Sabtu, Maret 6, 2021

Corona dan Parodi Masyarakat

Menangkal Pemilu Berbalut Hoaks

Belakangan, kualitas Pemilu 2019 semakin diragukan oleh publik. Hal itu terjadi pasca viralnya pemberitaan diberbagai media yang dinilai terkesan membawa dampak manipulatif terhadap pelaksanaan...

Cantik Fisik Perempuan Milenial

Sebagian besar pria masih belum bisa lepas dari frame tradisional yang menggariskan bahwa kecantikan hakiki yang harus dimiliki seorang perempuan adalah cantik fisik. Hal...

Meneruskan Ikhtiar Perlindungan Sosial

Sebelum 2015, Siti Jariah dan suaminya di Bekasi mengalami masa-masa sulit. Jangankan untuk membiayai sekolah anaknya, pemenuhan kebutuhan harian saja sering tersendat. Setelah menjadi...

TNI di Mata Anak Kampung: Cerita Absurd

Pagi itu, saya datang ke kantor seperti biasa, selesai menyiapkan alat pekerjaan di meja, segera memasak air, menyeduh kopi. Sekitar 30 menit kemudian, beberapa...
Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)

“Gara gara corona arek sekolah prei, dodolanku sepi, gak onok sing tuku, aku wes gak nduwe duwek. Yow opo iki lur”. (Karena corona anak sekolah libur, jualan saya sepi, tidak ada yang beli, aku gak punya uang. bagaimana ini saudara).

“Corona- corona, goro-goro awakmu masker dadi longko, regane dadi larang, ngalah ngalahne regone mutiara”. 0po maneh semprotan tangan iku wes podo larang. (Gara-gara corona masker jadi langka, harganya mahal bisa mengalahkan harganya mutiara. Apalagi hand sanitizer juga ikut mahal).Begitulah petikan sebagian dari candaan sekaligus curhatan, menyikapi situasi pandemi Covid 19 dimata masyarakat.

Parodi masyarakat yang dilakukan dibeberapa media sosial menggambarkan kondisi saat ini. Sekilas menghibur, namun disadari atau tidak menjadi kenyataan yang dirasakan olehnya.

Sejak Covid-19 dinyatakan masuk pada minggu pertama bulan Maret 2020,  melanda Indonesia. Jumlah pasien positif hingga kini menjadi 579 (bisa bertambah atau berkurang). Korban meninggal pun meningkat sementara ini sudah 49 orang, sedangkan yang sembuh 30 pasien.

Angka ini boleh diperdebatkan dan bisa dibandingkan dengan Negara-negara terjangkit Pandemi yang serupa, dimana kurang lebih 121 Negara, Dunia dibuat kacau.

Sontak pemerintah serta masyarakat berbondong bondong untuk sosial distance, itu penting sihh untuk mencegah pandemi semakin meluas. Namun mungkin ada yang luput tidak masuk dalam hitungan dan tanggungan Negara sejak wabah Corona ini melanda.

Dimana selain pencegahan dan membayar hutang semakin menumpuk sejalan dengan nilai tukar Rp16.500;00/U$D terhadap dolar.  Yang mungkin negara luput ialah, tapiii saya tulis diakhir ajah ya hihi..

Setiap negara yang terkena dampak, sudah pasti berupaya mengusir pandemi jahat ini dari kemurkaan nya dimuka bumi. Karena jika tak kunjung terusir, maka akan semakin membuat lumpuh perekonomian dunia.

Tanpa harus perang konvensional ala perang dunia kedua tempoe doeloe. Katanya menurut banyak literatur, perekonomian menjadi lumpuh serta krisis kemanusiaan menjadi akut. Semoga aja Indonesia tidak ikut lumpuh, dan tetap sehat.

Namun tanda itu mulai menuai gejala dirasakan oleh banyak orang, seperti parodi masyarakat diatas (parodi di medsos). Oke memang bener pemerintah dan sebagian stack holder mengkampanyekan untuk sosial distance (jaga jarak) dan diam di rumah, serta tempat-tempat keramaian dipaksa diberhentikan.

Bahkan tenaga medis pun dengan semangat keberaniannya membuat jargon “Biar saya yang disini, kalian dirumah saja”. Memang semestinya harus begitu. Ahlinya bekerja untuk menolong terjangkit positif Covid 19, yang bukan ahlinya (tenaga pendukung) cukup diam dirumah. Begitulah edialnya.

Namun menyambung tanggungan negara yang luput tadi, masih ada pertanyaan kecil yang nyumpel (ganjil) mewakil parodi diatas. Bagaimana mau diam dirumah jika untuk makan dirumah saja susah, Tolong dong negara bantu jawab.

Jika yang bekerja aja gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bagaimana dengan orang yang pengangguran? Cukupkah bertahan dengan mengisolasi diri selama 14 hari dirumah? Siapa yang mau ngasih makan masyarakat jika semua harus diam dirumah. Dilematis. Kecuali pemerintah mau mensubsidi kebutuhan masyarakat, selama pandemi Covid 19 ini melanda, sehingga yang mengisolasi diri dirumah juga tercukupi untuk bertahan hidup.

Baikuni Alshafa
alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.