Kamis, Maret 4, 2021

Catatan Seorang Demonstran

Dilematis Mawar dan Benalu

Ilham Akbar Habibie, sebuah nama yang membuat orang tidak ragu lagi bahwa yang bersangkutan memiliki ikatan darah dengan mantan presiden Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie....

Selamatkan Generasi Muda atau Tonton Negeri Ini Karam

Menurut catatan komnas perempuan pada tahun 2016, Indonesia memiliki 2399 kasus pemerkosaan dan terus meningkat sepanjang tahunnya. 66% diantaranya terjadi sebelum usia 18 tahun....

Apa Kabar Deradikalisasi Agama? Sudahkah Dirimu Selesai?

Fenomena radikalisme di Indonesia sudah ada sejak negeri ini masih kecil. Namun salah satu kondisi paling akut pernah terjadi pada tahun 2009, saat negeri...

Memahami Lipatan Agama dan Budaya

Secara umum, dalam tipologi pemikiran Islam terdapat dua model pendekatan studi agama yaitu pendekatan tekstual dan kontekstual. Dua pendekatan ini tidak jarang menampakkan cara...
Ferika Sandra Salfia
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Asal Bumi Blambangan Banyuwangi

Melihat aksi masa yang menyuarakan penolakan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja di Banyuwangi bisa menjadi kajian yang perlu kita rawat dan ruwat bersama. Beragam aksi serupa yang juga dilakukan di wilayah lain memiliki semangat yang sama untuk menyuarakan penolakan pada oligarki negeri.

Namun perlu ditekankan, aksi masa hanya akan sekedar euforia semata jika kita menyikapinya hanya pada hari itu saja. Tanpa adanya rencana panjang dan cara yang benar, tentu penulis cukup sangsi apa yang disuarakan akan didengar serta tuntutan dikabulkan.

Berkaca pada aksi serupa di medio akhir 2019 dimana kala itu aksi dari seluruh penjuru Indonesia satu suara untuk menolak pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran perubahan kewenangannya dirasa mengebiri fungsi lembanga anti rasuah itu untuk melakukan pemberantasan korupsi.

Meski aksi digelar hampir diseluruh negeri, tetap saja anggota Dewan tak bergeming dan aturan yang pada akhirnya membatasi kewenangan KPK di sahkan. Belajar dari hal itu, gerakan mahasiswa perlu mengawasi dan memantau perkembangan ini. Sebab tanpa keseriusan, semuanya itu tidak akan lebih berarti. Sehingga kemungkinan demo besar kemarin akan sia-sia cukup bisa terjadi.

Awal Perjuangan

Penulis akui, beragam upaya dari seluruh Gerakan Mahasiswa di Banyuwangi untuk berkonsolidasi serta urun rembuk agar aksi yang dilakukan tidak menguar diudara terus dilakukan. Harapannya kesatuan visi dan kesamaan misi sebagai ghiroh gerakan ini tetap terjaga.

Tapi perlu ada yang menjadi atensi. Tidak sedikit bahwa kita yang kemarin turun ke jalan merasa jumawa karena antusiasme dan kekompakan masa yang turun melebihi ekspektasi. Bahkan selama saya di Banyuwangi, baru kali ini saya merasakan atmosfer unjuk rasa yang berbeda.

Beda bukan karena bendera organisasinya, namun perbedaan yang justru menyatukan kita untuk bisa turun dan satu kata. Menolak Omnibus Law Cipta Kerja. Ingat kawan, kemarin adalah awal perjuangan kita untuk bisa bersama menyatukan visi dan misi dalam menyampaikan aspirasi.

Penyatuan ini harus tetap dijaga agar kegiatan kemarin tidak hanya semacam angin lalu. Oleh karenanya perlu tidakan lanjutan untuk mewadahi jalan dalam perjuangan jalanan. Pada intinya seluruh elemen masyarakat yang kemarin ikut aksi di depan kator DPRD Banyuwangi ingin memperoleh hasil maksimal.

Pun penulis tidak menafikan bahwa Undang-undang Omnibus Law yang disahkan perlu waktu untuk dilakukan pembatakan. Itupun dengan catatan Presiden bersedia mengeluarkan Peraturan Perundang-undangan Pengganti Undang-undang (PERPPU). Atau jalan lainnya dengan uji materi Undang-undang ke Mahkamah Konstitusi.

Sisi Liberalis

Cara apapun itu yang ditempuh, fungsi pengawasan, perimbangan dan kemaslahatan perlu kita pegang bersama agar gerakan ini tetap terjaga. Hal itu merupakan aspek yang perlu diperhatikan utamanya seluruh elemen masyarakat baik buruh ataupun mahasiswa yang kemarin turun kejalan.

Pertama, aspek pengawasan. Hal ini perlu menjadi acuan bersama agar kita selalu satu suara untuk tetap melakukan pengawasan dengan cara terus mangakomodir seluruh pandangan. Mengaktifkan ruang-ruang diskusi untuk kewarasan akal agar tetap kritis dalam melihat isu-isu sosial kemasyarakatan.

Tanpa adanya ruang-ruang diskusi yang kita isi setelah aksi kemarin. Saya rasa semua akan sia-sia, butuh pemahaman bersama agar kita bisa meniatkan ini untuk tetap bisa satu suara kedepannya. Bahkan tidak menutup kemungkinan diskusi ini dilakukan lintas organisasi gerakan mahasiswa.

Kedua, aspek perimbangan. Cover both side tidak hanya dimiliki dalam jurnalistik. Aspek ini juga perlu kita fahami agar ruang-ruang komunikasi kita tetap dari berbagai arah. Kita setuju menolak Ommibus Law, tapi perlu kita ingat bahwa keyakinan itu jangan sampai membuat kita menjadi taqlid buta.

Sehingga hanya mempercayakan komunikasi hanya pada satu arah saja membuat pandangan kita sempit dan cendrung konservatif. Butuh sisi liberal untuk kita bisa memandang isu ini menjadi suatu yang holistik. Sebab tanpa keterbukaan pemikiran niscaya grakan kita akam stagnan.

Ketiga, aspek kemaslahatan. Maslahah mursalah tentu sering kita fahami bersama dalam setiap kehidupan. Maslahah memiliki arti adanya manfaat. Bahkan secara istilah, Imam Ghozali menjelaskan bahwa pada dasarnya, maslahah adalah mengambil manfaat dan menolak kemudharatan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara. Yang penulis tekankan disini pada dampak ekonomi masyarakat atas undang-undang tersebut.

Sedangkan mursalah memiliki arti terlepas atau bebas. Maksudnya adalah bebas dari keterangan yang menunjukkan boleh atau tidak bolehnya dilakukan. Ini mengacu pada apa yang harus kita lakukan saat menggelar aksi lanjutan. Kita perlu menekankan bahwa kita punya koridor untuk memastikan aksi berjalan dengan damai.

Ferika Sandra Salfia
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Asal Bumi Blambangan Banyuwangi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.