Minggu, Oktober 25, 2020

Catatan Halaqah Kebangsaan: Menjadi Payung Besar Minoritas

Dialektika Tsamara-Fahri, Sandiwara?

Alangkah senangnya hati bila melihat perempuan muda berani beragumentasi di tengah gelombang patriarki yang masih pasang hingga saat ini. Begitulah perasaan saya ketika melihat...

Yang Bertikai Itu (bukan) Manusia?

Manusia menurut Alquran berasal dari bahasa Arab yaitu insan yang berarti harmoni, intim, akrab, saling rindu, dan sebagainya. Dari pengertian ini dapat ditarik benang...

Giring “Nidji” dan Pembajakan Identitas Pemuda

Anies Baswedan (AB) pernah mengeluarkan sebuah kalimat bijak. Kalimat yang cukup ampuh memainkan psikologi anak muda, sehingga di antara mereka ada yang mengimani keampuhan...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Umat Islam Indonesia harus memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, mampu menjadi payung (pelindung), memberikan kenyamanan, ketentraman dan keamanan bagi kalangan minoritas. Meskipun berbeda suku, ras dan etnis, Indonesia memiliki hal yang berbeda dengan negara-negara lain, kita memiliki keberagaman.

Indonesia adalah negara yang majemuk, dan manusia beragama mayoritas maupun minoritas dalam beribadah tidak hanya untuk dirinya sendiri dan sesama umatnya saja. Tetapi juga untuk semua mahluk hidup di muka bumi.

Kita seringkali beribadah hanya untuk diri sendiri, terlalu egois jika hubungannya hanya untuk pribadi, bahkan akan melahirkan stigma merasa paling sempurna dalam hidup dan jika tidak di kelola dengan baik, maka akan merasa paling benar dan bersifat ujub, dan berbahaya serta membawa dampak kehancuran bagi bangsa dan negara ini. Umat Islam jangan egois dalam berbangsa dan bernergara, umat Islam harus meneduhkan.

Dalam Halaqah kebangsaan yang di adakan oleh Maarif Institute di hotel Sari Pacific Jakarta 07 Februari 2019, Buya Syafii Maarif mengatakan “Bangsa ini adalah milik semua agama, golongan, suku, etnis dan ras” dalam hal ini penulis berpendapat bahwasannya bangsa ini sering kali terbawa arus oleh ilmu tanpa sumber dan tidak dapat mengelola kebenaran dengan baik.

Bahkan, akhir-akhir ini marak dijadikan konsumsi sehari-hari lalu seringkali kepeleset dan memiliki opini intoleran dan radikal yang tinggi. Seperti halnya dalam hasil Survei “Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat bahwa guru beragama Islam di Indonesia memiliki opini Intoleran dan radikal yang tinggi”(cnnindonesia.com 19/10/2018). Semestinya, umat Islam harus mampu memberikan harapan, karena sejatinya Islam adalah agama yang mempunyai optimisme dan memberikan harapan.

Pancasila adalah Cross (Kesimpulan)

Islam jangan hanya mengawang di langit namun Islam harus turun ke bumi. Dalam kacamata Sejarah, Amin Abdulah mengatakan “Pancasila itu adalah Cross (kesimpulan) hasil dari pertemuan-pertemuan Pancasila = Javanese, Muslim Western dan Oriental.

Soekarno pada saat merumuskan Pancasila pada saat itu ia hanya menyimpulkan pendapat dari beberapa tokoh yang menghadiri perumusan tersebut, peran Soekarno menyimpulkan dan di jadikan satu kesatuan tidak hanya untuk satu agama dan satu ras melainkan dijadikan satu untuk persatuan Indonesia.

Karena Pancasila pun tidak bisa diklaim oleh satu golongan meskipun Islam memiliki berbagai organisasi dan itu tidak bisa di klaim oleh Nadlhatul Ulama dan Muhammadiyah saja, karena pada saat itu ada Al-Khoirots dan Al-Wasliyah dan yang lainnya.

Menjadi Mayoritas yang meneduhkan

Mayoritas yang meneduhkan adalah kalangan mayoritas yang melek literasi dan pandai membaca peta sejarah dan paham tentang hidup beragama dalam keberagaman. Dalam sebuah masyarakat yang belum dewasa secara psiko-emosional, perbedaan terlalu sering dianggap sebagai permusuhan. Padahal, kekuatan yang pernah melahirkan peradaban-peradaban besar justru didorong oleh perbedaan pandangan dalam melihat sesuatu.

Dalam pemikiran Islam kontemporer ini terbagi dua, menurut Abou Ei Fadl, kita tinggal memilih kita mau menjadi masyarakat Islam yang mana terdiri dari dua kategori: Islam Puritan dan Islam Modern. Kelompok puritan adalah menganut kebenaran paham tunggal, monolitik dan tidak ada tempat kultur toleransi di dalamnya.

Kelompok modern, yang biasa juga disebut moderat, sekalipun yakin akan kebenaran agamanya, mereka cukup berlapang dada dan untuk membiarkan pihak lain mempunyai klaim kebenaran pula, tanpa berminat untuk mengintervensinya. Akhirnya, mari menjadi mayoritas yang meneduhkan, melindungi, dan memberikan kenyaman dan hidup berdampingan tanpa menyakiti atau mengintimidasi kalangan minoritas.   

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.