OUR NETWORK

China dan Kalahnya Corona di Indonesia

Setiap orang bisa berkontribusi menjadi apapun yang ia bisa. Pemerintah bisa menyediakan sarana serta kebijakan yang cocok diterapkan Indonesia. Sedangkan masyarakat sendiri bisa secara kreatif melaksanakan arahan dari pemerintah.
Sumber gambar: https://radartegal.com/headline/korban-meninggal-positif-corona-jadi-114-segera-karantina/

Suasana begitu mencekam melihat ribuan korban tersambar virus mematikan. Ada rasa khawatir, resah, serta gelisah jika sewaktu-waktu virus menyerang saat kita lemah. Semua orang dibuat panik, berlomba-lomba menukarkan uang dengan ribuan barang yang dianggap berguna saat suasana mencekik. Rakyat jelata menangis tak kuat melihat meroketnya harga, sedangkan saudagar kaya semena-mena merampok seluruh isi perbelanjaan untuk mengamankan posisi mereka.

Wuhan, kota pertama yang diserang virus corona. Bayangkan, ribuan orang tergeletak di jalan. Kota menjadi senyap, ekonomi terjatuh di batas kewajaran, sedangkan ribuan penduduknya terpaksa berdiam diri agar tidak memperburuk situasi. Sayangnya, ketika kota ini mendapatkan musibah, banyak kecaman dari negara-negara tetangga melalui media. Sangat terasa isu identitas mulai diteriakkan, dan banyak orang yang mempunyai identitas berbeda dengan China ikut terpanggil untuk melecehkan.

Menghadapai serangan dari berbagai negara, China tetap tabah. Elemen pemerintah tetap fokus pada rencana penghentian virus, sementara penduduk fokus mensukseskan program yang telah digagas elemen pemerintahan. Hasilnya terbangun rumah sakit khusus menangani virus corona dalam hitungan hari saja.

Solidaritas mereka kuatkan, hujatan mereka biarkan, dan berfokus pada penyembuhan. Inilah bntuk solidaritas sejati, semua orang bekerjasama dalam satu tujuan. Gotong royong membangun prasarana hingga belas kasih kepada sesama. Bagi China virus Corona bisa dijadikan langkah kongkrit membangun solidaritas dan persatuan bangsa.

Semangat gotong-royong membuahkan hasil manis dikemudian hari. Beredar video berdurasi pendek yang menayangkan ribuan perawat melepaskan masker tanda perlawanan mereka terhadap virus Corona hampir selesai. Sedikit lagi mereka akan dinyatakan menang dari pertempuran. Solidaritas tinggi yang diterapkan akan dicatat sejarah sebagai tonggak perjuangan.

Sayangnya, di saat situasi China mulai membaik, beberapa negara di dunia mulai digemparkan dengan serangan virus Corona di negara mereka. Setiap negara menggunakan kebijakan yang berbeda. Setiap negara membuat kebijakan berdasar latar belakang negaranya. Namun tak semua kebijakan berjalan sesuai rencana. Ada beberapa negara salah langkah yang menimbulkan penyebaran virus Corona semakin pesat.

Rata-rata kebijakan yang diambil berupa lockdown dan menginstruksikan semua penduduk negaranya agar tetap berada di rumah. Cara seperti ini dipandang efektif untuk mencegah penularan lebih lanjut. Sehingga jumlah pasien positif Corona tetap bisa dirawat tanpa menimbulkan ancaman bagi orang yang masih dinyatakan sehat.

Dalam penerapan sistem lockdown, terdapat beberapa kendala mulai dari pasokan pangan hingga ancaman pemecatan karyawan. Cara pemberantasan cepat, tapi diiringi risiko yang tak kalah hebat. Sehingga tidak semua negara yang terdampak virus corona berani mengambil langkah untuk penerapan sistem lockdown. Tercatat hanya beberapa negara yang melakukan sistem lockdown, yaitu Italia, China, Irlandia, Denmark, Prancis, Filipina, da nada beberapa negara lainnya.

Beda negara beda penanganan virus Corona. Indonesia sendiri sudah mencatatkan diri sebagai negara terinsfeksi virus Corona. Pemerintah sendiri menyerahkan kebijakan lockdown kepada masing-masing daerah. Pemerintah beranggapan bahwa setiap daerah mempunyai kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Sehingga langkah lockdown tidak bisa dilaksanakan serentak di semua wilayah Indonesia. Meskipun begitu, semua penduduk yang tidak memiliki kepentingan mendesak dianjurkan untuk tetap berada di rumah agar meminimalisir penyebaran virus Corona.

Walaupun begitu, kebijakan ini tidak serta merta diterima semua orang. Banyak masyarakat yang menginginkan sistem lockdown sebagai langkah pencegahan. Hal ini ditinjau dari keberhasilan China dalam menerapkan strategi lockdown di negaranya. Meskipun begitu, pemerintah belum memilih lockdown sebagai opsi utama karena terkendala faktor kesiapan dalam berbagai hal.

Bahkan ada diantara masyarakat yang memperburuk suasana dengan mengaitkan vius Corona dengan permasalahan politik. Bisa ditebak, kubu pendukung dan kubu oposisi kembali terlibat bentrok di sosial media. Adu argument antara pembela dan pengkritik tersaji panas melalui media. Pokok permasalahan tidak lagi terfokus pada penanggulangan virus Corona namun terbagi menjadi beberapa masalah yang harus diperdebatkan di sosial media. Sehingga media beralih fungsi dari penebar berita menjadi penebar kebencian semata.

Peristiwa ini diperparah dengan melonjaknya harga masker akibat penimbunan. Ada beberapa oknum yang sengaja menimbun masker dengan jumlah besar, dan pada saat genting seperti ini bisa dijual dengan harga mahal. Kemudian alat-alat pencegah penularan virus Corona juga mengalami kelangkaan dan kenaikkan yang tidak bisa diprediksi lagi harganya. Solidaritas kita benar-benar diuji dengan adanya virus Corona.

Sudah saatnya kita bangun dari perdebatan melelahkan di sosial media. Kita mulai dengan menyatukan visi, tidak saling menyalahkan, dan memberi kontribusi dalam upaya penanggulangan virus Corona. Setiap orang mempunyai kekuatan tersendiri, ada yang hebat dalam soal harta, ada yang hebat dalam ilmu pengobatannya, dan ada yang hebat dalam mengendalikan situasi negara.

Setiap orang bisa berkontribusi menjadi apapun yang ia bisa. Pemerintah bisa menyediakan sarana serta kebijakan yang cocok diterapkan Indonesia. Sedangkan masyarakat sendiri bisa secara kreatif melaksanakan arahan dari pemerintah. Mulailah melihat diri, melihat potensi apa yang kita miliki, dan langkah apa yang bisa kita bagi.

Dengan begitu, solidaritas kita akan kuat, langkah kita terhimpun dalam satu kesatuan gerakan. Sehingga jika berkaca dari China, virus Corona bisa kita lewati dengan solidaritas dan semangat gotong royong yang tinggi. Kita mulai menghilangkan ego masing-masing, mematuhi segala aturan yang ditetapkan, dan meringankan beban dengan menyalurkan bantuan.

Penulis merupakan reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Metamorfosa UIN Sunan Kalijaga dan aktif menulis artikel di berbagai media.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…