Selasa, Maret 2, 2021

Catatan Kecil Mengenang Kepergian Prof. Dawam

Polarisasi Publik Terhadap Branding Politik

Di awal tahun 2019 ini suhu politik tanah air langsung panas akibat kontestasi politik yang semakin ramai digaungkan dengan tujuan untuk saling menjatuhkan demi...

Nasionalisme Bagaimana?

Bulan Agustus tahun 2019 sudah berada di awal pekan. Di jalanan banyak orang berdagang bendera merah putih. Bahkan beberapa rumah sudah memasang bendera negara Indonesia...

Bencana Musiman Kabut Asap

Kabut asap kembali menjadi bencana di Pulau Sumatera. Kebakaran ini bisa secara sengaja ataupun tidak sengaja. Kalau sengaja biasanya pembakaran lahan untuk membuka perkebunan...

Utak-Atik Aturan Pemilu

Kurang dari satu tahun lagi kita akan menghadapi pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih Presiden-Wakil Presiden beserta para wakil rakyat di parlemen. Seperti kebiasaan yang...
Azhar Syahida
Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya, Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

Baru saja kemarin, 30 Mei 2018 saya mempresentasikan hasil penelitian untuk strata S-1, dengan wacana utama menggunakan analisis pemikiran ekonomi Islam Prof. Dawam Rahardjo. Pagi ini, menjelang sahur, saya mendapatkan kabar beliau sudah tiada. Sungguh kematian memang tidak disangka datangnya. Inilah yang disebut sunnatullah.

Ucapan kesedihan tentu sulit diungkapkan dengan kata, hanya rentetan doa yang mungkin bisa terucap untuk mengenang jasa-jasa cendekiawan Muslim sekelas Dawam Rahardjo. “Semoga Allah melancarkan jalanmu menuju rahmat dan kasih sayang Allah. Amin.”

Sebagai mahasiswa ekonomi, saya hanya ingin mengenang, bagaimana beliau begitu berjasa menyumbang wacana-wacana terdepan tentang ekonomi, baik ekonomi umum maupun ekonomi Islam.

Sejak awal menjadi mahasiswa ekonomi Islam, jujur, di awal itulah saya mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran ekonomi Islam Prof. Dawam. Gagasan-gagasannya yang luar biasa tertuang rapi dalam berbagai bukunya yang terbit sejak tahun 1980’an. Namun sayang, pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi Islam tidak pernah diajarkan di ruang-ruang kelas saya ketika itu. Bahkan, mungkin kawan-kawan saya juga tidak ada yang mengenal kalau Prof. Dawam adalah pemikir prolifik di bidang Ekonomi Islam.

Persentuhan saya dengan pemikiran Prof. Dawam adalah ketika membaca buku pertama beliau, bertajuk “Perspektif Deklarasi Mekkah: Menuju Ekonomi Islam”, terbit di pertengahan tahun 1980’an, diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Saya pribadi menyarankan bagi kawan-kawan yang ingin mengenal aspek kesejarahan ekonomi Islam modern, wajib hukumnya membaca buku kecil ini.

Secara umum buku ini berkisah tentang sejarah awal kemunculan ekonomi Islam modern, yang dimulai sejak berlangsungnya konferensi di Mekkah tahun 1976, termasuk juga membahas pemikiran prof. Dawam tentang bunga bank dan gagasannya mengenai Bank Koperasi.

Saya menemukan buku kecil itu, saat menyusuri rak-rak berdebu di kampus, setelah sebelumnya mencari informasi di dunia maya. Buku yang saya temukan ketika itu terlihat lusuh berdebu, tapi masih sangat bagus rupa fisiknya. Terlihat tidak pernah dibaca oleh siapapun. Sungguh sayang.

Saya pribadi, merasa sangat beruntung menemukan buku itu. Buku yang kaya dengan informasi dan gagasan-gagasan yang fresh tentang ekonomi Islam, walaupun ditulis lebih dari tiga dasawarsa lalu.

Berkat buku itu, saya pribadi kemudian jatuh hati dan selalu rakus ingin bertemu dengan buku-buku Prof. Dawam lainnya, yang bercerita tentang banyak hal berkaitan dengan ekonomi. Termasuk saat beliau bertutur dengan sangat baik tentang siapa itu Kaharuddin Yunus dan Sjafruddin Prawiranegara, sang tokoh ekonomi Islam Indonesia yang terlupakan. Sebab, mahasiswa ekonomi Islam hari ini, agaknya jauh lebih mengenal tokoh-tokoh lain macam Umer Capra, Nejjatullah As-Sidqi, Adiwarman Karim, Safi’i Antonio, dan sederet nama lainnya.

Dan yang terbaru, saya bertemu dengan “Arsitektur Ekonomi Islam: Menuju Kesejahteraan Sosial”, terbit di tahun 2015 lalu. Sungguh sepertinya buku ini menjadi penutup dari pengembaraan beliau tentang ekonomi Islam. Dalam mana, pada buku ini beliau berhasil merumuskan apa yang disebutnya sebagai “ekonomi pasar moral sosial”, ekonomi Islam yang berorientasi “moral” pun juga “sosial”.

Selain itu, Prof. Dawam Rahardjo juga banyak mengembara dalam pemikiran-pemikiran ekonomi politik dan ekonomi kerakyatan, gagasan genuine Indonesia. Banyak buku-bukunya yang mengkritik habis model pembangunan Indonesia dari era orde baru hingga pasca reformasi, termasuk kritiknya terhadap para ekonom Indonesia yang juga sangat pedas. Misalnya, “Pembangunan Pascamodernis: Esai-Esai Ekonomi Politik”.

Ungkapan beliau yang sangat terkenal untuk para ekonom Indonesia adalah “Kuman di seberang lautan jauh lebih tampak daripada gajah dipeluk mata”. Sebuah kritik yang sangat keras ditujukan pada para ekonom yang selalu mengutip teori barat tanpa melihat kondisi sosial di Indonesia, terutama tentang hegemoni “developmentalisme” di era orde baru lampau.

Teranyar dan fresh, Prof. Dawam dengan sangat hebat menyajikan perdebatan klasik antara dua ekonom besar Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara, tentang proyek industrialisasi Soemitro Djojohadikusumo di tahun 1950’an.

Perdebatan yang kemudian diakhiri dengan pengakuan kesalahan Soemitro Djojohadikusumo tentang konsep industrialisasinya yang tidak dimulai dari perbaikan sektor pertanian terlebih dahulu itu, menjadi inspirasi banyak ekonom muda saat ini. Kawan-kawan bisa membacanya di “Nasionalisme, Sosialisme dan Pragmatisme: Pemikiran Ekonomi Politik Soemitro Djojohadikusumo“.

Akhirnya, di titik ini, saya harus mengucap terimakasih yang setinggi-tingginya kepada Prof. Dawam. karena dari perjumpaan inilah penelitian saya terilhami banyak wacana-wacana baru. Bahkan, harus jujur saya akui, 90% pemikiran skripsi yang baru kemarin hari saya presentasikan  tidak jauh dari buah pemikiran beliau. Oleh karenanya, tidak ada kata yang pantas untuk mengenangmu, kecuali produktif meneruskan pemikiranmu. Selamat jalan prof!

Allahummaghfirlahu warhamhu

Azhar Syahida
Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang Raya, Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.