Rabu, Maret 3, 2021

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Petuah Ernest Hemingway yang Perlu Didengar Jokowi dan Prabowo

Mari berandai-andai. Seseorang bernama Agus adalah kader PKS. Tanpa tedeng aling-aling, jauh-jauh hari Agus mendeklarasikan bahwa di Pilpres 2019 nanti dirinya akan seratus persen...

Urgensi Investasi Berwawasan Lingkungan

Pembangunan secara masif merupakan salah satu cara untuk mewujudkan pemerataan infrastruktur guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan yang merata diharapkan mampu mendorong berbagai sektor dalam...

Getir Realitas Pendidikan Di Toli-Toli Sulawesi

Cerita tentang sebuah lembaga pendidikan sekolah dasar di tempat terpencil yang sangat minim tenaga pendidiknya, jumlah pendidik dalam satu sekolah dasar bisa dihitung dengan...

Taktik Sandi, Senyum KH. Ma’ruf Amin

Menyoroti debat cawapres yang tak terlalu begitu efektif, terkesan lambat dan terlalu cepat seperti itulah yang masih terasa hingga kini beragam inovasi yang ditawarkan...
Ade Novianto
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Satya Negara Indonesia

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu, olahraga bernilai strategi kemampuan individu untuk membawa predikat terbaik negara masing-masing dari perhelatan akbar dunia. Prestasi negara tidak hanya dilihat sempit seperti pengadaan peralatan militer, jumlah armada, kapal perang, artificial intelegent, teknologi canggih, tingginya PDB (product domestic bruto) atau nuklir sekalipun.

Prestasi individu juga dapat dikategorikan sebagai kemajuan sebuah bangsa, bagaimana negara mengelola sumberdaya manusia nya untuk terus mencetak individu-individu berbakat yang membawa bendera negaranya paling atas pada kompetisi bergengsi dunia.

Olahraga memunculkan persepsi baru dalam hubungan internasional yang mengalami kemajuan dan telah merubah wajahnya dari tradisional (masa perang) menuju konvensional (kompleksitas yang terbangun dari peradaban manusia). Dari perubahan tersebut konteks “internasional” berubah menjadi “transnasional” yang mengakui keterlibatan berbagai aktor (tidak hanya sebatas negara). Konfigurasi tersebut, timbul dari gejala-gejala non-actor state yang bermain lebih dalam untuk setidaknya merubah sirkulasi struktur internasional serta masyarakat global.

Keterlibatan non-actor state pada invididu, misalnya, dapat dijadikan subjek yang memiliki daya kuat dan bahkan dapat menghipnotis kebijakan luar negeri suatu negara (the super-empowered individual).

Hilangnya Disparitas

Corak hubungan negara kontemporer merujuk pada kerjasama berkat dorongan peradaban dan sains yang melahirkan suatu nilai dalam warna kehidupan masyarakat internasional. Itulah yang terjadi pada Indonesia dan China dalam berbagai bidang.

Kedua negara secara geografi memang jauh, namun secara kultur budaya, China dan Indonesia tidaklah banyak perbedaan. Sebagai negara Timur, kedua negara memiliki adat yang sama; (low contecs).

Asumsi saya, keterkaitan itulah yang membawa kedua negara saling mengenyam kelebihan satu sama lain serta mengisi kantong-kantong kosong yang belum terisi. Yang belum nampak dari analisa orang awam adalah begitu lamanya hubungan kedua negara (sudah 70 tahun hubungan keduanya) sehingga dapat saya katakan seperti hubungan sahabat kental yang terlihat dari kemauan dan kesadaran untuk terus berkolaborasi meskipun sentimental terkait komunis memberi warna (gaduh) politik dalam negeri kita.

Dua negara yang menempati empat terbesar warga dunia merupakan bonus demografi yang telah dimanfaatkan dengan berbagai macam cara, seperti, bea siswa dan pariwisata yang mendukung dalam konteks pembangunan ekonomi serta riset.

Positive sum game adalah istilah yang kini melekat pada kedua negara dari percikan saling membutuhkan, bertemu nya dua prinsip yang memajukan kepentingan bangsa; Gaige Kaifang China “menemani” Politik Bebas Aktif Indonesia. Hal inilah yang menjadi jawaban atas kondisi regional di Asia timur yang dipandang sebagai pusatnya egoisme dan terpojoknya kecurigaan, nyaris tidak ada semacam organisasi kerjasama didalamnya, mungkin itulah yang membuat Tirai Bambu tidak cocok dengan panasnya matahari Jepang serta kurang kuat terhadap hantaman Gingseng nya Korea, singkatnya, dekat musuh, jauh saudara.

Lahir dalam Kandungan Bulutangkis

Seperti disinggung diatas bahwa the super-empowered individual merupakan sebuah getaran baru dalam lalu lintas kebijakan luar negeri. Bulutangkis membawa arah dunia berpaling dari yang sifatnya brutal menjadi sorak-sorai didalam arena melalui kebangkitan para atlet.

Indonesia-China memiliki ikatan sejarah yang belum banyak diketahui dalam bulutangkis. Adalah Susy Susanti yang berhasil meraih emas pada Olimpiade di Barcelona pada 1992. Susy yang kala itu mengalahkan Bang Soo-hyun pebulutangkis asal Korea Selatan dilaga final adalah hasil dari polesan seorang pelatih China bernama Liang Chiu Sia. Berkat gemblengan nya, Susy meraih prestasi yang membawa bendera Indonesia dikerek paling atas diantara bendera lain dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Ada beberapa yang harus kita tarik sebagai refleksi dalam konteks hubungan internasional adalah kontribusi warga negara lain yang dapat berpengaruh dikancah internasional, ini menandakan bahwa individu melahirkan cerita baru bagi bangsa lain sekaligus menolak semua asumsi tradisional yang meyakini dunia dibatasi tembok-tembok yang bernama negara.

Pelatih Susy, Liang Chiu Sia merupakan gambaran keakraban Indonesia-China. Kedua negara melakukan pendekatan “pentingnya pengelolaan sumberdaya manusia” lewat olahraga bagi keduanya adalah bagian tidak dipisahkan dari kepentingan nasional. Indonesia harus merangkul semua pihak yang dilandasi Politik Bebas Aktif. Sementara China yang telah melakukan manuver politik dari era Mao yang kaku dirubah drastis oleh dinginnya tangan Deng Xioping yang telah melakukan banyak perubahan dan dirasakan imbasnya nya hingga sekarang.

Namun, olahraga juga memiliki daya warna abu-abu, istilah ini merujuk pada kekagetan dalam arena pertandingan. China bukan saja menjadi kerabat Indonesia, tetapi menjadi pesaing berat, yang pada waktunya akan muncul dengan jalan yang tak terduga. Itu terlihat sampai saat ini peringkat China dalam dunia bulutangkis menempati tempat teratas.

Lewat olahraga predikat negara dapat dilacak dengan prestasi, lebih jauh, individu membawa spektrum luas dalam transnasional.

Ade Novianto
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Satya Negara Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.