Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Cerita Generasi Milenial Bersama Buya Syafii

Instrumen Akreditasi Program Studi Berbasis Outcome

Instrumen Akreditasi Program Studi Berbasis Outcome (IAPS 4.0) mulai diwacanakan awal 2018. IAPS 4.0 awal mulanya akan diberlakukan mulai 1 Januari 2019. Kemudian ada...

Wewe Gombel Era Sekarang

Sejarah menyebutkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia. Revolusi generasi pertama telah membuat peralihan tenaga manusia dan hewan yang tergantikan dengan...

Refleksi dari Penjual Es Degan

Sore yang terik itu saya berada di salah satu sudut kota Jogja. Di kota ini para wisatawan berdatangan untuk mengabadikan kunjungan mereka. Seseorang yang...

Belajarlah dari Iblis

Dalam keyakinan umat beragama, iblis dikenal sebagai makhluk terkutuk paling durjana yang kelak akan disiksa dan diabadikan di dalam neraka. Karena tahu hidupnya akan...
Sri Haryati Putri
Associate Researcher di JC Institute, Alumni SKK-ASM 3, Penggiat Sejarah Kontemporer

Salah seorang teman satu almamater di kampus Universitas Andalas ternyata mengetahui bahwa aku salah satu peserta dari Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) kala itu.

Dengan antusias, ia berseloroh dalam bahasa Minang: “Lai batamu jo Buya tu kawan?” (kawan telah bertemu dengan Buya?). Aku jawab tidak mungkin karena karena satu dan lain hal, apalagi kondisi beliau yang tidak memungkinkan untuk bepergian ke ibukota. Begitu jawabanku singkat.

Temanku tadi mempertegas bahwa beliau memang sudah sepuh, jadi kemungkinan untuk acara-acara di luar Yogyakarta tempat kediamannya, akan sulit beliau menghadirinya. Aku pun terheran melihat gelagat temanku tadi seolah-olah kenal dekat dengan Buya.

Setelah cerita panjang lebar tentang Buya, ternyata ia telah lebih dulu kenal dan bertemu langsung dengan Buya Syafii. Betapa tidak, ia berencana akan melanjutkan studi program Magister di luar negeri. Nah, ia meminta rekomendasi dari Buya Syafii, termasuk meminta saran kampus mana yang akan dituju.

Menurut ceritanya, setahun belakangan ia telah mengincar Buya Syafii. Mencari peluang supaya bertemu dan bertatap muka langsung dengan Buya. Alhamdulillah, kesempatan itu datang. Ia dipertemukan dengan Buya pada sebuah acara yang diadakan oleh Pemerintahan Daerah Sijunjung Sumatera Barat. Itulah kesempatan yang tidak disia-siakannya.

Dengan tanpa pengawalan yang ketat, berarti siapapun bisa leluasa untuk berbicara dengan Buya. Ia kemudian mengutarakan maksud dan tujuannya kenapa ingin bertemu dengan Buya. Kemudian singkat cerita, Buya langsung mengundangnya untuk bertemu di kediamannya di Yogyakarta. Dan jadilah surat rekomendasi itu.

Rasa penasaranku kemudian muncul, tanpa basa-basi aku pun langsung menanyakan bagaimana ia diterima di kediamannya Buya dan bagaimana perlakuan Buya terhadapnya. Meskipun, telah banyak cerita baik tentang pribadi Buya ketika aku mengikuti short course oleh teman-teman Maarif Institute waktu itu. Mungkin saja mereka ingin menaikkan nama Buya saja, pikirku begitu.

Nah, mumpung temanku telah pernah bertemu dan berurusan langsung dengan Buya, setidaknya pertemuan tersebut meninggalkan kesan dan kemungkinan bisa menguatkan argumen-argumen positif yang telah melekat tentang Buya.

Ternyata, dugaanku tidak sepenuhnya benar. Buya Syafii merupakan seorang tokoh terkemuka yang bersahaja. Perilaku humanis beliau terapkan ketika bertemu dengan siapapun jua. Termasuk dengan temanku tadi.

Menurut ceritanya, berbicara dengan Buya Syafii sama dengan berbicara dengan niniak-niniak (orang tua) yang tinggal di kampung-kampung. Bahasa dan dialek Sumpur Kudus pedalaman tanah kelahirannya, tetap beliau pakai hingga kini, tergantung dengan siapa beliau berbicara. Kebetulan temanku juga berasal dari kabupaten yang sama dengan Buya, yakni Kabupaten Sijunjung.

Tidak seperti tokoh kebanyakan, Buya masih tetap berpegang teguh pada kearifan lokal di mana tempat beliau dilahirkan. Termasuk masih memakai bahasa ibu, ketika beliau pertama kali diajarkan berbicara saat masih balita.

Artinya, meskipun telah puluhan tahun meninggalkan kampung halaman dan memiliki nama besar di perantauan, beliau tidak lupa akan identitas di mana beliau berasal. Minangkabau tetap menjadi kebanggaan dan bangga pernah terlahir pada sebuah etnis penghasil sederet pemikir serta pendiri bangsa ini.

Penilaian dari Taufik Kiemas (Suami Megawati mantan Presiden RI) terhadap Buya sebagai seseorang yang memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi. Rasanya penilaian semacam itu tidaklah keliru karena cintaku kepada bangsa ini adalah sebuah cinta yang tulus dan autentik. Tidak dibuat-buat dan tidak pula untuk mencari posisi duniawi.

Latar belakang Minang dan keislamanku turut menjadi faktor penting mengapa aku menyayangi Indonesia. Begitu ungkapan beliau apabila dibaca dalam otobiografi yang beliau tulis dengan judul Titik-Titik Kisar di Perjalananku (Otobiografi Ahmad Syafii Maarif).

Berinteraksi dengan beliau santai, tidak canggung dan mengalir saja. Sehingga, siapapun bisa lupa bahwa beliau pernah menjabat sebagai orang nomor satu dalam Pengurus Pusat (PP) Muhammadyah. Tidak menonjolkan akan siapa diri, apalagi meninggikan kemampuan intelektual beliau yang melangit.

Beliau senantiasa untuk selalu membumi dalam menghadapi segala realita. Tindak-tanduk beliau jauh dari pemilik nama besar dengan beragam karya luar biasa. Sulit menemukan tokoh yang mau mengantri saat berobat di rumah sakit, apalagi dengan senang hati mau mengantri menunggu kedatangan kereta di stasiun Tebet tempat Maarif Institute yang didirikannya.

Tetapi, itulah Buya. Beliau hidup dengan apa-adanya. Meskipun jabatan menggiurkan dengan segopok penghasilan bisa dengan mudah beliau dapatkan. Namun, prinsip kemanusiaan dan kebangsaan senantiasa menjadi alasan untuk beliau bisa bebas dari kepentingan yang menyesatkan.

Banyak cerita bersahaja seputar kehidupan Buya yang telah kubaca dan dengar dari sumber terpecaya. Memang apa yang beliau lakukan terkesan sederhana. Tetapi, sosok sekaliber beliau mampu melakukan hal-hal demikian, itu sungguh istimewa.

Dari cerita perjalanan temanku tadi dalam meraih mimpi melalui rekomendasi Buya Syafii. Aku merasa bangga pernah menjadi bagian dari proses kaderisasi di bawah naungan Buya Syafii. Perjalanan untuk menjadi seorang intelektual memang sungguh menyenangkan.

Setiap perjalanan selalu meninggalkan kesan untuk  diceritakan dan pengalaman untuk dituliskan. Kami pun bermimpi dan terinspirasi untuk mengikuti jejak langkah beliau apabila di kemudian hari pemilik nama besar dari tokoh republik ini salah satu dari kami.

Akhirnya, percakapan kami malam itu ditutup dengan mimpi-mimpi besar dan secangkir teh hangat buatan Uni kami. Terima kasih, Buya Syafii.

Sri Haryati Putri
Associate Researcher di JC Institute, Alumni SKK-ASM 3, Penggiat Sejarah Kontemporer
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.