Minggu, Januari 17, 2021

Ceritakan Walau Satu Dongeng: Refleksi Hari Dongeng Sedunia

Mimpi Mencerdaskan Tunas Bangsa

Dalam setiap bangsa, anak-anak maupun pemuda adalah penopang utama dari keberlanjutan bangsa tersebut. Mereka bagaikan tunas-tunas muda pada sebuah pohon yang akan meneruskan berkembangnya...

Serie A, AC Milan dan Corona

Bagi anak yang lahir tahun 70’an sampai awal 90’an, berbicara sepak bola akan lebih banyak bicara soal Seria A. Serie A menjadi kompetesi paling...

Surga Aksara, Menjadi Intelektual yang Bahagia

I have always imagined that Paradise will be a kind of library (Jorge Luis Borges) Surga, acapkali dipersonifikasikan dengan kumpulan bidadari, dan sungai yang mengalir...

Hidayah

Mengucapkan kata hidayah sangatlah mudah. Namun, sesungguhnya dibalik kata hidayah yang mudah diucapkan itu terkandung mukjizat Allah SWT yang sangat luar biasa. Kamus Wikipedia...
Ulwan Fakhri
Peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) | www.ihik3.com

Jauh sebelum tulisan ditemukan, manusia hidup terlebih dahulu dalam budaya oral. Dari menghibur hingga menularkan beragam ilmu dan informasi, kala itu semua disalurkan lewat lisan. Maka secara garis besar, bisa dibilang peradaban sekarang adalah bentukan dari cerita-cerita lampau yang dituturkan moyang kita.

20 Maret bisa dimaknai sebagai salah satu penghormatan atas warisan leluhur. Inilah momennya, World Storytelling Day, hari ketika kita diingatkan kembali akan pentingnya bercerita. Inilah momennya, Hari Dongeng Sedunia, yang jadi sebuah “sempritan” bagi orang dewasa, terutama orang tua, yang masih lalai dalam mengenalkan atau memanjakan anak-anak dengan dongeng.

Ya, dongeng, menurut KBBI, memang artinya “cerita yang tidak benar-benar terjadi”. Namun jangan salah, faedah dongeng, teruntuk anak terutama, bukanlah dongengan belaka.

Dongeng bak nutrisi pelengkap perkembangan karakter anak. Pendongeng anak kondang, Kak Mal, mendeskripsikan dan mengutipkan beragam manfaat dongeng yang begitu luas dalam bukunya, sedari merekatkan hubungan anak dengan orang tua selaku pendongeng; menenamkan nilai-nilai moral tanpa membuat anak merasa dinasihati atau didoktrin; meningkatkan minat membaca, imajinasi, dan konsentrasi; sampai mencerdaskan anak secara emosional (Latif, 2012).

Dongeng juga bisa mendorong anak untuk berpikir sistematis – karena dongeng mengandung alur yang acapkali runtut, merangsang daya kritis dan rasa ingin tahu, serta menjadi media untuk mengenalkan anak terhadap konsep keilahian (Christin, 2017).

Contoh riil dan terdekatnya salah satunya tercermin dari rangkaian penelitian yang dilakukan Christin (2017). Ia memaparkan bagaimana anak-anak SD usia delapan sampai sembilan tahun yang menjadi respondennya telah mengalami perubahan perilaku setelah dibacakan dongeng dengan tema beragam selama lima hari.

Riset tersebut juga menyimpulkan kalau dongeng berhasil membantu anak-anak untuk memahami masalah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga sejalan dengan semangat penanaman integritas dan sikap antikorupsi sejak dini yang diusung peneliti.

Dongeng mendorong empati

Selain rasuah, sejatinya masih begitu banyak masalah di negeri kita belakangan, termasuk soal konflik horisontal. Ketika perbedaan identitas acap menjadi akar problematikanya, ada kemungkinan fenomena ini berkaitan dengan lunturnya tradisi masyarakat dalam menuturkan serta menikmati dongeng yang pada akhirnya memengaruhi empati seseorang.

Kemampuan menempatkan diri di posisi orang lain tersebut tak hanya berpengaruh besar terhadap perkembangan sosial-emosional anak, tetapi juga menjadi modal dalam mengarungi lingkup kehidupan yang lebih luas dan menjalani kebinekaan.

Oleh karena itu, dengan segudang pengalamannya, klaim Kak Mal bahwa dongeng dapat menumbuhkan rasa empati anak terhadap orang lain berhak untuk disoroti lebih (Latif, 2012).

Dongeng, yang menyajikan contoh-contoh kejadian dan tokoh-tokoh yang bervariatif wataknya, bisa menjadi pembelajaran bagi si kecil untuk mendapatkan gambaran akan kemajemukan sosial yang sudah atau bakal mereka rasakan, yang pada akhirnya membuat anak-anak bisa berempati tak cuma terhadap sosok yang ada di cerita itu.

Ditambahkan oleh Gordon (2009), lewat dongeng, anak-anak diajarkan untuk berbagi emosi dengan tokoh-tokoh dalam cerita. Setelah dongeng berhasil mengetuk pintu empati anak, tuntun mereka untuk membuka pintu tersebut dengan memberi kesempatan mereka merefleksikan dan mengekspresikan emosinya sembari tercebur secara emosional lebih dalam pada cerita tersebut.

Sementara itu, Diana Loomans, penulis buku dan parenting coach, menyebut kalau dongeng dan humor bisa dikombinasikan guna mengakselerasi tujuan tersebut. Setiap anak suka ketika dibacakan cerita, apalagi ketika si pendongeng menganimasikan dan mendramatisir cerita tersebut, misalnya lewat intonasi dan gestur yang lucu sekaligus variatif dan khas untuk masing-masing tokoh (Loomans, 2005).

Dengan diragamkannya tokoh-tokoh dalam dongeng ini, anak jadi lebih mudah untuk mengidentifikasi masing-masing dari mereka sembari mengomparasikan dengan diri, sebut saja terkait sifat atau perbuatan yang bisa ditiru dari sosok-sosok fiksi tersebut. Inilah peran dongeng sebagai pemupuk akal budi seseorang.

Penulis sendiri cukup kagum dengan fenomena tingginya minat dan daya beli masyarakat terhadap buku-buku anak di pameran-pameran buku belakangan. Berkeranjang-keranjang dan bertroli-troli buku anak, baik yang berbahasa Indonesia maupun bahasa asing, menumpuk sejauh mata sempat memandang, diproses di meja kasir, dibayar lunas, lalu diangkut pulang.

Meski kenyataan ini masih sangat mungkin mencerminkan fenomena Tsundoku atau bibliomania di tengah masyarakat, tetapi bisa jadi inilah satu tanda budaya menceritakan dongeng ke anak di negeri kita masih lestari dan ada kans terus meningkat seiring suplai literatur yang tak pernah surut.

20 Maret bagai sebuah alarm yang menggaung seantero negeri. Inilah saatnya bagi kita semua untuk naik level menjadi pendongeng. Sebab, mendongeng bukan lagi tanggung jawab guru di sekolah, komunitas pendongeng, apalagi pendongeng kondang. Ini tanggung jawab kita sebagai bangsa.

Mari menaruh harap dan lihat sendiri apa yang dongeng bisa kontribusikan di tengah kita (setelah dimaksimalkan dengan baik, tentunya) dalam beberapa tahun ke depan.

Referensi:

Christin, M. (2017). Dongeng Anti Korupsi. Bitread Publishing [versi digital].

Gordon, M. (2009). Roots of Empathy: Changing the World, Child by Child. New York: The Experiment.

Latif, M. A. (Kak Mal). (2012). The Miracle of Story Telling. Jakarta Timur: Zikrul Hakim.

Loomans, D. (2005). What All Children Want Their Parents to Know: 12 Keys to Raising a Happy Child. Tiburon: H J Kramer Book.

Ulwan Fakhri
Peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) | www.ihik3.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.