Sabtu, Februari 27, 2021

Dan RINDU Adalah yang Kita Tunggu

Banalitas Kejahatan, Asal Mula Totaliterisme, dan Vonis Ahok.

Sejak putusan hakim tentang vonis bersalah atas kasus penistaan agama yang diberikan kepada Basuki Tjahaya Purnama, saya melihat fenomena ini sejalan dengan genealogi kejahatan...

Sumitro Djojohadikusumo dan Petaka Modernisasi Indonesia

Keberhasilan Soeharto dalam menumbangkan dominasi kekuasaan Soekarno pada tahun 1967 memiliki konsekuensi logis yang harus diterimanya. Perpindahan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru...

Wujudkan Kembali Yogyakarta Sebagai City of Tolerance

Pagi itu saya terkejut ketika membaca postingan sebuah akun media sosial yang memberitakan peristiwa penyerangan dan penganiayaan terhadap pastur dan jemaat gereja St. Lidwina,...

Ketika Perempuan Menggugat: Dari Khaulah ke Al-Mujâdalah

Tidak sedikit para aktivis perempuan yang ditangkap dan ditahan oleh pemerintah Arab Saudi ketika memperjuangkan hak mengemudi bagi perempuan, di mana perjuangan mereka akhirnya...
Ayu Rahmah
Penulis

Ridwan Kamil dan Uu Ruhzanul Ulum telah ditetapkan dan orang-orang kini bisa mengenalnya dengan sebutan yang singkat dan mudah diingat: RINDU (Ridwan-Uu).

Pasangan RINDU adalah perpaduan dari dua sosok yang saling mengisi. Idealisasi dari kedua sosok tersebut bisa dilihat dari beberapa hal. Pertama, Ridwan Kamil sendiri adalah sosok yang memiliki prestasi luar biasa. Dari kejeniusan pikirannya, Bandung menjadi sebuah kota dengan penataan yang begitu modern.

Ada motto yang kemudian menjadi terkenal darinya: “membangun kota dengan gagasan baru”. Motto itu telah mewujud dalam implementasi kebijakan-kebijakannya dalam menata kota Bandung.

Di tangannya, Bandung adalah kota yang menyedot perhatian orang-orang untuk datang demi mengisi waktu liburan mereka. Terutama bagi kalangan muda-mudi, Bandung menjadi tempat yang nyaman untuk menghidup saling kasih dan sayang mereka.

Tidak berhenti di situ. Untuk mewujudkan keindahan Bandung, kang Emil juga rajin mengedukasi masyarakat untuk mencintai kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti ‘selasa tanpa rokok’, ‘Rebo Nyunda’, dan hal-hal kreatif lainnya.

Sebagian edukasi itu dia lakukan melalui media sosial. Jika M.A.W. Bowyer pernah melukiskan Bandung dengan kalimat ini: “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. Maka hari ini, senyum Tuhan kian berkembang. Sebab Bandung terus menunjukkan keindahannya di tangan kang Emil.

Ridwan Kamil – dengan demikian – bisa dikategorikan sebagai sosok yang pemimpin yang mampu mengejawantahkan ide-ide kemodernan. Dia mampu menghadirkan struktur kemodernan pada kota Bandung melalui kejeniusannya. Kang Emil adalah pemimpin dengan latar belakang seorang arsitek dan dianugerahi kemampuan menghadirkan estetika pada tata kota.

Hal lain yang ditunjukkan oleh kepemimpinannya sebagai Wali Kota di Bandung juga bisa dilihat dari keberhasilannya dalam meningkatkan layanan publik. Dalam sebuah pidatonya, dia menjelaskan bahwa pelayanan publik di Kota Bandung yang semula ada di ranking ratusan, kini telah melesat menjadi nomor 4 di tingkat nasional (detikcom, 6/2/2016).

Baginya sikap tegas untuk kebaikan publik adalah sebuah keniscayaan termasuk jika ia harus memecat sejumlah pejabat bila menurutnya dianggap tidak memiliki etos kerja yang baik. Sekali lagi, etos kerja dan disiplin kerja yang tinggi adalah karakter dari masyarakat modern. Dan Kang Emil adalah pemimpin yang merepresentasikan diri sebagai sosok yang mencintai kemodernan.

Kedua, pasangannya, Uu Ruzhanul Ulum adalah sosok yang juga berlimpah prestasi. Sejak ditetapkannya sebagai bupati di Kabupaten Tasikmalaya, dia telah memperoleh sekitar 32 penghargaan di berbagai bidang. Beberapa dari prestasinya: tahun 2012, dia dianugerahi penghargaan atas komitmen dan dukungannya dalam penyelenggaraan penerapan e-KTP. Kabupaten Tasikmalaya berhasil mencapai target perekeman e-KTP lebih cepat dari batas waktu yang ditetapkan (pikiran-rakyat.com, 10/01/2018).

Penghargaan yang lain, dia peroleh di bidang pertanian. Dia memperoleh penghargaan dari Menteri Pertanian atas peran aktifnya dalam peningkatan pembangunan di bidang pertanian serta peningkatan produksi gabah pada 2014. Di tahun itu, dia juga memperoleh penghargaan yang lain. Misalnya, tanda kehormantan Lencana Adhi Bhakti Tani Nelayan Muda dari Ketua KTNA Nasional. Dia juga memperoleh penghargaan juara I tingkat provinsi Jawa Barat Program Penanaman Satu Miliar Pohon (pikiran-rakyat.com, 10/10/2018).

Sepintas memperhatikan prestasi masing-masing, kedua sosok ini memiliki kelebihan masing-masing: Kang Emil merepresentasikan pemimpin yang modern dengan keberhasilannya menata kota dan keindahannya, sementara Uu adalah pemimpin yang berhasil menyulap beberapa bidang di Kabupaten Tasikmalaya, seperti peningkatan dalam aspek pertanian dan lainnya.

Perjumpaan keduanya – dengan mewakili karakter kepemimpinan dan keberhasilannya masing-masing – adalah perpaduan yang baik. Kedua-duanya adalah pemimpin yang memiliki segudang prestasi. Kedua-duanya adalah pemimpin yang memiliki komitmen untuk memakmurkan masyarakat.

Prestasi yang diukir keduanya mengungkapkan satu hal: mereka memiliki komitmen dan keberpihakan politik bagi kebaikan rakyatnya.

Ayu Rahmah
Penulis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.