Jumat, Maret 5, 2021

Cara Dunia Hiburan Mencipta Mitos

Mungkinkah Mempercepat Proses Izin Usaha Perikanan?

Dalam pertemuan dengan nelayan dalam rangka penyerahan Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) yang berlangsung di Istana Negara (30/1),...

Zina, Urusan Rumit yang Nikmat?

Ini dia pasal yang ditunggu-tunggu: perzinaan! Pasal yang nikmat untuk dibahas, tapi bikin perih negeri ini. Kepedihan juga dirasakan oleh segenap pemuka agama dan...

Pertemuan IMF, Hari Tani, dan Logika pasar

Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan IMF (International Monetary Fund) dan World Bank (Bank Dunia) yang rencananya akan digelar pada 8-14 oktober di bali. Pendanaanpun...

Kenormalan Baru Beragama Pasca Pegebluk

Musuh tidak nyata ini (Covid-19) telah mengambil kendali kehidupan. Tidak ada aspek kehidupan yang tidak terdampak, termasuk pola keberagamaan. Awalnya, umat Islam berharap wabah...
Muhammad Aswar
Tertarik pada multi kajian sains, seni dan agama. Menerbitkan tulisan secara berkala di user Award News, Kumparan.com

Masih ingat ketika Iwan Fals bertransformasi di tahun 2012 lalu? Setelah lama tak ada kabar, tiba-tiba muncul sebagai pengiklan sebuah merk baru kopi instan.

Pastinya kamu kecewa. Seperti saya yang mengaguminya; di kala kuliah dulu, mendengar atau memainkan musik Iwan Fals merupakan simbol perlawanan. Sejarah hidupnya yang harus diasingkan pemerintah karena protes lewat lagu, ternyata berakhir di tahun itu. Idiom “bongkar” yang dahulu disandingkan dengan penindasan, kesewenang-wenangan, turun ke jalan, runtuh menjadi “bongkar kebiasaan lama.” Sosok Asian Hero berakhir sebagai penjual kopi.

Iwan Fals tidak sendirian. Jika dirunut ke belakang, banyak artis yang telah melegenda, lantas muncul kembali sebagai sosok yang berbeda. Mary Pickford, nama yang melejit di Hollywood pada paruh pertama abad 20. Wajah chubby dan kekanak-kanakan menjadikannya idola peran anak umur 12 tahun, meski dalam film Little Annie Rooney yang umurnya ketika itu sudah 32 tahun. Suatu kali ia mencoba berperan sebagai orang dewasa, namun film tak laku di pasaran. Bukan karena permainannya yang buruk, tetapi karena penonton ingin melihat seorang ‘bintang’ yang bersinar lewat peran anak-anak.

Seorang artis adalah bintang. Sekali ia terbit di ufuk barat, para penonton tidak akan sudi melihatnya terbit di bagian langit yang lain, apalagi terbit di siang hari. Ia adalah suatu karakter dengan kepribadian yang terpujakan (celebrate). Ia juga seorang idola; idol di dalam bahasa Inggris berarti dewa. Tidak ada yang percaya jika dewa air berubah menjadi dewa petir.

Seorang bintang akan selalu dipuja, bahkan di luar perannya dalam film. Keseharian, foto, fans club, akun media sosial, gosip; semuanya berjalin untuk menahbiskan kehadirannya sebagai publik figur. Bintang film (juga musik) tidak hadir hanya sebagai pemain film. Memang pada awalnya mereka dikonstruksi untuk menjadi sosok yang ia bawakan di dalam film atau lagu-lagunya, namun akhirnya mereka harus hidup sesuai dengan sosok yang ia bawakan.

Dengan demikian seorang bintang sebetulnya memainkan peran dalam dua dunia, dan dalam dua dunia itu permainannya dibatasi: peran yang dimainkan dalam film terbatasi oleh kebintangannya. Peran yang dimainkannya sebagai “bintang film” terbatasi oleh peranannya dalam film—tentang dirinya sendiri, sebisa mungkin hal itu ditutupi, karena hanya akan menjadikannya “orang biasa” seperti semua orang lain, dan mereka yang terlanjur memujanya tidak ingin melihat fakta bahwa pujaan mereka sama konyolnya dengan diri mereka sendiri.

Dalam banyak kasus, seorang bintang tidak melulu tentang seberapa bagus perannya di dalam film, atau seberapa indah syair-syair lagu yang ia nyanyikan. Bintang dinilai lewat seberapa sosoknya bisa laku di pasaran. Mereka memang tidak perlu bakat, melainkan aura yang unik, misteri, suatu magnet yang akan terperagakan olehnya—dan supaya tampak alamiah, ternyata harus direkayasa.

Manusia pertama yang mendapat perekayasaan ini adalah Florence Lawrence, dan yang lebih penting adalah perekayasanya, yang tercatat bernama Carl Laemmle, seorang pemilik studio modern pertama. Pada tahun 1910, dalam rangka menghadapi konglomerasi Edison, ia mencoba teknik publikasi baru, yakni menyebarkan rumor dan polemik, yang semuanya dia tulis sendiri, tentang benar tidaknya Lawrence sudah meninggal.

Isu kematiannya mendadak misteri dan diperbincangkan seluruh kalangan. Carl Laemmle lalu meminta Lawrence muncul di sebuah stasiun kereta api. Dampaknya luar biasa. Lawrence dikerumuni oleh orang banyak, bahkan banyunya dirobek-robek untuk dijadikan cinderamata. Seorang bintang pun dilahirkan. Semenjak saat itu, siapa nama sang pemain film menjadi lebih penting ketimbang perannya dalam film.

Bukankah dunia hiburan sekarang dijalankan dengan cara demikian? Tanpa lelah, stasiun-stasiun televisi mengangkat perdebatan, yang kita sebut gosip, tentang artis. Sangat jarang kita dengarkan perbincangan tentang perannya di dalam film dan musik.

Iwan Fals pun tak luput. Kita tidak lagi memuja lantaran musiknya, tetapi bagaimana sosoknya dihadirkan sebagai seorang pemusik yang berani menentang pemerintah. Maka ketika ia hadir dalam sosok yang lain, bukan hanya sosoknya yang luntur, mendengar musiknya pun serasa ogah. Padahal tak ada yang berubah dalam musik, hanya sosoknya yang ada dalam kehidupan sehari-hari sebagai bintang.

Iwan Fals menjadi salah satu dari sekian banyak artis yang berakhir demikian. Beberapa bintang Hollywood seperti Greta Gustaffson dan Marlene Diettrich memilih untuk keluar dan menghilang. Ada pula artis yang tetap menjadi legenda, semacam Rudolph Valentino, aktor terbaik film bisu sepanjang masa, lantaran ia meninggal di usianya yang masih sangat muda, 31 tahun.

Namun, yang lebih tragis, para artis yang kalah dengan selebritasnya sendiri memilih untuk bunuh diri. Amy Winehouse,  Freddie Prince Jr, Cory Monteith, Robin Williams, dan yang paling terkenal adalah Marilyn Monroe yang tewas akibat overdosis. Bahkan hingga hari ini, semakin banyak artis, baik Korea Selatan dan India yang mengakhiri hidupnya, juga kebintangannya dengan bunuh diri. Peristiwa tragis ini akan terus berlanjut, selama dunia hiburan mencipta bintang film, bukan pemain film, dengan segala intrik dan gosipnya.

Begitu besar biaya yang harus dibayar dunia hiburan untuk menciptakan dewa-dewa baru, mitos-mitos baru, demi keberlangsungan pasar yang begitu menjanjikan. Dan bagi kita sebagai penonton, memiliki idola baru, dewa baru, untuk dipuja. Apa yang kita saksikan, apa yang kita dengar, tentu tidak sama indahnya dengan apa yang betul-betul dialami oleh legenda, idola, bintang kita itu.

Muhammad Aswar
Tertarik pada multi kajian sains, seni dan agama. Menerbitkan tulisan secara berkala di user Award News, Kumparan.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.