Selasa, Desember 1, 2020

COVID-19, Angsa Abu-Abu, dan Paradigma Pembangunan

PKI Bangkit Lagi, Hoax!

Wacana bangkitnya kembali, serta tindakan kekerasan yang di lakukan PKI itu hanyalah fitnah warisan dari pemimpin otoriter (otoritarian legacy). Bahkan fitnah kebencian itu sudah menjadi...

Demonstrasi Buruh Vs Komodifikasi Media

1 Mei merupakan hari buruh sedunia dalam setiap tahunnya para buruh selalu melakukan demonstrasi di pelbagai tempat bahkan di penjuru dunia pun buruh selalu...

Digitalisasi Teknologi Pendidikan Indonesia

Pesatnya perkembangan teknologi di dunia membawa perubahan peradaban baru yang sangat pesat untuk dunia di berbagai bidang. Lahirnya berbagai macam platform semakin memudahkan manusia...

Menyuarakan Keberagaman dalam Mewujudkan Persatuan

Bicara Indonesia tidak lepas dari bicara soal kemajemukan bangsa. Indonesia yang sangat besar dan penduduknya relatif banyak akan memberikan rekor tersendiri bagi bangsanya. Indonesia lahir...
Dwi Munthaha
Fasilitator andragogi tematik. Masih belajar di Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional

Kemunculan pandemi Covid-19, oleh sebagian kalangan disebut sebagai fenomena Angsa Hitam. Spesies ini dipopulerkan kembali oleh Nassim Nicholas Taleb (2007), untuk memahami berbagai peristiwa yang tidak terduga.

Taleb menuliskan fenomena angsa hitam berupa peristiwa dengan 3 sifat, yaitu: peristiwa di luar kelaziman dan belum pernah terjadi di masa lalu; berdampak ekstrim; dan baru dapat dijelaskan setelah perisitiwa tersebut terjadi.

Sebelumnya, Karl Popper menuliskan fenomena angsa hitam sebagai falsifikasi, penyangkalan atas kebenaran pengetahuan yang hanya mengacu pada empirisme dan rasionalisme. Popper (1945) mengenalkan rasionalisme kritis, mengkritisi pemahaman rasionalisme dan historisme yang berabad-abad dianut oleh para intelektual. Tidak ada epistemologi tunggal, karena teori pengetahuan tidak bisa menjadi dogma yang berlaku sepanjang zaman.

Dahulu, orang (Eropa) hanya mengenal angsa berwarna putih. Angsa hitam sebagai fakta ditolak, karena beratus abad orang hanya mengenal angsa putih. Tapi apakah angsa hitam belum ada saat itu? Bagi Suku Aborigin, penduduk asli Benua Australia, angsa hitam sudah ada sejak lama. Namun, Aborigin hanyalah suku pribumi yang dianggap primitif dan populasi terus berkurang sejak tanah mereka dikuasai oleh bangsa Eropa.  Angsa hitam adalah bagian dari keseharian hidup mereka. Tidak ada pentingnya untuk menyampaikannya  ke dunia luar.

Pandemi bukanlah hal yang baru. Di masa lalu benua Eropa pernah diserang wabah yang dikenal dengan Black Death. Peristiwa itu terjadi antara tahun 1347 dan 1351 yang mengakibatkan 1 dari 3 orang di Benua Eropa menemui kematiannya (Ball, 2015).

Namun efek lain yang muncul, terbuka peluang melonggarnya struktur sosial abad pertengahan yang kaku. Dari sana mulai muncul pemikiran-pemikiran kritis yang mengganggu dominasi kekuasaan gereja dan raja-raja hingga puncaknya adalah reformasi di tahun 1517.

Gerakan ini menguat dan tidak terduga perkembangannya. Marthin Luther  bersolo aksi memprotes kewenangan gereja yang absolut. Namun, yang terjadi diluar dugaannya, muncul gerakan anti gereja  yang menjadi cikal bakal atheisme dan sekularisme serta menyemai paham liberalisme.

Apa yang dilakukan oleh Luther dapat dianggap sebagai fenemona angsa hitam. Kebenaran atas konformitas terhadap agama, tersubversi dengan rasionalisme yang membebaskan bangsa Eropa dari nilai-nilai tersebut. Kebebasan individu menjadi narasi utama untuk perkembangan apapun demi terciptanya peradaban baru.

Bukan Hitam tapi Abu-abu

Para intelektual memiliki kecendrungan untuk meramal masa depan. Lebih jauh lagi, banyak proyek penelitian bukan hanya bersifat memprediksi tapi mengarah pada kepastian. Sekilas nuansa keilmiahannya begitu kuat, tapi pada kenyataannya ia tidak bebas dari nilai dan norma, bahkan mengabaikan etika.

Dari berbagai literatur, banyak penelitian sejak  masa renesains dan puncaknya pasca perang Dunia II, yang didukung oleh kepentingan kekuasaan dan industri. Semuanya punya target memprediksi masa depan dengan varian tema yang bermacam-macam. Karena berorientasi pada target, angsa hitam tidak terpikirkan hingga kemunculannya merusak ramalan tersebut.

Pasca Perang Dunia II, banyak kalangan yang tidak menginginkan serial perang berikutnya. Tapi pada kenyataannya, kecendrungan memelihara semangat perang tetap dilakukan. Perang dunia berganti dengan perang dingin (komunisme vs kapitalisme) dan berlanjut dengan perang dagang.

Perang termutakhir adalah perang dagang (penguasaan ekonomi) yang justru melahirkan lebih banyak korban. Anehnya, korban perang ini mampu menikmati penderitaan (masokisme). Korban, bahkan terhalusinasi sebagai pelaku dan sebagai pemenang. Contohnya, sebagian besar orang miskin secara sukarela menambah kemiskinannya  dengan mengkonsumsi produk-produk industri milik segelintir kaum kaya yang sering disebut kapitalis dan juga oligark. Dari sana terciptalah model masokisme politik-ekonomi dan masokisme sosial-budaya.

Apakah Covid-19 merupakan angsa hitam? Jika mengacu pada pemikiran Taleb, peristiwa pandemik bukanlah baru. Dia tak layak disebut sebagai angsa hitam, tetapi kita sebut saja angsa abu-abu. Angsa abu-abu bukan sesuatu yang tidak terpikirkan, tetapi kita ketahui  namun diabaikan.

Retrospeksi  Masa Depan

Walau diakui, bahwa liberalisme mampu mendinamisir perkembangan manusia dan memunculkan peradaban baru, tapi peradaban itu sendiri menghasilkan kecacatan sosial dan ekologis. Kaum Marxis yang berusaha melakukan perlawanan terhadapnya, juga mengalami kebuntuan karena gagalnya kesadaran kolektif terbangun untuk melakukan perubahan.

Semangat perlawanan kelas direduksir dengan bias kelas itu sendiri. Pemikiran ini tidak berkembang dengan bubarnya negara-negara yang menganut paham ini. China yang muncul sebagai raksasa ekonomi dunia, pun harus mengubah ideologinya ke luar, dengan jalan kapitalisme. Maka tak heran, ketika Francis Fukuyama (1992) menyatakan The End of History, liberalisme telah menang.

Pemikiran liberalisme yang menekankan pada kebebasan individu, urung memberi ruang sama bagi manusia untuk berkompetisi. Kredo pursuit of happines (mengejar kebahagian), justru membuat penderitaan bagi kaum-kaum yang kalah. Yuval Noah Harari (2017) menyebut terciptanya useless people karena tidak mampu beradaptasi dengan liberalisme.

Jumlahnya sangat besar, namun tertutup dengan realitas perkembangan teknologi dan modernisasi.  Paham ini memang bebas nilai, kecuali nilai liberalisme itu sendiri. Jhon Locke (1632-1704) yang dianggap sebagai pelopor paham ini dan sangat dipuja dalam sejarah Amerika Serikat, pada kenyataannya pemilik saham dari perusahaan perdagangan  budak, demikian pula beberapa founding fathers AS, yang memiliki dan berskandal dengan budak (Ball, 2015).

Disadari atau tidak, aktivitas yang menggerogoti masa depan bumi terus dilakukan. Target yang dikejar adalah pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan kelestarian alam dan hak asasi manusia.

Ironinya pilihan itu diambil dianggap mampu menyelamatkan perekonomian dan demi kesejahteraan manusia. Pertanyaannya, mengapa tingkat kemiskinan masih begitu tinggi, pun jumlah orang kelaparan dan tingkat kesenjangan?  Jika memahami, bahwa dunia saat ini dalam genggaman sistem oligarki, di mana segelintir oligark dunia menguasai hajat hidup milyaran penduduk bumi, maka sudah jelas, bahwa kegemingan untuk mempertahankan sistem ekonomi sekarang adalah demi kepentingan mereka.

Andre Gorz (1980) mensinyalir, bahwa eksploitasi alam dan industrialisasi menyebabkan munculnya virus-virus penyakit baru karena rusaknya ekosistem. Bencana-bencana alam dan non alam seperti halnya pandemi Covid-19 adalah bentuk konfirmasi. Diperlukan tindakan kritis dari situasi krisis.

Upaya penyelamatan memang diperlukan, namun pemahaman krisis harus disepakati untuk merancang masa depan. Paradigma pembangunan, harus berubah, bukan semata distribution of wealth yang manipulatif, tetapi equity of wealth yang lebih mempertimbangan aspek keadilan dan kelestarian lingkungan. Untuk itulah kekuasaan politik dari negara perlu hadir, memperbaiki berbagai kesalahahan-kesalahan di masa lalu bukan justru meneruskannya keterperangkapan dalam jebakan rezim ekonomi global

Dwi Munthaha
Fasilitator andragogi tematik. Masih belajar di Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.