Selasa, Oktober 20, 2020

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Pak Sandi, Komceko Itu Bukan KPK Loh…

Sandiaga Uno Laporkan 2 Kasus di Era Ahok ke KPK DKI Jakarta. Begitu judul berita banyak media beberapa waktu yang lalu. Awalnya saya berpikir KPK...

Jakarta dan Kerawanan Misleading Kebijakan Publik

Arah kebijakan publik Ibukota sekarang berbeda, setelah terjadi perubahan di era Jokowi yang diteruskan sesaat oleh Ahok, lagi-lagi arah besar Jakarta kembali berubah. Perubahan...

Bangsa Pembajak dari Daratan China

Produk China menguasai 27,87 persen dari total impor non-migas pada Januari hingga Mei 2018 dengan nilai 18.363,3 juta dollar AS. Nilai tersebut meningkat 18,62...

“Penjara” Istana Tersembunyi Bagi Para “Beruang”

Sudah menjadi rahasia umum dikalangan masyarakat Indonesia berkaitan tentang bobroknya sistem tata kelola Lembaga Pemasyarakatan LP yang tidak kunjung selesai dan teratasi. Banyak berbagai kasus...
Nur Alia Nanda Rizka
Student of Information and Library Science, Padjadjaran University

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Dengan tanpa kita sadari hampir semua kehidupan sehari-hari kita ditunjang oleh kecanggihan teknologi, contoh sederhananya robot vacuum cleaner, berkembangnya teknologi autonomous vehicle (mobil tanpa supir), drone, aplikasi media sosial, bioteknologi dan nanoteknologi dan masih banyak lagi.

Bahkan saat ini sudah banyak sekali benda-benda baik benda kebutuhan rumah tangga, kebutuhan sekolah, pekerjaan, yang semuanya serba digital dan berteknologi wireless.

Dunia saat ini sudah memasuki era revolusi industri generasi keempat atau biasa disebut dengan Revolusi Industri 4.0. Konsep revolusi industri 4.0 ini pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab, seorang ahli ekonomi ternama didunia yang berasal dari Jerman sekaligus sebagai Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum pada tahun 2015, dalam bukunya yang berjudul The Fourth Industrial Revolution.

Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat dari perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke -18. Menurut Prof Schwab, dunia mengalami empat revolusi industri. Yaitu terjadi sekitar tahun 1760-1840 atau pada abad ke-18. Revolusi industry pertama ini dipicu oleh pembangunan rel kereta api dan penemuan mesin uap.

Kemudian revolusi industri kedua yang dimulai pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20. Yaitu munculnya pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Dengan adanya penemuantersebut ini memicu terciptanya penemuan-penemuan lain yang sangat mengubah dunia. Selanjutnya di revolusi ketiga yang terjadi pada akhir abad 20 ini, yaitu berkembangnya teknologi digital dan internet.

Konsep revolusi industry 4.0 ini yaitu tentang mesin yang cerdas dan terhubung dengan system dengan teknologi dan inovasi berbasis luas yang dapat menyebarkan jauh lebih cepat dan lebih luas dari sebelumnya dan akan terus berkembang. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah.

Ditandai dengan kemunculanya kemajuan teknologi baru seperti, robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), supercomputer, robot pintar, driverless, 3D painting atau editing genetic, hingga perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Di era revolusi industri keempat ini menjadikan lompatan besar di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang dimana di era ini dimanfaatkan sepenuhnya. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan berbasis digital.

Hal ini mendorong setiap kegiatan atau aktivitas dengan sistem otomatisasi dengan teknologi internet yang tidak hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia tetapi juga telah menjadi basis bagi transaksi perdagangan dan transportasi secara online.

Hal tersebut menjadikan revolusi industri 4.0 ini membuka peluang yang sangat besar, terutama pada lapangan pekerjaan. Dengan adanya terobosan teknlogi baru terutama pada lima teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industry 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing ini tentu menimbulkan banyaknya potensi pekerjaan baru dalam jumlah yang besar.

Peluang lain dari revolusi industri 4.0 ini yaitu ketermudahan manusia dalam mengakses teknologi informasi kemanapun hingga daerah terpelosok sekalipun. Sehingga setiap orang diberbagai dunia dapat berkomunikasi dan terhubung melalui jejaring sosial dengan adanya internet.

Dengan terhubungnya semua orang diberbagai penjuru dunia tentu menyebabkan informasi yang tersebar dan kita dapatkan tidak dapat terkendali atau dapat disebut dengan banjir informasi. Dengan kemudahan dan melimpah ruahnya dalam mendapatkan informasi hal ini tentu menjadi pendukung besar dalam perkembangan bebagai ilmu pengetahuan yang ada.

Tidak hanya mendatangkan peluang-peluang yang bagus, namun revolusi industry keempat ini tentu mendatangkan tantangan juga bagi masyarakat Indonesia, khususnya para generasi penerus bangsa, yaitu mahasiswa.

Di era revolusi industri keempat ini harus dihadapi dengan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, kreatif, dan berinovasi yang mempunyai daya saing. Karena seperti yang kita ketahui revolusi industri 4.0 telah membawa inovasi teknologi  yang membawa dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap kehidupan masyarakat. Dimana saat ini sudah banyak aktivitas manusia yang sudah tergantikan oleh teknologi digital bahkan ada beberapa yang sudah digantikan dengan robot.

Adanya pergeseran tenaga kerja manusia kea rah digitalisasi merupakan bentuk tantangan yang harus dihadapi oleh mahasiswa. Peran manusia setahap demi setahap diambil alih oleh mesin otomatis.  Sebagai generasi penerus mahasiswa harus dapat menjadi personal yang siap untuk bersaing tidak hanya di Negara sendiri, namun juga di ranah global. Karena di era ini terlebih dengan adanya MEA dimana pasar-pasar dari berbagai Negara ikut bersaing. Kita tidak bisa menjadi pribadi yang biasa-biasa aja,

Seperti yang dikatakan oleh Prof Dwikorita Karnawati (2017), “Revolusi industri 4.0 dalam lima tahun mendatang akan menghapus 35 persen jenis pekerjaan. Dan bahkan pada 10 tahun yang akan datang jenis pekerjaan yang akan hilang bertambah menjadi 75 persen.” Hal ini akan menyebabkan tingkat pengangguran di Indonesia akan terus bertambah jika SDMnya tidak berkualitas.

Pakar Inovasi Ekonomi Universitas Indonesia (UI), Fithra Faishal Hastadi mengungkapkan, kondisi permasalahan utama yang paling krusial dalam menghadapi industri 4.0 saat ini adalah ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karenanya, perlunya dorongan peningkatan SDM agar mampu berdaya saing global. Bahwa kalau bicara revolusi industri 4.0 salah satu kelemahan atau tantangan terbesarnya adalah banyak tenaga kerja kita yang tidak kompatibel.

Oleh karenanya perlunya dorongan peningkatan peningkatan SDM agar mampu berdaya saing global. Bahwa mengenai revolusi industry 4.0 salah satu kelemahan atau tantangan terbesarnya adalah banyak tenaga kerja yang tidak berkompatibel.

Mahasiswa dalam kiprahnya menjadi instrumen penting dalam mengamalkan Tri Dharma Perguruan tinggi, yaitu sebagai pendidik dan pengajar, Penelitian dan pengembangan serta pengabdian masyarakat. Mahasiswa harus kembali ke jati dirinya yang mampu menjadi Agent of Change, Agen Of Analisys dan Agen Of Control supaya makasimal dalam mencapai cita-sita bangsa yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta memerdekakan rakyat Indonesia dari segala hal dalam kehidupan.

Untuk menjadi mahasiswa yang siap dan matang untuk menghadapi revolusi industri keempat ini, mahasiswa tidak boleh hanya menyerap ilmu dari dosen secara mentah di perkuliahan saja namun mahasiswa juga perlu memiliki keterampilan lebih diluar kegiatan akademik seperti keterampilan berkomunikasi, public speaking, berorganisasi, dan lainnya.

Nur Alia Nanda Rizka
Student of Information and Library Science, Padjadjaran University
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.