Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

China dan Kalahnya Corona di Indonesia

Mungkinkah Sistem Zonasi “Universitas” Dibuat

Dalam mempraktikkan format baru  Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tentu menuai banyak kritikan. Walupun sistem zonasi sudah berlaku tahun lalu, namun dengan adanya pengesahan...

Ridwan Kamil dan Karma Politik

Karma tidak pandang bulu. Karma bisa menyerang siapa saja. Karma menyerang setiap orang yang terkesan menyengaja berbuat salah terhadap orang lain. Termasuk menyerang Walikota...

Islam dan Integrasi Masyarakat Global

Kajian terhadap realitas sosial modern melahirkan apa yang disebut pluralisme sebagai ideologi baru tatanan masyarakat multikultural. Paham pluralisme sosial didasarkan atas kenyataan akan kemajemukan...

Pemuda dan Komunikasi Lintas Generasi

Pemuda adalah pilar penting dalam pergerakan negara bangsa. Di era pra kemerdekaan, pemuda adalah motor utama pembangunan kesadaran berbangsa dan bernegara. Mereka menjadi aktor-aktor...
Muhammad Nur Faizi
Penulis merupakan reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Metamorfosa UIN Sunan Kalijaga dan aktif menulis artikel di berbagai media.

Suasana begitu mencekam melihat ribuan korban tersambar virus mematikan. Ada rasa khawatir, resah, serta gelisah jika sewaktu-waktu virus menyerang saat kita lemah. Semua orang dibuat panik, berlomba-lomba menukarkan uang dengan ribuan barang yang dianggap berguna saat suasana mencekik. Rakyat jelata menangis tak kuat melihat meroketnya harga, sedangkan saudagar kaya semena-mena merampok seluruh isi perbelanjaan untuk mengamankan posisi mereka.

Wuhan, kota pertama yang diserang virus corona. Bayangkan, ribuan orang tergeletak di jalan. Kota menjadi senyap, ekonomi terjatuh di batas kewajaran, sedangkan ribuan penduduknya terpaksa berdiam diri agar tidak memperburuk situasi. Sayangnya, ketika kota ini mendapatkan musibah, banyak kecaman dari negara-negara tetangga melalui media. Sangat terasa isu identitas mulai diteriakkan, dan banyak orang yang mempunyai identitas berbeda dengan China ikut terpanggil untuk melecehkan.

Menghadapai serangan dari berbagai negara, China tetap tabah. Elemen pemerintah tetap fokus pada rencana penghentian virus, sementara penduduk fokus mensukseskan program yang telah digagas elemen pemerintahan. Hasilnya terbangun rumah sakit khusus menangani virus corona dalam hitungan hari saja.

Solidaritas mereka kuatkan, hujatan mereka biarkan, dan berfokus pada penyembuhan. Inilah bntuk solidaritas sejati, semua orang bekerjasama dalam satu tujuan. Gotong royong membangun prasarana hingga belas kasih kepada sesama. Bagi China virus Corona bisa dijadikan langkah kongkrit membangun solidaritas dan persatuan bangsa.

Semangat gotong-royong membuahkan hasil manis dikemudian hari. Beredar video berdurasi pendek yang menayangkan ribuan perawat melepaskan masker tanda perlawanan mereka terhadap virus Corona hampir selesai. Sedikit lagi mereka akan dinyatakan menang dari pertempuran. Solidaritas tinggi yang diterapkan akan dicatat sejarah sebagai tonggak perjuangan.

Sayangnya, di saat situasi China mulai membaik, beberapa negara di dunia mulai digemparkan dengan serangan virus Corona di negara mereka. Setiap negara menggunakan kebijakan yang berbeda. Setiap negara membuat kebijakan berdasar latar belakang negaranya. Namun tak semua kebijakan berjalan sesuai rencana. Ada beberapa negara salah langkah yang menimbulkan penyebaran virus Corona semakin pesat.

Rata-rata kebijakan yang diambil berupa lockdown dan menginstruksikan semua penduduk negaranya agar tetap berada di rumah. Cara seperti ini dipandang efektif untuk mencegah penularan lebih lanjut. Sehingga jumlah pasien positif Corona tetap bisa dirawat tanpa menimbulkan ancaman bagi orang yang masih dinyatakan sehat.

Dalam penerapan sistem lockdown, terdapat beberapa kendala mulai dari pasokan pangan hingga ancaman pemecatan karyawan. Cara pemberantasan cepat, tapi diiringi risiko yang tak kalah hebat. Sehingga tidak semua negara yang terdampak virus corona berani mengambil langkah untuk penerapan sistem lockdown. Tercatat hanya beberapa negara yang melakukan sistem lockdown, yaitu Italia, China, Irlandia, Denmark, Prancis, Filipina, da nada beberapa negara lainnya.

Beda negara beda penanganan virus Corona. Indonesia sendiri sudah mencatatkan diri sebagai negara terinsfeksi virus Corona. Pemerintah sendiri menyerahkan kebijakan lockdown kepada masing-masing daerah. Pemerintah beranggapan bahwa setiap daerah mempunyai kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Sehingga langkah lockdown tidak bisa dilaksanakan serentak di semua wilayah Indonesia. Meskipun begitu, semua penduduk yang tidak memiliki kepentingan mendesak dianjurkan untuk tetap berada di rumah agar meminimalisir penyebaran virus Corona.

Walaupun begitu, kebijakan ini tidak serta merta diterima semua orang. Banyak masyarakat yang menginginkan sistem lockdown sebagai langkah pencegahan. Hal ini ditinjau dari keberhasilan China dalam menerapkan strategi lockdown di negaranya. Meskipun begitu, pemerintah belum memilih lockdown sebagai opsi utama karena terkendala faktor kesiapan dalam berbagai hal.

Bahkan ada diantara masyarakat yang memperburuk suasana dengan mengaitkan vius Corona dengan permasalahan politik. Bisa ditebak, kubu pendukung dan kubu oposisi kembali terlibat bentrok di sosial media. Adu argument antara pembela dan pengkritik tersaji panas melalui media. Pokok permasalahan tidak lagi terfokus pada penanggulangan virus Corona namun terbagi menjadi beberapa masalah yang harus diperdebatkan di sosial media. Sehingga media beralih fungsi dari penebar berita menjadi penebar kebencian semata.

Peristiwa ini diperparah dengan melonjaknya harga masker akibat penimbunan. Ada beberapa oknum yang sengaja menimbun masker dengan jumlah besar, dan pada saat genting seperti ini bisa dijual dengan harga mahal. Kemudian alat-alat pencegah penularan virus Corona juga mengalami kelangkaan dan kenaikkan yang tidak bisa diprediksi lagi harganya. Solidaritas kita benar-benar diuji dengan adanya virus Corona.

Sudah saatnya kita bangun dari perdebatan melelahkan di sosial media. Kita mulai dengan menyatukan visi, tidak saling menyalahkan, dan memberi kontribusi dalam upaya penanggulangan virus Corona. Setiap orang mempunyai kekuatan tersendiri, ada yang hebat dalam soal harta, ada yang hebat dalam ilmu pengobatannya, dan ada yang hebat dalam mengendalikan situasi negara.

Setiap orang bisa berkontribusi menjadi apapun yang ia bisa. Pemerintah bisa menyediakan sarana serta kebijakan yang cocok diterapkan Indonesia. Sedangkan masyarakat sendiri bisa secara kreatif melaksanakan arahan dari pemerintah. Mulailah melihat diri, melihat potensi apa yang kita miliki, dan langkah apa yang bisa kita bagi.

Dengan begitu, solidaritas kita akan kuat, langkah kita terhimpun dalam satu kesatuan gerakan. Sehingga jika berkaca dari China, virus Corona bisa kita lewati dengan solidaritas dan semangat gotong royong yang tinggi. Kita mulai menghilangkan ego masing-masing, mematuhi segala aturan yang ditetapkan, dan meringankan beban dengan menyalurkan bantuan.

Muhammad Nur Faizi
Penulis merupakan reporter Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Metamorfosa UIN Sunan Kalijaga dan aktif menulis artikel di berbagai media.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.