Selasa, Maret 2, 2021

Cara Penjajah Meretas Gerakan Modern Islam di Indonesia

Kala Jokowi “Nyantri Kilat”

Kamis, 8 Maret 2018, di Pesantren Mambaus  Sholihin Gresik, di mana penulis juga pernah mengenyam pendidikan di sana, tiba-tiba riuh tak seperti biasa. Di...

Ketika Nabi Dianggap Pro (Mantan) Kafir

Di tengah tsunami informasi, kebebasan berpendapat, demokratisasi semu otoritas ilmu, musim politik, dan "overdosis" obrolan soal agama, tuduhan-tuduhan pro-kafir sering digunakan sebagai cara untuk mengesankan...

Ikhwanul Muslimin: Titik Pertemuan Antara Erdogan dan Kelompok Islam di Indonesia

Al-ikhwanul Al-Muslimun (selanjutnya disebut IM) merupakan gerakan Islam terbesar pada masanya. Al-Banna dengan semangat juang menggebu mampu membesarkan organisasi yang pada awalnya didominasi oleh...

Hijrah Sebagai Titik Balik Kehidupan

Hijrah merupakan titik balik (turning point) yang dibutuhkan oleh setiap manusia, mengingat perjalanan hidup ini berkelok-kelok. Islam menyeru umat muslim agar berdoa memohon ditetapkan...
Dwi Munthaha
Fasilitator andragogi tematik. Masih belajar di Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional

Tradisi Islam sebagai sebuah kekuatan politik di Indonesia sudah ada sejak lama, bahkan sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara. Oleh M.C. Ricklefs, sejarah Indonesia modern dimulai dengan kedatangan agama Islam ke wilayah Indonesia. Hal ini karena sejarah masa sebelumnya, banyak berasal dari legenda-legenda yang dianggapnya bukan catatan sejarah yang dipercaya karena menitikberatkan pada pengetahuan gaib dan kekuatan-kekutan magis (Ricklefs, 1991).

Tak lama setelah masuknya Islam, perkembangannya relatif cepat hingga menjadi agama dengan penganut terbesar. Kerajaan Islam di Indonesia dari catatan sejarah, sudah ada sejak awal abad ke-13 di wilayah Sumatera Utara. Lalu meluas ke Aceh yang pada abad ke 15 memainkan peran utama, karena Malaka yang secara geografi berdekatan dengan daerah tersebut menjadi rute penting perdagangan di Asia Tenggara (Harry J.Benda,1 980).

Melalui aktivitas perdagangan inilah yang kemudian membuat penyebaran Islam semakin luas ke Timur Indonesia  (Maluku) dan pesisir utara Pulau Jawa. Jawa masih dikuasai oleh Kerajaan Hindu-Budha, Majapahit. Penyebaran pengaruh Islam, rupanya merupakan saat akhir dari kerajaan yang termasyhur itu. Kerajaan Majapahit seperti hilang ditelan bumi, dan tergantikan oleh kekuatan Islam.

Pedalaman Jawa Tengah Kerajaan Mataram yang dulunya Hindu pun berubah menganut Islam. Membesarnya kekuatan Islam, membuat Raja-Raja Jawa akhirnya memilih Islam dengan pertimbangan pragmatis. Walau demikian, kekalahan tersebut tidak menghilangkan budaya Hindu-Budha tapi merasuk ke dalam budaya baru (sinkretisme). Kesadaran ini dipahami oleh penguasa Islam yang kemudian menjadi cikal bakal Islam Politik di Indonesia (Vlekke, 2008 ).

Masa Kolonial

Di masa kekuasaan kolonial Belanda,  kerajaan Islam walau tidak dengan mudah, berhasil ditaklukkan. Nilai-nilai Islam sudah terpatri secara fanatis membuat perlawanan terhadap Belanda menjadi sengit.  Hingga datangnya seorang Snouck Hurgronje yang mampu memetakannya dengan cermat kekuatan dan kelemahannya. Hurgronje memainkan peran penting dalam penaklukan pengaruh Islam dan menjadi pola dari penguasa-penguasa berikutnya hingga Indonesia merdeka.

Kesalahan persepsi penguasa Kolonial Belanda terhadap entitas Islam, yang dianggapnya memiliki hirarki sama dengan imperium Katolik, diperbaiki oleh Hurgronje dengan menentukan strategi dan tindakan yang tepat menghadapinya. Pengalaman pahit Belanda dalam perang Jawa (Diponegoro) yang singkat, tidak berulang di Sumatera Barat dan Aceh.

Politik etis, juga mempengaruhi dinamisasi pergerakan di Hindia Belanda. Pasca terbitnya novel Max Havelaar (1860) yang menghebohkan, tuntutan untuk memperhatikan nasib kaum pribumi menguat justru dari kalangan sosialis di Belanda. Dari sana banyak pemuda pribumi yang bersekolah ke Belanda, serta marak munculnya organisasi-organisasi termasuk juga organisasi Islam.

Pertumbuhan organisasi di Hindia Belanda saat itu, selain menggelorakan gerakan juga menimbulkan persaingan-persaingan diantara gerakan tersebut. Terlihat cikal bakal politik aliran, yang terkelompokkan dalam paham nasionalis, Islam dan komunis. Pemerintah kolonial lebih dekat dengan kelompok nasionalis yang dianggapnya lebih memahaminya makna liberalisme ketimbang kelompok Islam dan Komunis yang dianggapnya berorientasi memberontak.

Pada September 1937, Nachdatul Ulama dan Muhammadyah mendirikan MIAI, Madjlisul Islamil A’laa Indonesia atau Majelis Agung Islam Indonesia. Di organisasi itu, pengaruh Partai Sarekat Islam Indonesia kemudian cukup dominan. Hal ini yang tidak diinginkan karena pemikiran awal Hurgronje adalah memisahkan antara Islam dan Politik.

Pendudukan Jepang           

Di awal abad 20, Jepang tampil sebagai salah satu kekuatan dunia, dengan prestasinya memenangkan peperangan melawan Rusia. Kemenangan Jepang ini mampu membuat kagum tokoh-tokoh pergerakan di Hindia Belanda. Sebelum pendudukkannya di Indonesia, Jepang sudah mulai bergerilya mempengaruhi sentimen anti Belanda di kalangan kelompok Islam. Simpati tersebut diperoleh dengan cara Jepang menggunakan intelektualnya yang beragama Islam untuk mengkampanye  kesamaan Shinto dan Islam.

Jepang kemudian memulai ekspansinya ke wilayah Asia dengan semboyan sebagai 3A, “Nippon Pemimpin Asia”, “Nippon Pelindung Asia” dan “Nippon Cahaya Asia”.  Jepang berhasil memikat kaum pergerakan yang telah jengah dengan kekuasaan kolonial.

Namun saat Jepang mulai berkuasa,  banyak tokoh-tokoh pergerakan dibuat kaget dengan sejatinya perilaku Jepang. Jepang hadir sebagai penguasa militer yang fasis dan berlaku lebih kejam dari penguasa terdahulu. Tetapi Jepang dengan cepat melihat pengaruh Islam yang cukup kuat, hingga tensi kekejamannya cendrung rendah terhadap elit-elit kelompok Islam saat itu. Ada 3 alasannya; fanatisme Islam yang kuat, kedekatan elit Islam terhadap ummat dan sentimen anti Belanda (Benda, 1980).

Jepang membentuk Shumubu (Kantor Urusan Agama), yang dikepalai oleh seorang militer muslim yang bernama Horie. Shumubu bekerja memecahkan pengaruh hirarki kekuatan Islam. Pengaruh MIAI yang semakin meluas, membuat Jepang mulai memainkan politik adu domba ala Belanda. Caranya lebih cerdik lagi dengan memberi penghormatan simbolis pada banyak kyai-kyai dan tokoh-tokoh Islam. Untuk mengkanalkan pengaruh politik organisasi Islam, Jepang memfasilitasi terbentuk Majelis Syuro Indonesia (Masyumi) yang kelak di awal-awal pasca kemerdekaan menjadi partai yang berpengaruh (Benda, 1980).

Jepang juga merebut hati kaum nasionalis, dengan menfasilitasi terbentuknya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh empat serangkai: Sukarno, Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan Kyai Mas Mansyur. Namun perkembangan Putera juga diamputasi oleh Jepang dengan mendirikan Djawa Hokokai yang punya struktur di tingkat basis yakni Tonari Gumi atau Rukun Tetangga.

Peretasan Elit Islam Politik

Cara penjajah sejak masa kolonial Belanda dan penduduk Jepang dalam mengendalikan kekuatan gerakan Islam dilakukan dengan melakukan peretasan pada elit-elit gerakannya. Caranya dengan pelembagaan yang difasilitasi dan memainkan emosi berdasarkan sentimen kelompok dan agama.

Di masa pendudukan Jepang, dibentuk PETA (Pembela Tanah Air) yang tujuannya membantu Jepang menghadapi Sekutu. Doktrin yang ditanamkan, perang akan dihadapi sepadan dengan jihad Perang Sabil. Lambang PETA berupa Bulan Sabit di tengah Matahari menunjukan posisi Islam dalam kekuasaan Jepang. Cara-cara penjajah ini menginspirasi kekuasaan-kekuasaan setelahnya, di masa Indonesia merdeka. Terutama di Orde Baru, Soeharto menggunakan cara tersebut dan efektif membuatnya berkuasa 32 tahun.

Dari perjalanan kekuasaan dan gerakan Islam politik, intelektual memiliki pengaruh dalam memberi arah pada kekuasaan demikian sebaliknya reaksi gerakan terhadap kekuasaan itu sendiri. Dan ini yang memperjelas, bahwa selama ini rakyat hanyalah sebagai objek dari kekuasaan.

Kemerdekaan dan kesepakatan atas nilai-nilai demokrasi pada dasarnya hendak mengubah hal tersebut, namun kenyataannya jauh panggang dari api. Fakta rakyat sebagai korban dari berbagai peristiwa politik dianggap tidak menarik untuk menjadi fokus kajian dan keberpihakan para intelektual.

Dwi Munthaha
Fasilitator andragogi tematik. Masih belajar di Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.