Selasa, April 13, 2021

Cara Elit DPP Golkar Menghancurkan Jawa Barat

Si Patai, Robin Hood dari Ranah Minang

Jika di Inggris mengenal sosok Robin Hood sebagai seorang penjahat berhati mulia, Betawi mengangkat sosok Si Pitung dengan dalih yang sama, Kota Padang juga...

AHY, SEO, dan Bye Boomers

Teman-teman pasti ada yang pernah googling nama sendiri. Penasaran kan? Nah, saya sengaja googling nama AHY. Tentu itu bukan nama sendiri. Sosok ini memang...

Tafsir Hukum Secara Humanis

Dari dulu sampai sekarang, permasalahan hukum di Indonesia tidak pernah absen menjadi perbincangan khalayak. Sangat kompleks permasalahanya sehingga cukup rumit untuk menentukan jalan tengahnya. Hukum...

Meresahkan Warga Sukoharjo, Tapi Enggan Ditutup Negara

Mungkin bagi sebagian orang ketika mendengar PT. Rayon Utama Makmur (RUM) bukanlah hal penting. Lain halnya dengan warga Sukoharjo, Jawa Tengah. Lebih tepatnya warga...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Masih ingat apa yang di katakan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Ma’arif Kiai Sofyan Yahya kepada Kang Dedi Mulyadi?

Saya ingatkan, ‘Dedi Mulyadi merupakan Rujukan masyarakat kesundaan, dia paham bagaimana caranya menyelesaikan persoalan yang terjadi di Jawa Barat’ 

Simpulnya seperti itu yang dikatakan oleh Kiai Sofyan Yahya yang saya kutif dari Media (Pikiran Rakyat)

Kecintaan masyarakat kepada Dedi Mulyadi bukan hanya sebatas wacana maupun cerita. Bisa di buktikan bagaimana masyarakat begitu kecewa dengan perlakuan yang di lakukan oleh Ketua DPP Partai Golkar, Setya Novanto saat Partai Golkar yang merupakan tempat bernaungnya Dedi Mulyadi memutuskan Calon Gubernur lain.

Walaupun pernyataan surat tersebut dibantah oleh Sekjen Partai Golkar Idrus Marham. Masyarakat umum, Kader Golkar di Jawa Barat, Relawan maupun simpatisan serta yang lainnya begitu kecewa dengan apa yang dilakukan oleh pimpinan Dedi Mulyadi di Partai Golkar.

Dari mulai hari Jum’at kemarin, tidak henti-hentinya bentuk perlawanan terus di lakukan kepada DPP Partai Golkar.

Di media sosial kita bisa milihat bagaimana tagar #KamiBersamaDediMulyadi maupun #SavePartaiGolkar terus bertebaran menghiasi Time Line

Bagi mereka, melawan dan memperjuangkan Dedi Mulyadi merupakan sebuah kehormatan dan sebuah kebanggan.

Bagaimana tidak, diantara calon Gubernur lain saat ini bermunculan, tidak ada yang seperti Dedi Mulyadi. Baik secara visi, karakter, keberpihakan kepada rakyat dan juga kerja kerasnya Dedi Mulyadi dalam mewujudkan Jawa Barat yang lebih baik.

Di media online, para pengamat banyak yang tidak setuju dengan perlakuan yang dilakukan oleh Partai Golkar, mereka menganggap perlakuan tersebut jelas membuat kehancuran dan keretakan di tubuh partai Golkar.

Para kader Golkar di Jawa Barat yang berasal dari DPD kabupaten/kota juga melakukan Protes hebat, mereka mengibarkan bendera setengah tiang atas perlakuan tersebut.

Protes para kader golkar tersebut tidak sampai disitu saja, berdasarkan informasi yang saya baca di Media Online, mereka bersiap mendatangi DPP Partai Golkar dalam waktu dekat ini untuk mempertanyakan sikap golkar kepada Dedi Mulyadi.

Kejadian di Majalengka mungkin bisa dikatakan kejadian yang paling Parno, kelompok simpatisan dan Kader Golkar menyegel Sekretariat DPD tersebut.

Sedangkan di Kabupaten Bandung, para kader Partai Golkar mengembalikan kembali Kartu Tanda Anggota (KTA) karena kecewa terhadap DPP. Bahkan, mereka siap mundur apabila DPP tetap tidak mengusung Dedi Mulyadi

Sementara Pengurus DPD Golkar Jawa Barat sebagai pihak yang di rugikan dengan surat bodong tersebut jelas tidak tinggal diam, mereka melaporkan Surat Bodong tersebut ke pihak kepolisian untuk segera mengusut pelakunya.

Perlakuan yang dilakuan oleh DPP Golkar terhadap Dedi Mulyadi jelas semakin menguatkan akar rumput di daerah. Jargon Partai Golkar Jawa Barat ‘Golkar Ngahiji’ ternyata memang bukan jargon biasa. Melainkan jargon yang melambangkan spirit kekompakan dan kebersamaan untuk memperjuangkan Dedi Mulyadi serta membangun Jawa Barat kearah yang lebih nyata.

Pahitnya, apabila Golkar tidak mengusung Dedi Mulyadi, Partai Golkarlah sebenarnya yang paling besar di rugikan. Selain pecahnya partai tersebut, mimpi untuk memenangkan Pilgub juga akan semakin menjauh dari kenyataan.

Apalagi, PDIP dan Golkar Jawa Barat sudah menyatakan sepakat (Berkoalosi) di 16 Pilkada Kabupaten dan Kota serta Pilgub Jabar yang di gelar secara serentak. Koalisi tersebut bisa berantakan karena PDIP dan Hanura telah menutup pintu dengan Calon Gubernur yang tertera di Surat Bodong itu.

Sedangkan bagi Dedi Mulyadi sebagai pihak yang di ‘Dzolimi’ oleh Pimpinan DPP Golkar apabila tidak di calonkan, maka berdasarkan Informasi yang beredar di media berdasarkan analisis pengamat, Dedi telah di sambut oleh Poros PDIP-Hanura dan Poros baru PPP-PAN-Demokrat yang secara kebetulan belum mempunyai Calon Gubernur yang akan di usung.

Kenapa Dedi Mulyadi Harus di Dzolimi?

Dedi Mulyadi telah berhasil merubah wajah Partai Golkar di Jawa Barat, ia juga dikenal sebagai orang yang tidak mau tunduk kepada siapapun, apalagi tunduk kepada golongan pemilik modal.

Selanjutnya, kecerdasaan Dedi Mulyadi melebihi jamannya sekarang ini. Bisa di bayangkan apabila Dedi Berhasil menjadi Gubernur Jawa Barat, bukan tidak mungkin Dedi Mulyadi akan mempin Golkar di masa mendatang.

Dengan Menjadi Ketua umum Partai Golkar, jelas Dedi Mulyadi bisa dengan mudah untuk mengendalikan Partai tersebut. Hal ini pastinya menjadi ancaman di tubuh Partai Gqolkar, karena akan banyak yang terusik dengan berkibarnya Dedi Mulyadi.

Yang terakhir tentang kedekatan dan Cairnya hubungan masyarakat kepada Dedi Mulyadi. Seperti yang dilakukannya di Purwakarta, hubungan Dedi Mulyadi dan keberpihakannya kepada rakyat sangat tinggi.

Kepentingan rakyat maupun kebutuhan rakyat adalah yang paling utama baginya. Maka ketika seorang pemimpin yang lebih mengutamakan rakyatnya dianggap membahayakan.

Bisa di buka kembali buku sejarah bagaimana Soekarno di asingkan maupun saat Soekarno lengser dari Presiden karena keberpihakannya yang sangat besar terhadap rakyatnya.

Jadi bisa dimengarti kenapa DPP Partai Golkar dan segelintir orang ingin menjegal Dedi Mulyadi.

Dalam peperangan politik, mungkin anggapan mereka dengan menjegal dan menggagalkan ‘Dangiang Ki Sunda’ dari pesta Demokrasi lima tahunan tersebut, mereka bisa menguasai semua gerbong yang ada didalamnya.

Itu salah besar, karena dengan menjegal dan menggagalkan ‘Dangiang Ki Sunda’ untuk menjadi calon Gubernur, mereka akan berhadapan dengan berbagai lapisan masyarakat Jawa Barat dengan peperangan yang sangat panjang dan melelahkan.

Kenapa bisa begitu? Baca kembali bagaimana kehebatan, kesolidan pasukan siliwangi dalam mempertahankan tanah air, kehormatan dan kewibawaanya.

Mohon maaf bukan bermaksud untuk membuka luka yang telah sembuh. Tetapi bagi masyarakat Jawa Barat, ‘Tragedi Bubat’ telah mengajarkan bagaimana caranya menjaga kewibawaan dan kehormatan.

Ingat pepatah ini ‘ Tong Wawanianan ka Urang Jawa Barat. Urang Jawa Barat mah Hiji Oge Maung’

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.