OUR NETWORK

Climate Change dan Energi Bersih

Jika dibandingkan periode tahun 1961 hingga 1990, rata-rata suhu di Indonesia diproyeksikan meningkat 0,8 sampai 1,0 derajat Celcius antara tahun 2020 hingga 2050.

Hari Bumi adalah sedikit ruang yang memberi kita kesempatan untuk merefleksikan kembali tentang nasib sebuah planet (bumi) yang selama ini menjadi “rumah” tempat kita berlindung dari tindakan manusia sehari-hari.

Bumi adalah rumah semua manusia. Sehingga kerusakan bumi akibat tindakan manusia bukanlah sesuatu yang “parsial”, terpisah satu sama lain. Namun bersifat holistik dan universal, belaku untuk semua makhluk penghuni bumi.

Bumi yang dikuras adalah bumi yang satu, dan ozon yang rusak karena polusi ada di atas bumi yang satu, dengan itu akibat yang menimpa juga mengenai tubuh siapa saja, termasuk mereka yang tak pernah merusak lingkungan atau orang-orang yang justru tak ikut mengotori cuaca dan mengubah iklim dunia.

Dan saat ini gejala perubahan iklim di Indonesia semakin terlihat terang. Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), menyebutkan selama abad 20, Indonesia mengalami peningkatan suhu rata-rata udara di permukaan tanah 0,5 derajat celcius.

Jika dibandingkan periode tahun 1961 hingga 1990, rata-rata suhu di Indonesia diproyeksikan meningkat 0,8 sampai 1,0 derajat Celcius antara tahun 2020 hingga 2050. Perubahan ini memberi dampak yang sangat serius terhadap berbagai sektor di Indonesia, misalnya kesehatan, pertanian, perekonomian, dan lain-lain.

Salah satu dampak terbesar dari perubahan iklim ialah bencana alam. BNPB mencatat sebanyak 2.341 bencana alam terjadi sepanjang tahun 2017. Beberapa kerusakan dan kerugian akibat bencana yang terjadi pada tahun 2017 antara lain adalah banjir dan tanah longsor pengaruh Siklon Tropis Cempaka sekitar Rp 1,13 triliun, banjir Belitung Rp 338 miliar, banjir dan longsor di Lima Puluh Koto Rp 253 miliar, longsor Cianjur Rp 68 miliar.

Selain itu, perubahan iklim juga berdampak pada ketahanan pangan, terutama terhadap sektor pertanian dan perikanan. Di sektor pertanian, laju perubahan iklim dapat memicu penurunan produksi tanaman pangan. Perubahan musim dan cuaca yang tak menentu membuat produksi bahan pangan para petani terancam gagal penen.

Dengan cuaca dan musim yang tak menentu membuat hama penyakit tanaman mudah menyerang dan mengganggu proses pembuahan. Di Jawa Tengah, menurut data Dinas Pertanian dan Perkebunan (2017) sebanyak 13.182 hektare lahan tanaman pangan terancam gagal panen.

Begitu juga di sektor perikanan, laporan Bank Dunia yang berjudul “Turn Down the  Heat-Climate  Extremes,  Regional  Impacts  and  the  Case  for  Resilience”  menyatakan bahwa kawasan  pesisir  pantai  di seluruh  Asia  Tenggara  akan  mengalami  kenaikan  muka  air laut  10-15  persen  lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata kenaikan muka air laut global.

Kenaikan muka air laut di tahun 2050 akan mencapai hingga 50 cm dan 100 cm di tahun 2090, dimana kota-kota besar di Asia Tenggara seperti Jakarta, Bangkok, Ho Chi Minh, Manila, dan Yangon, akan terkena dampak yang paling besar. Dan kenaikan suhu permukaan laut menyebabkan kondisi cuaca semakin ekstrem serta perubahan arah angin, sehingga menurunkan tingkat produktivitas nelayan.

Energi Bersih: Solusi Tanggulangi Perubahan Iklim

Hasil penelitian yang dirilis World Resource Institute (WRI) menyebutkan Indonesia berada di urutan enam negara penyumbang emisi karbon terbesar. Produksi emisi karbon Indonesia mencapai 1,98 miliar ton setiap tahunnya. Salah satu kontributor tertinggi emisi karbon di Indonesia ialah sektor energi.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengungkapkan emisi karbon sektor energi mengalami peningkatan sebesar 2,43 persen per tahun. Peningkatan emisi ini terjadi karena adanya peningkatan pertumbuhan konsumsi energi dengan rata-rata 2,35 persen per tahun.

Emisi karbon sektor energi pada tahun 2015 mencapai 261,89 juta ton CO2. Berdasarkan jenis energi, pangsa emisi ini didominasi oleh Bahan Bakar Minyak sebesar 64 persen, kemudian diikuti oleh Batubara sebesar 16 persen, gas 12 persen, dan LPG 8 persen.

Sedangkan jika berdasarkan pembakaran energi di setiap sektor pengguna pada tahun 2015 mencapai 261,89 juta ton CO2. Pangsa emisi ini didominasi oleh sektor transportasi sebesar 53 persen, kemudian diikuti oleh sektor industri sebesar 35 persen, rumah tangga 8 persen, lainnya 3 persen, dan komersial 1 persen.

Tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan yang terjadi setiap tahun dan semakin maraknya transportasi umum berbasis aplikasi online, memang memberikan kemudahan mobilisasi berbiaya rendah. Namun, di sisi lain, hal tersebut menjadi faktor penyebab meningkatnya emisi karbon di Indonesia.

Tentunya, kondisi ini tidak sustainable bagi keberlangsungan bumi dan aktivitas manusia dalam jangka panjang. Karena emisi karbon yang tinggi dapat menyebabkan pemanasan global kian meningkat dan hal ini berdampak pada perubahan iklim yang menyebabkan lumpuhnya berbagai sektor kehidupan.

Maka perlu ada upaya pengurangan emisi karbon untuk mencegah naiknya tingkat pemanasan global yang menyebabkan pergeseran waktu datangnya musim. Salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni meningkatkan penggunaan energi terbarukan untuk mengurangi emisi karbon. Hal ini juga sesuai dengan janji Presiden Joko Widodo dalam Conference of the Parties (COP) 21 UNFCCC di Paris, Perancis bahwa Indonesia berkomitmen m‎enurunkan emisi karbon sebesar 29 persen pada tahun 2030.

Saat ini penggunaan energi terbarukan di Indonesia masih jauh dari target pengurangan emisi. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bauran pemanfaatan sumber energi per 2015 masih dikuasai oleh energi fosil. Perinciannya, sumber energi minyak bumi masih menjadi tumpuan utama masyarakat Indonesia dengan mencapai 43 persen. Diikuti energi batubara sebesar 28 persen dan gas bumi 22 persen. Sedangkan penggunaan energi terbarukan baru mencapai 6,2 persen.

Padahal potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia sangatlah besar. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan Indonesia menempati urutan kedua setelah Amerika Serikat sebagai negara dengan potensi energi terbarukan geothermal terbesar di dunia dengan potensi panas bumi sebesar 29.543,5 MW. Namun dengan potensi sebesar itu, baru sekitar 1.438,5 MW yang terpasang di Indonesia.

Realisasi pengembangan panas bumi di Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan sejumlah negara lain, seperti Filipina, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Jepang. Bahkan, kapasitas panas bumi yang terpasang di Filipina sudah mencapai 74% dari total potensi yang ada di negara tersebut. Jauh di atas Indonesia yang baru mencapai 4,8 persen pada 2016.

Salah satu hambatan yang menjadi penyebab tidak berkembangnya sektor energi terbarukan di Indonesia yakni kurangnya kerangka kebijakan untuk mengembangkan sektor energi terbarukan sebagai energi alternatif dan bagian dari proyek ketahanan energi.

Perlu ada political will dari pemerintah untuk memulai langkah pengembangan energi terbarukan. Jika tidak, maka ancaman krisis lingkungan hidup akan semakin nyata, mengingat perubahan iklim akibat pemanasan global semakin mengganggu produktivitas manusia.

Ketua DPP GMNI, Bidang Kaderisasi dan Ideologi 2017-2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…