Minggu, April 11, 2021

Dalil Eksistensialisme Sartre untuk Islam Jabariyah

Saatnya Cebong dan Kampret Akur

Ramadhan tahun ini hampir sama seperti Ramadhan 2014 di mana bertepatan dengan panasnya suhu politik di Bumi Pertiwi. Pemilihan Presiden yang kembali mempertemukan dua...

Ketika Netizen yang Kesal Serbu Akun Medsos

Akun media sosial Instagram Hanif Abdurrauf Sjahbandani dibanjiri komentar netizen (pengguna media sosial) usai pemain timnas sepakbola Indonesia U-22 ini mendapatkan kartu merah menit...

Menganalisis Hot Girls Wanted: Pornografi dalam Dunia Siber

Ruang virtual (cyberspace) seolah memiliki dimensi berbeda dengan kehidupan nyata sehari-hari. Menganalisis film dokumenter Hot Girls Wanted (2015) yang diproduseri oleh Rashida Jones, bagi saya...

Kedewasaan dan Autisme Jaman Now

“Manusia lebih merupakan anak zamannya ketimbang anak bapaknya,” tulisan sejarah Marc Bloch. Inilah yang paling tidak yang saya bisa rasakan sebagai calon pengajar yang...
Rafi Tajdidul Haq
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Bandung Timur sebagai Kabid Riset Pengembangan Keilmuan | Ig : @rafitajdidulhaq |E-mail : rafi.tajdidul.haq98@gmail.com | Pengelola Media Samar.id | Cooming Soon Buku Saya

Agama Islam dalam perkembangannya banyak ditafsirkan sesuai dengan pikiran dan pemahaman para pemeluknya. Apalagi pasca meninggalnya Rasul, interpretasi baru dalam memahami Islam pun bermunculan di sana-sini. Yang paling fenomenal adalah munculnya aliran-aliran teologi dalam islam pada zaman Bani Umayah seperti aliran Jabariyah, Qadariyah, As’ariyah, atau Maturidiyah.

Terkait paham Jabariyah, barangkali sudah menjadi rahasia umum bila paham tersebut selalu dihadap-hadapkan dengan paham keislaman lain seperti Qadariyah, As’ariyah, dan Maturidiyah. Yang menarik justru  bagaimana bila paham Jabariyah tersebut dihadapi dengan paham filsafat eksistensialisme?

Paham Jabariyah lekat kaitannya dengan kehidupan keberagamaan kita dewasa ini. Di tengah hiruk pikuk kehidupan beragama kerap muncul suatu ide yang beorientasi bahwa segala perbuatan manusia itu mutlak dilakukan atas dasar dan keinginan Tuhan semata. Argumen tersebut menggiring manusia untuk berpikir seolah-olah dirinya tidak berdaya menentukan nasibnya sendiri sebagai makhluk. Di tengah ide itulah muncul keyakinan bahwa mau berbuat kebaikan atau kemakiatan, pada dasarnya itu terjadi  atas kehendak dan tindakan Tuhan. Apakah benar seperti itu? Apakah pendapat ini mesti kita terima?

Aliran Jabariyah

Menurut Harun Nasution dalam bukunya Islam Ditinjau Berbagai Aspeknya, aliran Jabariyah diperkenalkan pertama kali oleh al-Ja’d ibnu Dirham. Tetapi yang menyiarkannya adalah Jaham ibnu Safwan dari Khurasan. Jaham adalah sekretaris dari Suraihah ibnu al-Harits, yaitu orang yang ingin  melakukan gerakan pemberontakan melawan kekuasaan Bani Umayyah. Dalam perlawanan itu Jaham sendiri dapat ditangkap dan kemudian dihukum mati pada tahun 131 H.

Secara etimologi, Abdul Razak (2007) dalam Ilmu Kalam mengatakan bahwa Jabariyah artinya memaksa atau mengharuskan melakukan sesuatu. Sementara Itu menurut Harun Nasution (dalam Lailatul Maskhuroh, 2015) dalam bukunya Teologi Islam mengatakan bahwa Jabariyah semakna dengan Fatalisme jika ditarik ke dalam bahasa inggris. Dimana Fatalisme merupakan paham yang menyebutkan bahwa perbuatan manusia itu telah ditentukan dari semula oleh qadha’ dan qadar Tuhan.

Sedangkan secara terminologi, masih menurut Maskhuroh, Jabariyah berarti aliran yang berkeyakinan bahwa tidak adanya perbuatan manusia secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah Swt, segala perbuatan hanya terjadi dengan qudrat dan iradat-Nya. Kelompok Jabariyah adalah mereka yang tidak memiliki keyakinan bahwa manusia bisa berbuat berdasarkan kebebasan manusia itu sendiri. Itu kemudian yang menjadi pondasi keyakinan mereka bahwa soal ibadah atau tidak, berbuat kebaikan atau keburukan, semuanya bersumber dari Tuhan.

Filsafat Eksistesialisme Sartre

Aliran Jabariyah nampaknya berlainan dengan filsafat eksistensialisme Sartre dalam hal memandang kebebasan manusia. Jean Paul Sartre adalah filsuf Prancis yang menganut aliran eksistensialisme. Filsuf yang pernah kuliah di Universitas Sorbonne  tersebut mengatakan bahwa manusia itu adalah kebebasan. Hal itu didasari karena menurutnya esksistensi manusia bisa mendahului esensinya saat ia hidup di dunia.

Bertens (2006) dalam Filsafat Barat Kontemporer Prancis menguraikan bagaimana jalan pikiran Sartre mengenai pendapatnya yang mengatakan bahwa eksistensi manusia mendahului esensinya. Ia memberikan uraian misalnya ada sebuah gelas dengan ciri-ciri tertentu. Pembuat gelas tersebut sudah tentu tahu tentang apa yang sedang ia buat (tentang esensinya). Gelas dalam eksistensinya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya dipakai oleh manusia untuk minum dan lain-lain. Gelas itu dalam eksistensinya tidak bebas.

Berbeda dengan eksistensi manusia, menurut Sartre walaupun manusia sebagai makhluk yang dalam esensinya diciptakan untuk tujuan tertentu (misalnya untuk beribadah kepada Tuhan), dalam kenyataannya manusia masih bisa berkata atau berbuat untuk tidak sejalur dengan tujuan penciptaan Tuhan tersebut. Manusia selalu bebas untuk berbuat atau memilih sesuatu. hemat penulis inilah dalil dan narasi yang bisa mematahkan argumen aliran Jabariyah yang mengatakan bahwa semua perbuatan dan prilaku manusia mutlak atas dasar kehendak Allah Swt.

Patahnya Argumen Jabariyah

Melalui Sartre, kita dapat mengetahui bahwa dalam diri manusia setidaknya ada kehendak atau kebebasan yang bisa ditentukan oleh manusia itu sendiri. Kebaikan atau keburukan yang dilakukan manusia otomatis tidak selalu disandarkan kepada Tuhan, melainkan ada ruang untuk manusia memilih antara yang baik (taqwa) atau yang buruk (fuzur). Hal inilah yang menjadikan manusia bertanggung jawab atas segala tindak-tanduk dan perilakunya selama ia hidup di dunia.

Akhirnya, dalam beribadah dan menjalankan aturan agama, Tuhan tidak akan selalu disalahkan. Jika meminjam istilah Buya Syafi’i Ma’arif, Tuhan tidak boleh selalu dibajak. Maksudnya, kelompok keagamaan Islam tertentu tidak boleh memaksakan Tuhan agar selalu berpihak kepadanya, untuk kemudian membenarkan tindakan-tindakannya yang keliru. Dalam hal ini aliran Jabariyah yang selalu membenarkan perbuatan-perbuatanya atas nama Tuhan mesti disikapi dengan bijak.

Sumber gambar: Islami.co

Rafi Tajdidul Haq
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Bandung Timur sebagai Kabid Riset Pengembangan Keilmuan | Ig : @rafitajdidulhaq |E-mail : rafi.tajdidul.haq98@gmail.com | Pengelola Media Samar.id | Cooming Soon Buku Saya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

Barter Fatwa, Bolehkah?

Saya tersentak atas pemberitaan media yang mensinyalemen adanya barter fatwa. Barter fatwa yang dimaksud adalah menukar fatwa halal dengan jabatan komisaris sebuah BUMN. Majalah Tempo...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.