in

Dan Pada Akhirnya Ridwan Kamil Kena Batunya Sendiri.


Langkah Ridwan Kamil (RK) menuju calon gubernur Jawa Barat semakin berat setelah awalnya ada kedekatan dengan beberapa partai tapi pada akhirnya sirna dengan sendirinya.

Deklarasi dari Partai Nasdem seakan menjadi simalakama. Nasdem yang giat berkoordinasi membangun komunikasi dengan partai lain belum juga mendapatkan hasil.

Awalnya PPP , Demokrat, PAN, Hanura di gadang-gadang akan membangun poros untuk mengusung RK ternyata mulai berbalik arah. Hanura merapat ke koalisi Golkar-PDIP yang mengusung Dedi Mulyadi.

Partai Amanat Nasional (PAN) merapat ke Demis-Saikhu (PKS-Grindra), sementara Demokrat dan PPP sedang membangun Poros baru guna mengusung calon Gubernur lainnya yang saat ini santer dengan tiga nama tersebut.

PDIP sudah menutup pintu rapat-rapat untuk RK, dan Golkar semakin santer mengusung Dedi Mulyadi walaupun sempat nama RK beredar di Internal Golkar. Tapi dengan tegas Ketua Bidang Pemenangan DPP Partai Golkar Yahya Zaini menampiknya.

‘Rekomendasi Partai Golkar untuk Dedi Mulyadi yang merupakan kader Golkar dan telah di usung oleh semua pengurus DPD dua sampai ketingkat akar rumput’ kata Yahya Zaini


Kekecewaanya tidak sampai disitu. Survei Ridwan Kamil terus mengalami penurunan dari setiap bulannya. Awalnya RK berada di posisi teratas, tetapi terus merosot hingga akhirnya berada di posisi ketiga yang kali ini di salip oleh Dedi Mulyadi.

Ketakutan Ridwan Kamil semakin terlihat seketika mendengar Demokrat dan PPP mencari Calon baru yang akan di usung.

Baca Juga :   Ihwal Pengerahan TNI di Daerah

Dikutip dari Detiknews, ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat Iwan Sulanjana mengatakan, sejauh ini pihaknya memang masih berkomunikasi dengan Ridwan Kamil, tetapi hal tersebut tidaklah menjamin Partai Demokrat mengusungnya.

‘Kalaupun mau bertemu dengan Pak SBY, silahkan saja. Karena itu bentuk ikhtiar kandidat. Kalau nyambung ya bagus, kalau tidak ya gak apa-apa’ kata Iwan Sulanjana

Jawaban Iwan Sulanjana ngeri-ngeri sedap kalau kata Sutan Batugana (alm Kader Demokrat). Mempersilahkan tetapi dengan segudang tanda tanya.

 Sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan Ridwan Kamil semakin berat untuk di usung oleh pertai, walaupun dengan elektabilitas yang lumayan cukup.

Pertama, ketidak konsistennya Kang Emil itu sendiri. Selain main klaim dan main comot untuk setiap kader partai untuk menjadi pendampingnya.

Mulai dari Daniel Muttaqien anggota DPR RI dari Partai Golkar, Bima Arya Wali Kota Bogor dari PAN sampai pendekatan terhdap wali Kota Tasik Uu Rukmanul Hakim dari PPP.

Perbuatan main Comot tersebut membuat ketidak sukaan dan Simpati dari tiap tubuh pengurus Partai.

Kedua, Ridwan Kamil pun bukanlah orang yang setia. Bisa di lihat bagaimana ketika PKS-Grindra mengusungnya untuk menjadi Walikota. Ketika telah berhasil menjadi walikota, janji-ianji yang di umbar semasa pendekatannya tidak di laksanakan.

Akhirnya seperti dalam sebuah hubungan percintaan, yang namanya mantan itu tidak ada positifnya ketika telah berakhir hubungan.

Baca Juga :   Usung Dedi Mulyadi, Golkar Bisa di Pastikan Menangi Pilgub Jabar

Dalam sebuah politik memang tidak ada bedanya dengan sebuah percintaan. Janji dan konsistensi harus di tepati, bukan di ingkari.

Dari apa yang dilakukan oleh Ridwan Kamil kita mendapatkan pelajaran yang paling berharga. Kalau konsistensi dan etika bukan hanya sebuah jalan untuk mempermudah perjalanan mengarungi kehidupan.

Melainkan juga sebuah jalan untuk kemudahan menggapai impian dan dari sebuah pengabdian.

Bagaimana dengan PKB?

Dari berbagi opini dan media memang akan mendeklarasikannya dalam waktu dekat. Tetapi sebelum janur kuning melengkung semuanya bisa terjadi. Ada kemungkinan mendapatkan harapan palsu. biarkan alam yang menjawabnya. karena jawaban alam, tergantung apa yang kita lakukan.


Written by Aming_Soedrajat

Pegiat Media Sosial

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR