OUR NETWORK

Corona dan Pembudayaan E-Learning

Semoga kebijakan pemerintah dalam pencegahan wabah COVID-19 dengan memberlakukan belajar jarak jauh dari rumah dengan metode e-learning mencapai hasil yang baik

Virus corona atau coronavirus disease (COVID-19) ditetapkan World Health Organization (WHO) sebagai pandemi atau wabah global. Pemrintah menetapkan sebagai sebagai bencana nasional. Berbagai kebijakan dikeluarkan pemerintah dan lembaga pengelola pendidikan dan pelatihan seperti kegiatan belajar mengajar jarak jauh dari rumah dengan metode e-learning.

UNESCO dalam lamanya menyarankan solusi bagi sekolah yang ditutup untuk menggunakan pembelajaran jarak jauh. Banyak lembaga pendidikan dan pelatihan yang telah memiliki portal untuk pembelajaran e-learning, bahkan beberapa diantaranya sudah cukup maju dan banyak program yang ditawarkannya. Institusi masyarakat nirlaba banyak juga yang sudah memiliki program e-learning dan ditawarkan secara gratis seperti yang penulis pernah ikuti.

Pembudayaan Belajar E-Learning

Namun berdasarkan pengalaman penulis mengikuti workshop dan menjadi fasilitator sekaligur sebagai peserta pelatihan e-learning, nampaknya metode ini belum begitu membudaya atau menjadi kebiasaan dalam kegiatan belajar mengajar atau pembelajaran. Oleh karena itu, dengan adanya kejadian wabah COVID-19, e-learning diharapkan menjadi budaya atau kebiasaan baru dalam belajar dan mengajar yang efektif dan efisien.

Tetapi yang namanya budaya atau kebiasaan baru tentu saja tidak seperti membalikan telapak tangan langsung berubah. Perlu sebuah proses yang secara perlahan-lahan agar menjadi budaya atau kebiasaan e-learning dari sebelumnya kegiatan pembelajaran dilakukan dengan metode klasikal yang sudah terbiasa diikuti.

Cecilia A. Mercado (2008) dalam artikelnya membahas dari perspektif kesiapan dalam implementasi pembelajaran e-learning (readiness assessment tool for an e-learning environment implementation). Dua pemain utama yang disebutkan dapat mendorong kesuksesan pembelajaran e-learning, yaitu peserta pendidikan dan pelatihan serta guru atau fasilitator. Indikatornya meliputi kesiapan akses teknologi, keterampilan teknologi yang dimiliki guru atau fasilitator dan peserta pendidikan dan pelatihan, sikap atau perilaku guru atau fasilitator dan peserta pendidikan dan pelatihan, serta kesiapan institusi.

Dari indikator keterampilan teknologi, tentu saja bagi para milenial tidak terlalu memiliki banyak hambatan. Karena generasi milenial sudah populer dan terbiasa sekali dengan penggunaan teknologi informasi dan komputer (TIK). Adapun indikator lainnya yang perlu mendapatkan perhatian adalah kesiapan peserta pendidikan dan pelatihan menyangkut sikap dan perilaku seperti kebiasaan, kemampuan, motivasi dan manajemen waktu untuk mengikuti proses pembelajaran.

Ini tantangan yang sebenarnya harus dilakukan dengan niat dan latihan yang sungguh-sungguh. Dalam beberapa kesempatan penulis memfasilitasi dan melakukan pengamatan pada saat pelatihan e-learning maupun blended learning bagi aparatur pemerintah daerah dan pusat pada beberapa mata pelatihan, pada umumnya peserta cukup antusias mengikuti prosesnya. Hanya ada beberapa yang tidak selesai mengikuti mata pelatihan dengan tidak mengumpulkan tugas-tugas dalam bentuk studi kasus dan esay sederhana karena kesibukan tugas lain.

Hasil ini tentu saja tidak sepenuhnya akibat ketidaksiapan peserta pendidikan dan pelatihan. Karena seperti disebutkan dalam artikel Cecilia A. Mercado (2008) disebutkan bahwa kedua pemain utama keberhasilan e-learning, yaitu guru atau fasilitator dan peserta pendidikan dan pelatihan.

Dari sisi guru atau fasilitator juga perlu melakukan evaluasi. Beberapa masukan dari peserta pelatihan yang berhasil diperoleh dari penelitian penulis misalnya terkait dengan terlalu lama dalam memberikan umpan balik untuk perbaikan, bahan ajar dan pembelajaran belum interaktif, kurang memberikan ruang bagi peserta untuk diskusi dan tanya jawab, kurang aktif, dan banyak lainnya. Hasil ini mencerminkan belum berubahnya budaya atau kebiasaan pelatihan e-learning.

Kendati demikian hasil ini dapat menjadi masukan bagi guru atau fasilitator untuk melakukan perubahan kebiasaan agar memiliki kesiapan dalam melakukan pembelajaran e-learning seperti yang dilakukan secara klasikal.

Harapannya dengan terwujudnya budaya baru yang baik ini dapat mendorong peserta pendidikan dan pelatihan agar dapat termotivasi belajar secara mandiri sesuai dengan prinsip pembelajaran kontruktivisme yang menjadi paradigma alternatif dalam pembelajaran saat ini.

Semoga kebijakan pemerintah dalam pencegahan wabah Covid-19 dengan memberlakukan belajar jarak jauh dari rumah dengan metode e-learning mencapai hasil yang baik.

Sehingga dua tujuan besarnya dapat tercapai, yaitu menjaga masyarakat agar selalu sehat dari berbagai segala virus penyakit, tetapi di sisi lain tidak menghentikan usaha pendidikan dan pelatihan yang menjadi kewajiban bagi semua warga negara dalam rangka mewujudkan negara yang memiliki peradaban maju melalui SDM nya yang berdaya saing. Wallahu a’lam.

Penulis, Bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi [www.ks2energi.com]

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…