Kamis, Maret 4, 2021

Civil Power dan Trah Militer Politik [Colek Jokowi dan Prabowo]

Gubernur Anies: Tolong Cabut Pergub Nomor 38 Tahun 2019

Pertanyaan buat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, apakah Anda saat ini Provinsi DKI memiliki uang banyak? APBD 2019 dengan jumlah fantastis, Rp 89, 09...

Islam dan Nasionalisme Indonesia, Polemik yang Tak Berkesudahan

Islam dan Indonesia selalu menarik diperbincangkan, apalagi ketika dikaitkan dengan isu-isu sosial politik. Tidak saja karena populasi muslim di negeri ini yang sering disebut-sebut...

Tragedi Asmat dan Peran Aisyiyah Mewujudkan Indonesia Sehat

Baru-baru ini Harian Kompas melaporkan kondisi kesehatan anak-anak di Kabupaten Asmat, Papua. Masalah kesehatan yang membelit di Asmat adalah wabah campak dan gizi buruk...

Bola-Bola Lambung Jokowi

Ketika Prabowo Subianto sibuk melakukan lobi-lobi dan silaturahim politik untuk memperkuat koalisinya, Jokowi justru menyempatkan diri untuk mengunjungi korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Dibelahan negara manapun di dunia, era keemasan militer dalam ranah politik sipil sudah berakhir sejak 30 tahun lalu. Trah militer yang mengincar jabatan presiden tak ubahnya seperti makanan yang sudah basi. Di Indonesia, saya menilai trah mantan militer yang sedang bersaing dengan kekuatan sipil (Prabowo dan Jokowi ) untuk merebut kekuasaan politik sungguh sangat tidak popular.

Trah militer ‘bermain’ politik di negeri garuda ini telah berakhir sejak Jenderal Besar Soeharto lengser. Namun, mantan militer kembali tampil meraih kekuasaan politik melalui Jenderal Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama kurun waktu dua periode (10 tahun). Kontestasi politik antara civil power dengan military power di tahun 2019 ini kembali muncul. Prabowo Subianto sebagai capres 02 mencoba merajut kembali estafet trah mantan militer berpolitik yang sebenarnya sudah tamat usai kepemimpinan SBY.

Sepanjang yang saya ketahui, keberadaan militer (aktif maupun mantan) dalam kancah politik sipil tidak selalu memberikan hasil yang menggembirakan bagi rakyat. Ketika sebuah negara dipimpin oleh seorang presiden militer (aktif maupun mantan), kemunduran sistem demokrasi telah terjadi di sejumlah negara di kawasan Eropa. Hal ini terjadi karena sebagian besar presiden yang berasal dari trah militer, acapkali mengintervensi kepentingan sipil dengan budaya ‘komando’. Padahal, seorang presiden merupakan pemegang mandat rakyat, maka semua kebijakan politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek haruslah berpedoman pada budaya kolektif sipil.

Beberapa negara di dunia yang presidennya berasal dari trah militer seringkali mengalami krisis politik dalam dua kutub kepentingan, yaitu kepentingan kerakyatan dan kepentingan militer. Pada umumnya, kepemimpinan militer lebih mendominasi sehingga melahirkan otoriterisme.

Pakar militer Internasional Samuel Finer dalam bukunya The Man on Horseback: The Role of the Military in Politics (Pall Mall Press, London 1962) mengatakan, dalam militer ada budaya otokratik dan loyalitas total. Militer memiliki organisasi yang sangat kokoh akibatnya militer dapat dengan mudah melakukan intervensi terhadap berbagai kepentingan rakyat melalui sistem budaya ‘komando’. Contohnya ialah melakukan intimidasi terhadap otoritas sipil, menolak koperatif dengan kebutuhan dan kepentingan sipil sampai melakukan kekerasan terhadap gerakan atau aktivitas sipil.

 

Momentum Telah Berlalu 

Capres 02 Prabowo Subianto harus ikhlas bila trah mantan militer berpolitik ditolak rakyat. Toh, faktanya pendukung Prabowo secara perlahan tetapi pasti sudah pasrah karena pendukung capres 01 (sipil) jumlahnya lebih besar dan signifikan. Bukan itu saja, sedikitnya tujuh lembaga survei independen yang dalam waktu relatif bersamaan melakukan survei, ternyata hasilnya elektabilitas capres 01 masih tetap unggul antara 18 sampai 20 persen di atas capres 02.

Saya percaya, capres 02 punya bakat dan kemampuan menjadi presiden seperti Soeharto dan SBY (dari trah militer). Namun, tahun ini bukanlah momentum yang tepat bagi capres 02. Barangkali hanya mukjizat Tuhan yang bisa mengangkat capres 02 jadi presiden di tahun 2019 ini. Momentum capres 02 jadi presiden seharusnya terjadi di tahun 2014 lalu. Sayangnya  momen itu telah berlalu.

Keberadaan Civil Society

Bagi saya, jadi presiden atau tidak capres 02 sudah menunjukkan sosoknya sebagai salah satu pemimpin nasional yang memiliki banyak penggemar di Indonesia. Dari sejumlah tokoh militer yang saya tahu, umumnya beberapa figur militer aktif maupun yang sudah mantan memiliki perhatian besar terhadap berbagai persoalan bangsa. Tapi, seiring zaman yang terus berkembang, keberadaan civil society dan civil power semakin kuat dalam dinamika kehidupan politik.

Bila militer (aktif atau mantan) gagal berpolitik dalam kancah politik sipil kemudian kembali ke ‘barak’,  itu merupakan hal yang wajar dan lumrah-lumrah saja. Lebih baik tampuk kekuasaan politik dikelola oleh sosok sipil yang cerdas dan mendapat dukungan penuh dari rakyat. Tugas penting militer adalah menjaga dan mempertahankan Indonesia dari serangan musuh, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Hal yang sama juga perlu dilakukan oleh ASN dan Polri. Mereka terikat sumpah jabatan untuk netral berpolitik dan terus menjalankan fungsinya melayani publik. Militer, ASN dan Polri wajib menjaga dinamika politik yang sedang berkembang di masyarakat agar tetap adem-ayem sehingga kenyamanan, keamanan dan kedamaian sosial terus terjaga.

Jadi, bila ada segelintir oknum ASN, militer dan Polri yang berpura-pura netral dalam berpolitik, tetapi secara sembunyi-sembunyi mendukung salah satu capres (capres 01 atau capres 02) saya tertawa geli. Ada sesuatu yang sangat ‘lucu’, kenapa? Karena mereka berteriak netral, tapi sesungguhnya tidak netral. Yang lebih memprihatinkan lagi ialah mereka menunjukkan ketidaknetralannya dengan sikap dan perilaku emosional.

Sikap dan perilaku emosional dari sejumlah oknum ASN, militer dan polri yang tidak netral, bagi saya biasa-biasa saja dan saya meresponnya dengan nyantai aja. Dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin menyampaikan bahwa sebaiknya seluruh ASN, militer dan polisi (aktif maupun mantan) berkewajiban menjaga harmoni sosial, berpikir positif dan sportif, berjiwa besar dan berlapang dada untuk mengawal siapapun yang akan menjadi presiden di negeri garuda ini. Salam seruput kopi tubruknya bro…

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.