Selasa, Januari 26, 2021

Cloud Computing dan Kesiapan Infrastruktur Telekomunikasi

Anggaran Pendidikan dan Diskriminasi Sosial

Kebijakan pemerintah menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (PJJ) akibat dari pandemi Covid -19, baru-baru ini sudah dilengkapi dengan subsidi quota internet. Sebelumnya, selama satu semester...

Agama dalam Tanda Tanya

"What Has Religion Done For Mankind?" Apa yang sudah dilakukan agama untuk umat manusia? Pertanyaan itu adalah judul dari sebuah buku yang menginspirasi saya...

Butuh Berapa Banyak Lagi Korban Kekerasan Seksual di Indonesia? Katakan!

Kejadian ini terjadi sekitar tahun 2002, bulan Juli. Seorang gadis cilik berpakaian putih-merahnya pulang dari sekolah, senang karena besok tidak perlu bangun pagi alias...

Menata Cerita di Gua

Sekian pokok pepohonan cukup usia menyorotkan sekotak cahaya. Perjalanan melintas tapak-tapak tangga dari parkiran menuju sanggar tak menyeramkan seperti malam biasanya. Di kiblat bagian...
Muhammad Amir Ma'ruf
Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Kota Kupang

Beberapa dasawarsa terakhir, teknologi informasi berkembang sedemikian cepat seiring meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan tersebut didasari oleh semakin tingginya mobilitas manusia sehingga membutuhkan akses informasi yang mudah, cepat, dan akurat.

Menilik tiga windu kebelakang, kebanyakan orang harus mencari telepon umum jika ingin bersapa dengan sanak saudaranya. Hanya berselang beberapa tahun ketika ponsel mulai umum dimiliki, telepon umum mulai digantikan dengan layanan telepon seluler dan layanan pesan pendek (SMS).

Zaman semakin maju, layanan telepon seluler dan SMS pun mulai digantikan dengan berbagai layanan berbasis internet. Mulai dari mengirim surat hingga bertatap muka melalui panggilan video. Bahkan, kemenkominfo merilis pada tahun 2017 ada sekitar 143,26 juta pengguna internet di Indonesia.

Fenomena ledakan data atau yang lazim dikenal dengan big data tidak dapat dihindari seiring dengan pesatnya penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelegence (AI). Tidak hanya teknologi informasi, penggunaan teknologi AI ini juga merambah pada teknologi penyimpanan. Berbagai media penyimpanan berbasis fisik kini mulai ditinggalkan dan digantikan dengan penyimpanan berbasis komputasi awan yang menggunakan internet karena dianggap lebih ringkas dan mudah.

Salah satu contoh penyimpanan yang menggunakan teknologi komputasi awan adalah Google Drive. Kini orang-orang tidak lagi cemas ketika folder di ruang kerja penuh dengan lembaran arsip, atau berkas penting tertinggal dirumah.Penggunaan komputasi awan sebagai sarana penyimpanan memiliki kelebihan dibandingkan dengan sarana penyimpanan konvensional.

Jika sarana konvensional mengharuskan pengguna untuk mengganti piranti penyimpanan ketika terjadi overload, komputasi awan menawarkan kemudahan berupa penambahan kapasitas tanpa perlu mengganti sumber daya dan memindahkannya ke “wadah” yang lebih besar.

Selain itu, komputasi awan menawarkan kemudahan akses yang memungkinkan pengguna saling berbagi pakai. Penyimpanan berbasis komputasi awan tidak harus menggunakan internet publik, melainkan juga dapat menggunakan intranet yang justru lebih digemari oleh entitas bisnis modern karena dianggap lebih aman. Namun, tidak semua entitas bisnis tersebut mampu membangun infrastruktur untuk penggunaan komputasi awan karena membutuhkan piranti yang berteknologi lebih tinggi.

Komputasi Awan dikalangan Masyarakat

Tanpa disadari, penggunaan komputasi awan ini sudah sangat populer digunakan oleh masyarakat umum. Sebuah portal internet yang memiliki layanan umum seperti e-mail, penyimpanan media, bahkan penggunaan media sosial merupakan salah satu pemanfaatan dari komputasi awan.

Ketika seseorang mengunggah sebuah foto ke linimasa, secara konseptual orang tersebut sudah memanfaatkan penyimpanan komputasi awan karena dapat diakses melalui berbagai perangkat dan dimana saja.

Sama halnya ketika kita menggelar lapak di sebuah situs jual beli dalam jaringan (daring), penggunaan sarana tersebut sudah memanfaatkan komputasi awan. Perusahaan-perusahaan yang lebih banyak memanfaatkan layanan dalam jaringan kini menyadari potensi keuntungan yang didapat dari penggunaan komputasi awan. Perusahaan tersebut berlomba-lomba untuk “menjual data” dari para pelanggan yang memanfaatkan jasa mereka.

Data-data pelanggan berupa histori pencarian dan ketertarikan sebuah layanan memunculkan para ide-ide yang membuat produsen lebih efektif dan efisien dalam melakukan promosi pemasaran.

Mereka menjadi tahu harus kepada siapa mereka mengiklankan produk tertentu yang pada akhirnya akan meningkatkan gairah bisnis mereka. Sebagai contoh perusahaan layanan transportasi dalam jaringan Go-Jek, valuasi mereka kini melebihi perusahaan sekelas Garuda Indonesia. Hal ini tentu sebagai barometer prospek bisnis yang memanfaatkan teknologi komputasi awan.

Sebuah Paradoks

Pemanfaatan komputasi awan dikalangan masyarakat umum lebih didominasi oleh komputasi awan berbasis internet publik. Oleh karena itu, ketersediaan jaringan internet yang memadai merupakan syarat mutlak agar masyarakat ikut merasakan manfaat dari komputasi awan.

Untuk sebagian wilayah Indonesia seperti Pulau Jawa dan kota besar lain di luar Jawa mungkin tidak menemui kendala yang berarti. Akan tetapi, saudara-saudara kita yang berada di daerah 3T masih belum merasakan kemudahan dalam penggunaan komputasi awan. Jangankan untuk berselancar dalam jaringan, untuk sekadar telepon saja terkadang masih kesulitan.

Badan Aksebilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) menyebutkan bahwa sampai Juli 2018 masih ada 11% blank spot seluler di wilayah Indonesia. Perlu sekitar 5000 site lagi agar seluruh wilayah di Indonesia dapat merdeka sinyal. Masih adanya blank spot ini menunjukkan belum meratanya infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Padahal, agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi komputasi awan tak sebatas sinyal 2G, jaringan internet minimal 3G sangat dibutuhkan agar akses menjadi lebih mudah. Terlihat miris, disaat petani di Jepang sudah menggunakan teknologi komputasi awan untuk membantu mereka memantau tanaman mereka dari tempat yang jauh sekalipun, kita masih sibuk dengan bagaimana seluruh masyarakat terbebas dari “buta sinyal” pada tahun 2020.

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar seluruh wilayah Indonesia terutama di pemukiman dan objek pariwisata dapat dijangkau oleh jaringan internet sehingga masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Dengan adanya pemerataan jaringan internet juga diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah.

Pemanfaatan komputasi awan yang semakin marak digunakan dan ketersediaan infrastruktur pendukung yang belum merata seakan membuat gap antara masyarakat yang bertempat tinggal di daerah dengan fasilitas jaringan yang memadai dan yang tidak. Dengan kata lain, komputasi awan di Indonesia belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat.

Masih ada saudara-saudara kita yang hidup tanpa internet, atau bahkan telepon. Pembangunan Palapa Ring yang digalakkan pemerintah untuk menghubungkan existing network dengan jaringan baru terutama di Indonesia bagian timur seakan memberikan secercah harapan bagi masyarakat yang selama ini belum merasakan manfaat jaringan internet. Melalui percepatan pembangunan infrastruktur, jauh ke depan kita berharap komputasi awan dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat.

Muhammad Amir Ma'ruf
Statistisi Ahli pada Badan Pusat Statistik Kota Kupang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.