Jumat, Oktober 30, 2020

Cinta dari Rusia: Antara Politik dan Sepak Bola

Politikus Predator

Film The Predator karya Shane Black mengisahkan bagaimana sang Predator menjadi pemangsa paling mematikan di alam semesta. Makhluk rekaan itu kini menjadi lebih kuat,...

Era Sepak Bola Indonesia Baru Dimulai

Indonesia harus tersingkir pada gelaran piala AFF U-19 di babak semifinal. Timnas U-19 Indonesia harus mengakui keunggulan Timnas Malaysia pada sampai babak adu penalti....

PSBB, Malu Bilang Karantina

Pada 31 Maret 2020, pemerintah telah mengeluarkan PP No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus...

Hikayat Kritik dan Perihal Kampus UMM yang Doyan Flashmob

Saya diajari bahwa kritik bukan sekedar mengungkap kesalahan. Kritik adalah kejelian yang terlatih lewat pengalaman membaca dan berdiskusi. Kejelian yang didukung wacana matang. Kejelian...
Arif Susanto
Analis pada Exposit Strategic

Kompleksitas hubungan antara sepak bola dan politik membelit Piala Dunia 2018 menyusul ancaman boikot diplomatik Inggris dan sejumlah negara lain. Rusia membutuhkan dialog dan reformasi tanpa menjadikan Piala Dunia sebagai sekadar alat propaganda.

Berbekal keyakinan bahwa kegairahan sepak bola dapat menyurutkan agresivitas politik, dunia mengharapkan lebih banyak cinta dari Rusia.

Gairah dan agresi

“Olah raga merupakan hal terpenting di dunia, lebih daripada politik, lebih daripada segalanya,” kata Paulo Coelho, Duta Piala Dunia 2014 Brazil bersama Dunga dan Romario. Penyebabnya, lanjut Coelho yang memengaruhi dunia dengan karya-karya sastranya, olah raga telah membawa serta gairah; ia adalah tentang emosi, yang tanpa itu kita hanya akan melihat agresi.

Coelho benar bahwa tanpa gairah, kita hanya akan melihat agresi. Aspek emosional inilah yang menyelematkan kita untuk tidak melihat yang lain sebagai semata musuh yang harus ditaklukkan. Kita ingat adegan menyentuh ketika Bastian Schweinsteiger memeluk secara simpatetik Lionel Messi, usai Jerman berjibaku mengalahkan Argentina pada final Piala Dunia 2014.

Namun, Coelho tidak perlu membenturkan terlalu keras olah raga dan politik. Faktanya, olah raga dan politik berkelindan dan cukup sering saling mendukung –entah untuk suatu tujuan etis atau pun untuk maksud lain yang lebih pragmatis. Relasi antara olah raga dan politik bahkan berlangsung nyaris abadi –sejak masa Yunani Kuno hingga Vladimir Putin berkuasa di Moskow.

Piala Dunia 2010, misalnya, disebut Nelson Mandela sebagai bagian rekonsiliasi nasional Afrika Selatan, yang sebelumnya terbelah apartheid. Sebangun upaya FIFA untuk menendang rasisme jauh dari sepak bola, komitmen politik tersebut berkontribusi terhadap dipilihnya Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia, yang menurut FIFA terkesan “sederhana, tetapi meyakinkan.”

Pada Piala Dunia 2014, Brazil mencoba menggabungkan kegairahan sepak bola bersama kegairahan ekonomi dan politik. Menguras lebih $11 milyar, Piala Dunia diharapkan menggenjot PDB Brazil di tengah merosotnya popularitas pemerintah. Sayangnya, tim Brazil tersungkur di semi final dan skandal korupsi menjerembabkan Dilma Roussef dari kursi kepresidenan pada 2016.

Miguel Delaney menulis bahwa Piala Dunia 2018 kali ini merupakan turnamen yang paling politis, bahkan dibandingkan Piala Dunia 1978 yang digelar junta militer Argentina. Turnamen ini, tentu saja, memiliki dimensi yang majemuk; tetapi, dalam pusaran ambisi kekuasaan Putin, persilangan politik menyita perhatian nyaris melebihi perbincangan teknis sepak bola.

Berbagai isu, seperti korupsi, rasisme, homofobia, hak asasi manusia –selain juga gejolak ekonomi– mengundang perdebatan tentang kelayakan Rusia sebagai tuan rumah perhelatan olah raga terbesar sejagad tersebut. Di tengah ancaman boikot yang sempat mengemuka, Presiden Putin menegaskan “Rusia telah siap untuk menyelenggarakan turnamen ini.”

Piala Dunia Politis?

Serupa kisah rekaan Ian Fleming “From Russia with Love”, relasi antara Inggris dan Rusia di tubir jurang setelah upaya pembunuhan Sergei Skripal, seorang mantan perwira militer Rusia yang pernah berperan sebagai agen ganda. Dia terkapar bersama putrinya, Yulia, di sebuah bangku dekat pusat perbelanjaan dengan tubuh mereka terpapar gas syaraf pada 4 Maret 2018 di Salisbury.

Telunjuk Perdana Menteri May mengarah kepada Rusia sebagai pihak yang harus bertanggung jawab, dan Rusia menyebut hal itu sebagai sirkus. Kemarahan Inggris, diikuti sekitar 26 negara lain, berdampak pengusiran lebih 150 diplomat Rusia. Pasca-pengusiran balasan oleh Rusia, Inggris dan 6 negara lainnya bersiap melakukan boikot diplomatik terhadap Piala Dunia 2018.

Sebelumnya, Uni Eropa menggunakan ancaman boikot untuk menekan Ukraina agar “tidak menggunakan Piala Eropa 2012 sebagai alat propaganda memperbaiki citra, tanpa melakukan reformasi”. Hanya kekhawatiran atas pengaruh lebih besar Rusia yang menghalangi Uni Eropa tidak bersikap lebih keras terhadap Ukraina saat itu.

Hampir mustahil untuk menjadikan sepak bola steril dari politik, dan keduanya memiliki hubungan yang tidak selalu mudah. Bahkan ketika FIFA berkeras menjauhkan politik dari sepak bola, pesan-pesan kemanusiaan mereka gemakan melalui berbagai pertandingan amal untuk menggalang solidaritas. Ambiguitas tampak menyelimuti relasi antara sepak bola dan politik.

Sikap moderat ditunjukkan pelatih Jerman Joachim Loew, yang melihat bahwa sepak bola tidak perlu dikaitkan langsung dengan politik. Namun, menggelar suatu turnamen sepak bola bukan berarti melupakan aspek HAM dan nilai-nilai lainnya. Sebaliknya, kata Loew, sorotan dunia terhadap turnamen itu menjadi kesempatan bagus untuk mendiskusikan masalah dimaksud.

Artinya, terlepas tegangan politik yang berlangsung, tim-tim nasional peserta Piala Dunia tetap dapat bertanding dan para pendukung mereka tetap dapat bersorak. Namun, di bawah sorotan dunia, tidak akan mudah bagi Rusia untuk berperan sebagai tuan rumah yang baik tanpa kesediaan untuk berdialog dan memperbaiki catatan demokrasi mereka.

Sebagai bagian masyarakat dunia, adalah penting bagi negara mana pun untuk tidak menunjukkan sikap agresif. Kita dapat belajar prinsip sportivitas dari tim-tim sepak bola, dengan segenap hasrat mereka untuk mengalahkan lawan tanpa kehilangan sikap saling menghargai. Dalam relasi kompleks antara sepak bola dan politik, dunia berharap lebih banyak cinta dari Rusia.

Arif Susanto
Analis pada Exposit Strategic
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.