia miliki. Semua orang punya ada dalam posisi setara. Bisa ikut mengdalikan perusahaan secara demokratis. One man, one vote. 

Dari Demokrasi Ekonomi Ke Demokrasi Politik

Di Indonesia, perubahan sosial dan kemakmuran orang banyak dimulai dari ruang politik. Ambil bagian dalam pemilihan pemimpin artinya ikut menentukan nasib bangsa. Dengan memilih pemimpin yang tepat, lapangan kerja menjadi mudah, kebutuhan hidup terjangkau dan kesejahteraan meningkat. Tapi sayang harapan semacam ini lebih banyak melesetnya. Berkali-kali pemilu, kualitas pemimpin yang dihasilkan selalu mengkhawatirkan.

Berharap perubahan melalui jalan politik tidak salah. Tapi yang harus kita ingat, reformasi 1998 hanya berhasil merubah struktur politik, tapi tidak pada struktur ekonominya. Para oligark dan kroni-kroni orba tak beringsut dari posisinya. Mereka masih menguasai sumberdaya ekonomi dan makin mapan dalam iklim demokrasi hari ini. Kekayaan mereka tak pernah diperkarakan, meskipun itu hasil menjarah kekayaan negara atau hasil kerja-kerja ilegal lainnya.

Sehingga yang terjadi di Indonesia adalah, demokrasi politiknya tapi tetap feodal ekonominya.

Para oligark biasanya akan menggunakan jalan politik untuk mengamankan agenda ekonominya. Dengan sumberdaya ekonomi yang besar mereka bisa membangun kekuatan politik, sehingga demokrasi menjadi keruh dan bias kepentingan.

Mereka bisa mempengaruhi suara orang banyak dan menentukan siapa saja yang maju sebagai calon pemimpin. Sehingga demokrasi hari ini adalah demokrasi semu. Pemimpin yang terpilih sebenarnya bukan pilihan rakyat, tapi pilihan para oligark.

Pemimpin yang dihasilkan dari sistem demokrasi semacam ini ia akan tersandera berbagai kepentingan oligarki yang menyokongnya. Meskipun si pemimpin awalnya kepribadian yang bagus, ia bisa saja tiba-tiba menjadi bangsat saat menjabat. Di media kita bisa melihat seorang sebelumnya tampak cerdas dan agamis, namun saat terpilih kecerdasannya langsung menukik tajam dengan level moral yang mengkhawatirkan.

Tugas besar kita hari ini bukan terletak pada mencari siapa pemimpin yang tepat, tapi bagaimana membenahi kualitas demokrasi politik itu sendiri. Caranya dengan menyingkirkan kekuasan para oligarki melalui demokrasi ekonomi. Yaitu sistem ekonomi dimana masyarakat ikut berperan dalam proses produksi, distribusi dan konsumsi. Sehingga demokrasi tidak hanya di ruang politik, tapi juga di ruang ekonomi. Tentu saja ini tidak mudah, butuh waktu yang panjang untuk mewujudkannya.

Tak lama lagi kita menghadapi Pilpres. Banyak orang percaya perubahan di negara ini dimulai dari bilik suara. Tapi entah mengapa saya lebih meyakini perubahan dimulai dari tempat kerja.

Aef Nandi Setiawan
Penyuka Arsenal dan kopi pahit
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.