Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Covid-19: Mudik Versus Pulang Kampung

Hipnotis Media Sosial

Oleh: Cosmas GunMedia sosial yang lebih dikenal dengan medsos, menghipnotis siapa saja. Mulai dari anak-anak, pelajar, guru, mahasiswa, dosen,  politikus, orang awam, hingga warga...

Menilai Tata Kelola Anggaran Pemerintah

Laporan pertanggungjawaban APBN 2017 baru saja ditetapkan menjadi undang-undang pada akhir bulan Juli. Tercatat, realisasi penerimaan negara dan hibah mencapai Rp 1.666,37 triliun atau...

Hijrah dan Kebebasan Beragama

Sudah bulan Muharram lagi. Ada orang-orang yang merayakan bulan ini sebagai bulan awal tahun baru Hijriyah/Islam. Ada juga yang merayakannya sebagai bulan yang baik...

Ideologi Radikal dan Syariat Demokratik

Belakangan ini kita dikejutkan dengan munculnya gerakan ideologi baru yang disebut “ideologi transnasional” sebagai manifesto gerakan dari Timur Tengah yang hendak melumat ideologi pancasila...

Virus Corona, COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan.

Hal tersebut membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah adanya penyebaran virus Corona. Di Indonesia sendiri, diberlakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.

Corona virus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia).

Selain virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). Meski disebabkan oleh virus dari kelompok yang sama, yaitu coronavirus, COVID-19 memiliki beberapa perbedaan dengan SARS dan MERS, antara lain dalam hal kecepatan penyebaran dan keparahan gejala.

Melansir data dari laman Worldometers, hingga Selasa (12/5/2020) pagi, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 4.245.003 (4,2 juta) kasus. Sedangkan di Indonesia kasus positif Covid-19 bertambah sebanyak 233. Sehingga jumlahnya saat ini menjadi 14.265 orang.

Adanya kasus tersebut, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) merancang kebijakan pelarangan mudik, diharapkan agar menghambat laju penyebaran virus COVID-19 ini.

Dalam wawancara eksklusif yang disiarkan Trans 7 di acara Mata Najwa, Rabu (22/4), saat Najwa Shihab bertanya kepada Jokowi, yang di khawatirkan bahkan masalah itu sudah timbul, karena data dari kemenhub sudah hampir satu juta orang curi start mudik dan yang sudah tersebar ke berbagai daerah, apakah ini berarti memang keputusan melarang itu yang baru dikeluarkan karena melihat situasi tapi faktanya sudah terjadi penyebaran orang di berbagai daerah. Lantas Jokowi menjawab.

“Kalau itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung. Memang bekerja di Jabodetabek, di sini sudah tidak ada pekerjaan, ya mereka pulang. Karena anak istrinya ada di kampung,”. Menurut Jokowi, pulang kampung berbeda dengan mudik. Jokowi mengatakan mudik dilakukan saat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Namun ‘pulang kampung’ tidak terbatas pada momen Lebaran.

“Ya kalau mudik itu di hari Lebaran-nya, beda, untuk merayakan Idul Fitri. Kalau yang namanya pulang kampung itu bekerja di Jakarta, tetapi anak-istrinya ada di kampung,” kata Jokowi. Pernyataan tersebut sontak menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata ‘mudik’ memiliki dua arti. Berikut adalah arti ‘mudik; dalam KBBI V. (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman): dari Palembang — sampai ke Sakayu, pulang ke kampung halaman. Contoh: seminggu menjelang Lebaran sudah banyak orang yang mudik. Berikut adalah arti ‘pulang kampung’. Kembali ke kampung halaman; mudik. Contoh: dia pulang kampung setelah tidak lagi bekerja di kota.

Ternyata pengertian ‘mudik’ dan ‘pulang kampung’ hampir sama. Ada contoh yang disertakan dalam KBBI, yakni mudik disertai contoh konteks Lebaran, sedangkan pulang kampung disertakan konteks kondisi pekerjaan di kota.

Dilansir dari news detik.com, berikut perbedaan antara mudik dan pulang kampung menurut DR. Devie Rahmawati, Dosen dan Peneliti Tetap Program Vokasi Humas Universitas Indonesia, secara praktik mudik menjadi dekat dengan tradisi para migran yang kembali ke kampung setahun sekali dan biasanya bertepatan dengan perayaan hari keagamaan seperti Lebaran. Sedangkan pulang kampung dapat dilakukan tidak hanya setahun sekali.

Telaah Sosiologis

Profesor sosiologi dari UGM, Sunyoto Usman, menyampaikan bahwa mudik sesungguhnya mengandung makna umum di masyarakat, hanya saja bila merujuk ke aktivitas saat Idul Fitri, Sunyoto memiih menyebutnya sebagai ‘mudik lebaran’.

“Dalam konteks itu, mungkin lebih tepat disebut sebagai mudik Lebaran,” kata sosiolog UGM, Profesor Sunyoto Usman, kepada detikcom, Kamis (23/4).

Aktivitas itu dilakukan untuk menyambung kembali kebudayaan yang sekian waktu ditinggalkan oleh perantau. Lewat mudik pula, si perantau menegaskan bahwa dirinya masih merupakan bagian dari komunitas desa yang selama ini ditinggalnya. Si perantau tetap menjadi bagian orang desa karena dia tidak tegas terserap sebagai masyarakat kota.

“Dengan mudik, dia menyatakan diri sebagai bagian masyarakat, supaya tetap diakui sebagai warga desa sebagai tempat afiliasi. Di kota, mereka hanya menempel, tidak berakulturasi penuh dengan masyarakat kota,” kata Sunyoto.

Lalu bagaimana dalam konteks wabah virus Corona sekarang? Masyarakat melakukan aktivitas mudik pula, namun bukan mudik lebaran. Masyarakat pulang dari Jakarta ke desa-desa bukan karena dorongan budaya dan pengakuan masyarakat, melainkan karena desakan ekonomi.

“Konteksnya soal COVID-19, masyarakat tidak mungkin tetap tinggal di kota tanpa ada pendapatan. Hidup di kota tidak mudah dan tidak murah. Kalau di desa, mereka bisa memanfaatkan social-capital yang ada untuk bertahan hidup,” kata Sunyoto.

“Aktivitas pulang kampung mungkin tidak dihubungkan masyarakat dengan Idul Fitri,” kata Sunyoto.

Dampak wabah virus corona ini sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial, seperti yang telah saya lakukan dengan mewawancarai teman saya, bahwa dengan adanya larangan mudik ataupun pulang kampung ini, membuatnya tidak bisa bersilaturahmi seperti lebaran tahun lalu, dimana momen tersebut biasanya mengadakan acara syawalan dan berkumpul bersama-sama dengan keluarga nya.

Menurut saya adanya pelarangan mudik itu adalah hal yang benar, jadi di kondisi seperti sekarang ini, maka masyarakat harus menyadari bahwa mudik ataupun pulang kampung justru akan berdampak buruk dan menambah derita panjang pencegahan dan penghentian penularan covid-19 terhadap keluarga dan lingkungan kita, terutama bagi orang tua kita dan siapa saja yang memiliki imunitas tubuh rendah. Rasa sayang kita wujudkan dengan cara menahan diri untuk mudik ataupun pulang kampung.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.