OUR NETWORK

Corona dan Parodi Masyarakat

“Corona- corona, goro-goro awakmu masker dadi longko, regane dadi larang, ngalah ngalahne regone mutiara”. 0po maneh semprotan tangan iku wes podo larang.

“Gara gara corona arek sekolah prei, dodolanku sepi, gak onok sing tuku, aku wes gak nduwe duwek. Yow opo iki lur”. (Karena corona anak sekolah libur, jualan saya sepi, tidak ada yang beli, aku gak punya uang. bagaimana ini saudara).

“Corona- corona, goro-goro awakmu masker dadi longko, regane dadi larang, ngalah ngalahne regone mutiara”. 0po maneh semprotan tangan iku wes podo larang. (Gara-gara corona masker jadi langka, harganya mahal bisa mengalahkan harganya mutiara. Apalagi hand sanitizer juga ikut mahal).Begitulah petikan sebagian dari candaan sekaligus curhatan, menyikapi situasi pandemi Covid 19 dimata masyarakat.

Parodi masyarakat yang dilakukan dibeberapa media sosial menggambarkan kondisi saat ini. Sekilas menghibur, namun disadari atau tidak menjadi kenyataan yang dirasakan olehnya.

Sejak Covid-19 dinyatakan masuk pada minggu pertama bulan Maret 2020,  melanda Indonesia. Jumlah pasien positif hingga kini menjadi 579 (bisa bertambah atau berkurang). Korban meninggal pun meningkat sementara ini sudah 49 orang, sedangkan yang sembuh 30 pasien.

Angka ini boleh diperdebatkan dan bisa dibandingkan dengan Negara-negara terjangkit Pandemi yang serupa, dimana kurang lebih 121 Negara, Dunia dibuat kacau.

Sontak pemerintah serta masyarakat berbondong bondong untuk sosial distance, itu penting sihh untuk mencegah pandemi semakin meluas. Namun mungkin ada yang luput tidak masuk dalam hitungan dan tanggungan Negara sejak wabah Corona ini melanda.

Dimana selain pencegahan dan membayar hutang semakin menumpuk sejalan dengan nilai tukar Rp16.500;00/U$D terhadap dolar.  Yang mungkin negara luput ialah, tapiii saya tulis diakhir ajah ya hihi..

Setiap negara yang terkena dampak, sudah pasti berupaya mengusir pandemi jahat ini dari kemurkaan nya dimuka bumi. Karena jika tak kunjung terusir, maka akan semakin membuat lumpuh perekonomian dunia.

Tanpa harus perang konvensional ala perang dunia kedua tempoe doeloe. Katanya menurut banyak literatur, perekonomian menjadi lumpuh serta krisis kemanusiaan menjadi akut. Semoga aja Indonesia tidak ikut lumpuh, dan tetap sehat.

Namun tanda itu mulai menuai gejala dirasakan oleh banyak orang, seperti parodi masyarakat diatas (parodi di medsos). Oke memang bener pemerintah dan sebagian stack holder mengkampanyekan untuk sosial distance (jaga jarak) dan diam di rumah, serta tempat-tempat keramaian dipaksa diberhentikan.

Bahkan tenaga medis pun dengan semangat keberaniannya membuat jargon “Biar saya yang disini, kalian dirumah saja”. Memang semestinya harus begitu. Ahlinya bekerja untuk menolong terjangkit positif Covid 19, yang bukan ahlinya (tenaga pendukung) cukup diam dirumah. Begitulah edialnya.

Namun menyambung tanggungan negara yang luput tadi, masih ada pertanyaan kecil yang nyumpel (ganjil) mewakil parodi diatas. Bagaimana mau diam dirumah jika untuk makan dirumah saja susah, Tolong dong negara bantu jawab.

Jika yang bekerja aja gajinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Bagaimana dengan orang yang pengangguran? Cukupkah bertahan dengan mengisolasi diri selama 14 hari dirumah? Siapa yang mau ngasih makan masyarakat jika semua harus diam dirumah. Dilematis. Kecuali pemerintah mau mensubsidi kebutuhan masyarakat, selama pandemi Covid 19 ini melanda, sehingga yang mengisolasi diri dirumah juga tercukupi untuk bertahan hidup.

alumnus Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini aktif sebagai seketaris Bidang Maritim dan Agraria di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…