Minggu, Maret 7, 2021

Cita-Cita Menjadi Seorang Pewarta

Adakah Partai Oposisi dalam Sistem Politik Indonesia?

Terdapat dua momentum besar yang bisa dijadikan tanda munculnya fajar bagi perkembangan demokrasi modern; pertama, The Glorious Revolution yang terjadi di Inggris pada tahun...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Penulis: M. Dudi Hari Saputra, MA. (Direktur Eksekutif Moderate Institute)Konsep Dasar PowerKekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca...

Banjir Cermin Jakarta?

Awal bulan Januari Jakarta sempat lumpuh! Banjir kembali melanda disejumlah sudut kota. Apa daya warga Jakarta mengalami siklus 4 tahunan banjir besar yang semula...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...
prasetyas
Mahasiswa FKIP Jurusan Pendidikan Sejarah Di UHAMKA JAKARTA, gemar mendaki gunung dan menulis

Seniorku memiliki profesi sebagai wartawan di salah satu media massa. Sudah beberapa bulan ini aku memperhatikan pekerjaannya. Rasanya aku mulai jatuh cinta pada pekerjaan yang ia geluti. Sering kali ia memintaku untuk menemani liputan. Hal ini semakin membuatku merasa ingin mimiliki pekerjaan tersebut.

Terkadang aku bingung dengan pekerjaan seorang wartawan. Jarang sekali ia pergi ke kantornya. Setelah aku pelajari secara mendalam soal absensi kehadiran wartawan, ternyata wartawan mengisi absenya lewat produk berita yang akan dilaporkan dan di publish hari itulah juga.

Rasa keinganku untuk memiliki pekerjaan tersebut bertambah. Tanpa disadari seniorku memberikan pelajaran secara tidak langsung dengan tingkah lakunya. Ya semisal, mengajakku untuk liputan mencari berita, mewawancarai narasumber, dan menemaninya menulis berita seusai liputan.

Suatu ketika aku memberanikan diri untuk bertanya tentang pekerjaan wartawan kepadanya.

“Bang, enak gak menjadi seorang wartawan?” Tanyaku.

“Ada enaknya, adapula susahnya. Mau jadi wartawan besok Ben?” Tanya seniorku.

“Sedikit-sedikitlah bang. Ini lagi belajar-belajar,” Jawabku sambil tersenyum.

“Lihati aja cara kerjanya. Searching di google banyak tuh artikel-artikel yang perlu dipelajari untuk menjadi seorang pewarta,” Pintanya.

Setelah menemani seniorku menulis. Aku langsung pulang kerumah dan bergegas untuk membuka artikel-artikel tentang pekerjaan wartawan.

Ternyata setelah ku baca-baca, menjadi seorang pewarta atau jurnalis itu tak segampang yang kubayangkan.

Profesi sebagai wartawan maupun jurnalis kerapkali mendapat perlakuan tak mengenakan. Persekusi-persekusi terhadap wartawan serta bullyan kerap sekali terjadi di Indonesia maupun di negera lainnya.

Namun, dalam hal tersebut semangatku untuk menjadi seorang pewarta semakin bertambah. Lewat artikel-artikel yang ku baca di mesin pencarian google, seorang pewarta harus memiliki sikap profesional.

Dalam pengertian secara luas, pewarta maupun jurnali merupakan seseoranga yang melakukan kegiatan jurnalistik atau orang yang secara teratur menuliskan berita berupa laporan yang akan dimuat di media massa secara teratur.

Keesok harinya aku bertemu seniorku lagi di kantin kampus. Karena biasanya setelah meliput berita, ia kerap mampir.

Aku mulai memberanikan diri untuk menanyakan lebih dalam lagi tentang pekerjaan wartawan.

“Bang benarkah jadi wartawan itu asyik?” Tanyaku.

“Asyik Ben. Tapi hati-hati. Banyak yang tidak senang sama wartawan,” Jawabnya dengan muka serius.

“Iya bang. Paham betul semua hal tersebut. Nyawa juga terancam, heheh,” Ucapku.

“Nah, itu tau kau. Susah Ben untuk menjadi seorang wartawan. Profesionalisme harus dipegang oleh pewarta, kalau tidak memiliki sikap itu, bisa bikin gaduh,” Tambahnya.

Diketahui, untuk menjadi seorang pewarta itu haruslah memiliki sikap profesional, kalau tidak memiliki sifat tersebut, lebih baik jangan.

Maka dari itu, aku harus memiliki sikap yang profesional. Memang benar, seluruh pekerjaan itu harus profesional, apalagi menjadi seorang pewarta. Pewarta kan tugasnya memberikan informasi ke publik, jadi wajib harus memiliki sikap profesional tanpa mempunyai satu sudut pandang.

“Berani jadi wartawan Ben ?” Tanya seniorku.

“Ah, pikir-pikir dulu bang, tapi ada keinginan untuk menjadi seorang wartawan bang,” Jawabku.

“Santai saja, kalau jadi wartawan harus profesional Ben. Kalau mau buat berita dari salah satu kejadian atau kasus yang harus lihat dua arah. Apalagi lagi kalau wartawan politik, kita gak bisa buat berita itu dari satu pihak Ben, Harus dua-duanya,” Jelasnya.

“Yang terutama, mental sih bang yang harus dipersiapkan. Profesional jelas harus itu bang, yang ketiga skill pengambilan berita, seperti memahami Teknik wawancara terhadap narasumber bang. Itu harus benar-benar aku pelajari dulu bang, baru kemudian bisa memastikan ‘wartawan adalah cita-citaku’. Bukan begitu bang?” Kataku.

“Nah, semangat Ben, harus itu. Intinya kamu harus belajar dulu,” Katanya.

Perlu diketahui, kebebasan pers juga mempunyai etika dalam membuat laporan yang nantinya akan di publish. Etika tersebut tertuang dalam Kode Etik Jurnalistik dan dibatasi oleh ketentuan hukum, seperti Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999.

“Bang, sepertinya saya menamatkan kuliah saya dulu,” Tambahku.

“Harus dan wajib itu Ben. Jangan Kasih Kendur kalau persoalan kuliah,” Ucapnya.

“Siap bang. Laksanakan…!” Kataku.

Jangan siap-siap. Percuma belajar yang lain tapi kuliah gagal,” Ujarnya.

Aku bercerita banyak kepada teman-teman tentang cita-citaku tersebut. Namun, beberapa temanku tak menyukai pekerjaan yang menjadi cita-citaku tersebut.

Kerapkali tindakan berupa bullying yang mereka lontarkan membuatku merasa ambigu. Ya jelas saja, karena mereka tak suka dengan pekerjaan tersebut. Hal itu menambah semangatku bertambah untuk menjadi seorang pewarta.

prasetyas
Mahasiswa FKIP Jurusan Pendidikan Sejarah Di UHAMKA JAKARTA, gemar mendaki gunung dan menulis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.